
Oleh Benyamin Mali, Dosen Unika Atma Jaya Jakarta, dan Katekis Senior
Bacaan Injil pada Hari Minggu Misi Sedunia ke-100, yang bertepatan dengan Hari Pangan Sedunia, berbicara tentang hak Kaisar dan hak Allah.
“Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah” (Mat. 22:21).
Apa Itu Hak dan Kewajiban?
Prinsip dasar kewarganegaraan ketika kita berbicara tentang hak dan kewajiban adalah sebagai berikut.
Pertama, apa yang menjadi hak rakyat merupakan kewajiban negara atau pemerintah. Sebaliknya, apa yang menjadi hak negara atau pemerintah merupakan kewajiban warga negara.
Kedua, keseimbangan antara hak dan kewajiban harus diupayakan. Keseimbangan itu tercipta ketika setiap orang mendahulukan pelaksanaan kewajibannya.
Kewajiban adalah tugas atau aktivitas yang harus dilaksanakan, sedangkan hak adalah sesuatu yang menjadi milik atau bagian yang patut diterima seseorang. Hak dapat dinikmati ketika kewajiban telah dilaksanakan.
Tetapi, Apa Itu Hak?
Dalam pengertian mendasar, hak berarti milik atau kepunyaan. Hakku berarti milikku, kepunyaanku.
Jika sesuatu merupakan milikku, sesuatu itu menjadi bagian dari apa yang kumiliki. Ketika sesuatu itu dirampas dariku, aku kehilangan sesuatu yang menjadi hakku dan menderita karenanya.
Dalam situasi seperti itu, aku tidak tinggal diam. Aku akan mengambil sikap, baik secara halus maupun tegas. Aku dapat membawa orang yang merampas milikku ke hadapan pihak berwenang—polisi, jaksa, atau pengadilan—agar hakku dipulihkan.
Mengapa? Karena orang yang merampas sesuatu tidak memiliki hak atas barang yang dirampasnya, meskipun secara fisik barang itu berada dalam penguasaannya.
Semua upaya itu dilakukan untuk menegakkan keadilan. Melalui keadilan, apa yang menjadi hakku dipulihkan dan keutuhan diriku kembali ditegakkan.
Dengan demikian, berbicara tentang hak berkaitan erat dengan penegakan keadilan. Hak dalam pengertian kepemilikan melahirkan hak moral dan hak legal atau hukum. Hak moral berkaitan erat dengan nilai-nilai kemanusiaan, sedangkan hak legal atau hukum berkaitan dengan ketentuan hukum positif suatu negara.
Apa Hak Kaisar?
Dalam konteks Injil hari ini, hak Kaisar adalah pajak, yang merupakan kewajiban warga negara.
Uang logam itu bergambar Kaisar. Karena itu, pajak harus dibayarkan kepada Kaisar atau negara.
Kewajiban membayar pajak harus dilaksanakan agar negara dapat menyelenggarakan pemerintahan, termasuk memenuhi hak-hak rakyat. Kewajiban ini tetap berlaku, terlepas dari apakah Kaisar atau pemerintah telah memenuhi hak-hak rakyat secara benar atau belum.
Apa Hak Allah?
Jika pembayaran pajak didasarkan pada gambar Kaisar yang tertera pada uang logam, pertanyaan kita tentang hak Allah adalah: gambar dan rupa siapa yang terpatri dalam diri kita?
Jawabannya: gambar dan rupa Allah. Kita diciptakan menurut gambar dan rupa Allah sendiri (Kej. 1:27).
Lalu, apa hak Allah dan apa kewajiban kita kepada-Nya?
Allah berhak atas diri kita seutuhnya: jiwa, raga, dan roh. Karena itu, kewajiban kita adalah menyerahkan diri seutuhnya kepada Allah.
Inilah yang disaksikan Bunda Maria ketika berkata: “Ecce Ancilla Domini. Fiat mihi secundum Verbum Tuum.” “Aku ini hamba Tuhan. Terjadilah padaku menurut perkataan-Mu.”
Hal serupa terungkap dalam moto apostolik Santo Yohanes Paulus II: “Totus Tuus ego sum, et omnia mea tua sunt.” – “Aku sepenuhnya milik-Mu, dan segala milikku adalah milik-Mu.”
Keadilan Sejati Berawal dari Allah
Keadilan sejati yang dirindukan manusia baru akan terwujud apabila kita terlebih dahulu memberikan kepada Allah apa yang menjadi hak-Nya.
Pertama, jika kita telah menyerahkan diri seutuhnya kepada Allah (Totus Tuus), kita akan belajar menghayati keadilan sejati.
Di tengah kelimpahan, pangan tersedia. Makanan yang kita miliki bukan semata-mata untuk dinikmati sendiri, melainkan juga merupakan pemberian Allah yang harus dibagikan kepada mereka yang lapar.
Di sinilah letak makna perayaan Hari Pangan Sedunia yang bertepatan dengan Minggu Misi Sedunia. Kita dipanggil untuk menyadari bahwa berkat yang kita terima bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk sesama yang membutuhkan.
Kedua, jika kita telah menyerahkan diri kepada Allah, kita akan semakin memahami kerinduan agar semua bangsa mengenal-Nya.
Semua bangsa berhak mendengar Kabar Gembira Injil tentang kerahiman Allah. Karena itu, pewartaan Injil bukan sekadar tugas segelintir orang, melainkan panggilan untuk menghadirkan kasih Allah kepada seluruh umat manusia.
Inilah makna perayaan Minggu Misi Sedunia yang bertepatan dengan Hari Pangan Sedunia: menyerahkan diri kepada Allah sekaligus mewujudkan kasih-Nya melalui kepedulian terhadap sesama dan pewartaan Injil.
Pada akhirnya, kita belum dapat menikmati keadilan sejati apabila kita sendiri belum berlaku adil kepada Allah dengan memberikan kepada-Nya apa yang menjadi hak-Nya.

