Fri. Feb 20th, 2026

Mengapa Umat Katolik Tidak Makan Daging pada Hari Jumat Selama Masa Prapaskah?

Daging babi panggang siap diiris-iris dan disajikan di Lapo Tampune, Ciluar, Bogor. (EDL)

Ini alasan sebenarnya di balik tradisi yang kerap disalahpahami—dan mengapa ikan justru mendapat tempat di meja makan.

Di tengah budaya modern yang serba praktis, tradisi umat Katolik untuk tidak makan daging pada hari Jumat selama Masa Prapaskah sering terasa seperti aturan kuno yang kehilangan makna. Mengapa harus daging? Mengapa justru ikan yang diperbolehkan? Dan mengapa Jumat begitu istimewa?

Jawabannya membawa kita jauh melampaui soal menu makan malam.

Jumat: Hari yang Tidak Pernah Biasa

Bagi umat Katolik, Jumat bukan sekadar akhir pekan yang dinanti. Sejak masa Gereja perdana, hari ini dikenang sebagai hari wafatnya Yesus Kristus di kayu salib. Setiap Jumat dipandang sebagai “Jumat Agung kecil”—hari untuk mengenang penderitaan dan kasih yang total.

United States Conference of Catholic Bishops (USCCB) menjelaskan bahwa umat Katolik sejak dahulu menguduskan hari Jumat sebagai hari pertobatan, menyatukan diri dengan penderitaan Kristus agar suatu hari dimuliakan bersama-Nya. Maka, pantang daging bukan sekadar larangan makanan, melainkan bahasa simbolis: sebuah cara sederhana untuk berkata, “Aku ingin berjalan bersama-Mu, Tuhan.”

Selama Masa Prapaskah—40 hari persiapan menuju Paskah—praktik ini menjadi lebih intens, khususnya pada Rabu Abu dan Jumat Agung.

Daging yang siap disajikan di Lapo Tampune, Ciluar, Bogor (EDL)

Mengapa Daging?

Untuk memahami pilihan ini, kita perlu menengok ke masa lampau. Dalam banyak budaya kuno, daging adalah makanan pesta. Seekor anak sapi tidak disembelih sembarangan. Daging identik dengan perayaan, kelimpahan, dan sukacita.

Bayangkan kontrasnya: hari yang dikenang sebagai hari kematian Kristus justru dirayakan dengan hidangan pesta. Rasanya janggal.

Karena itu, Gereja memilih daging sebagai bentuk kurban yang “terasa”. Melepaskan sesuatu yang bernilai dan lazim dianggap istimewa menjadi simbol pertobatan. Bukan karena daging itu buruk, tetapi karena ia melambangkan kenikmatan.

Menariknya, dalam beberapa kesempatan khusus, para uskup dapat memberikan dispensasi—misalnya ketika Hari Santo Patrick jatuh pada hari Jumat Masa Prapaskah, yang bagi banyak umat Katolik Irlandia merupakan hari raya besar.

Lalu Mengapa Ikan Boleh?

Di sinilah banyak orang terkejut. Dalam hukum Gereja, istilah Latin carnis merujuk pada daging hewan darat—seperti sapi, ayam, domba, atau babi. Burung pun termasuk dalam kategori ini. Namun ikan tidak pernah dimasukkan dalam definisi tersebut.

Ikan, amfibi, reptil, dan kerang dianggap kategori berbeda. Secara historis, ikan bukan makanan pesta, melainkan makanan sederhana para nelayan dan petani. Ia lebih dekat pada gambaran hidup bersahaja daripada kemewahan.

Dalam budaya modern, persepsi itu berubah. Ikan—bahkan lobster—bisa menjadi menu mahal. Di sinilah tantangannya: apakah kita sekadar mencari celah aturan, atau sungguh mencari makna?

Karena sejatinya, Gereja tidak bermaksud agar seseorang “mengakali” pantang dengan menikmati hidangan laut mewah setiap Jumat. Intinya bukan pada jenis proteinnya, melainkan pada sikap hati.

Lebih dari Sekadar Aturan

Pantang daging adalah latihan rohani. Ia sederhana, konkret, dan bisa dilakukan siapa saja. Namun tujuannya jauh lebih dalam: membentuk hati yang rela berkorban.

Di dunia yang mengajarkan kita untuk selalu memilih yang paling enak dan paling nyaman, Gereja justru mengajak kita berhenti sejenak dan berkata, “Hari ini, aku memilih untuk tidak.”

Pilihan kecil itu—menolak daging pada hari Jumat—menjadi doa tanpa kata. Ia menjadi pengingat bahwa kasih sejati selalu melibatkan pengorbanan. Bahwa di kayu salib, Yesus Kristus telah memberikan segalanya.

Maka ketika Gereja meminta kita berpantang, itu bukanlah aturan aneh dari abad pertengahan. Itu adalah undangan. Undangan untuk masuk lebih dalam ke dalam misteri kasih. Undangan untuk membiarkan pengorbanan kecil kita disatukan dengan pengorbanan terbesar dalam sejarah.

Dan mungkin, di situlah letak makna sebenarnya—bukan pada apa yang tidak kita makan, tetapi pada siapa yang kita ingat. (Aleteia)

Related Post