
Oleh Pater Kimy Ndelo, CSsR, Salam dari Biara Redemptoris Baclaran-Novena Church Manila, Filipina
Seorang rabi Yahudi dari aliran Hasidik, Levi Yitzhak dari Ukraina, pernah berkata bahwa ia belajar tentang arti kasih yang sesungguhnya dari dua orang pemabuk.
Suatu hari, ia mengunjungi sebuah kedai minuman di pedesaan Polandia. Di dalam kedai itu, ada dua orang pria yang sedang minum alkohol hingga mabuk. Sambil saling merangkul, keduanya tampak larut dalam kesedihan. Mereka mengungkapkan kasih satu sama lain.
Tiba-tiba, pria yang lebih tua berkata, “Peter, katakan padaku, apa yang menyakitiku?”
Heran mendengar pertanyaan aneh itu, Peter menjawab, “Bagaimana aku bisa tahu apa yang menyakitimu?”
Pria yang lebih tua itu segera membalas, “Jika engkau tidak tahu apa yang menyakitiku, bagaimana mungkin engkau berkata bahwa engkau mengasihiku?”
Dalam Injil hari ini, Yesus mengajarkan perintah yang paling utama berdasarkan pertanyaan seorang ahli Taurat: “Guru, hukum manakah yang terutama dalam Hukum Taurat?” (Mat. 22:36).
Ahli Taurat itu meminta Yesus merangkum seluruh Hukum Taurat dalam satu jawaban. Ini bukan perkara mudah. Mengapa?
Dalam tradisi Yudaisme pada zaman Yesus, terdapat dua kecenderungan. Di satu sisi, Hukum Musa dikembangkan menjadi ratusan aturan dan ketentuan yang terperinci. Di sisi lain, ada upaya untuk merangkum 613 hukum tersebut ke dalam satu atau beberapa prinsip utama.
Jika Yesus memberikan jawaban yang dianggap keliru, Ia bisa dituduh meremehkan Hukum Taurat karena mengutamakan hukum tertentu dan mengabaikan hukum-hukum lainnya.
Dalam tradisi Yahudi, terdapat 613 perintah dalam Taurat Musa: 248 perintah positif—apa yang harus dilakukan—dan 365 perintah negatif—apa yang tidak boleh dilakukan. Dalam pemahaman yang berkembang saat itu, semua perintah tersebut memiliki kedudukan penting.
Jawaban Yesus sederhana, langsung, dan berakar pada Kitab Suci. Ia mengutip dua hukum yang sudah dikenal dalam tradisi Yahudi.
“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu” (bdk. Ul. 6:5).
Lalu, Ia menambahkan perintah kedua: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Im. 19:18).
Bagi Yesus, kedua perintah ini merangkum inti kehidupan beriman. Kasih kepada Allah tidak dapat dipisahkan dari kasih kepada sesama. Kita mengasihi sesama dan diri sendiri sebagai bagian dari cara kita mengasihi Allah.
Allah menghadirkan sesama dalam hidup kita agar melalui mereka kita belajar mengasihi-Nya. Setiap hari, Allah menyapa dan menjumpai kita melalui orang-orang yang ada di sekitar kita.
Tanpa kasih kepada sesama, kasih kita kepada Allah bisa menjadi sekadar perasaan hampa. Sebaliknya, tanpa kasih kepada Allah, kasih kepada sesama bisa saja berubah menjadi kamuflase bagi kepentingan diri sendiri. (Reginald H. Fuller).
Kedua jenis kasih ini bagaikan dua sisi dari sekeping mata uang. Keduanya tidak dapat dipisahkan. Kasih bukan sekadar perasaan, melainkan tindakan nyata. Kasih bukan hanya kata sifat, melainkan kata kerja.
Namun, ada satu hal penting yang kerap kita lupakan: mengasihi dengan sungguh-sungguh berarti berusaha memahami apa yang melukai dan menyakiti orang lain
Kasih bukan hanya tentang melakukan hal-hal positif bagi sesama, tetapi juga tentang menghindari hal-hal yang dapat melukai mereka. Bukan hanya bertanya, “Apa yang bisa kulakukan untukmu?”, tetapi juga berani bertanya, “Apa yang telah kulakukan yang menyakitimu?”
Sebab, kita tidak bisa mengaku sungguh-sungguh mengasihi seseorang jika kita tidak pernah berusaha memahami luka yang ia rasakan.
Mungkin inilah salah satu ujian kasih yang paling nyata: bukan seberapa sering kita mengatakan “Aku mengasihimu”, melainkan seberapa sungguh kita berusaha memahami, menjaga, dan tidak melukai orang yang kita kasihi. (Renungan Minggu, 25/10/26)

