
BATAM – Mereka bekerja tanpa banyak bicara. Waktu, tenaga, pikiran, bahkan risiko mereka berikan untuk membantu para migran dan pengungsi.
Mereka adalah para relawan. Keberadaan mereka mendapat apresiasi khusus dari Uskup Keuskupan Pangkalpinang, Mgr. Andreas Sunarko OFM.
“Inilah jiwa semangat para relawan,” kata Mgr. Sunarko dalam khotbah pada Perayaan Ekaristi di Pacific Palace Hotel, Batam, Minggu malam, 20 September 2026.
Perayaan Ekaristi itu menjadi puncak Seminar Internasional Minggu Migran dan Pengungsi Sedunia 2026.
Seminar mengangkat tema “Dari Kerentanan Menuju Martabat: Mewujudkan Migrasi yang Aman dan Teratur”.
Perayaan Ekaristi dipersembahkan untuk menjunjung martabat para migran, pekerja migran, dan pekerja maritim.
Mgr. Sunarko mengatakan, seminar yang berlangsung sejak siang itu ditutup dengan Ekaristi karena memiliki makna khusus.
“Luar biasa. Meski lama mengikuti seminar dari siang dengan pembicara yang banyak memberikan informasi tentang tema yang juga sangat penting, kita merasa perlu menutup, mengakhiri, atau memuncakinya dengan Perayaan Ekaristi,” ujarnya.
Menurutnya, Ekaristi berarti puji syukur.
Salah satu hal yang patut disyukuri dalam konteks kehidupan para migran dan perantau adalah kehadiran para relawan.
Ia bahkan mengajak umat melihat kembali makna kata “relawan”.
“Bahasa Indonesia memiliki kosakata yang bagus terkait dengan migran dan pengungsi, yaitu relawan. Orang-orang yang rela,” katanya.
Bagi Mgr. Sunarko, kerelaan itu penting. Terutama di tengah kehidupan para migran dan perantau yang penuh tantangan.
“Saya kira itu satu hal penting yang perlu disyukuri di dunia sekitar migran dan perantau. Banyak relawan yang bersedia memberikan waktu, tenaga, dan pikirannya untuk terlibat dalam dunia yang rumit ini,” tuturnya.
Ia kemudian menyebut kata lain yang menurutnya tak kalah menarik: sukarelawan.
“Relanya itu dengan suka hati. Jarang saya dengar sedihrelawan atau dukarelawan,” ujarnya disambut tawa umat.
Menurutnya, istilah tersebut menggambarkan kerelaan para relawan yang hadir dan terlibat dalam pelayanan bagi para migran.
“Sukarelawan itu yang perlu kita syukuri di tengah dunia migran dan perantau,” katanya.
Pesan itu disampaikan Mgr. Sunarko di hadapan lebih dari seribu umat dari berbagai paroki di Keuskupan Pangkalpinang.
Indonesia dan Semangat Kerelaan
Mgr. Sunarko juga menyinggung sebuah survei tentang kesediaan masyarakat berbagai negara membantu orang yang mengalami kesulitan.
Menurut dia, Indonesia termasuk dalam kelompok masyarakat dengan tingkat kerelaan yang tinggi untuk membantu, khususnya ketika terjadi bencana.
“Kita sedang ada banyak bencana, terakhir ini di Flores, NTT,” katanya.
Ia mengaku mendapat cerita dari sejumlah uskup di wilayah Flores yang terdampak bencana.
Yang mereka kagumi, kata dia, adalah spontanitas masyarakat di akar rumput.
Masyarakat bergerak membantu satu sama lain. Bahkan lintas agama.
“Itu juga kita syukuri dalam perayaan Ekaristi ini,” ujarnya.
Mgr. Sunarko mengatakan, dirinya juga mengalami langsung besarnya peran relawan dalam kehidupan Keuskupan Pangkalpinang.
“Betapa banyak relawan-relawan yang memungkinkan Keuskupan Pangkalpinang hidup dan berkembang,” katanya.
Rela dan Murah Hati
Mgr. Sunarko kemudian menghubungkan semangat kerelaan itu dengan bacaan Injil tentang para pekerja di kebun anggur. Ada pekerja yang datang pukul 09.00. Ada yang datang pukul 12.00. Ada yang datang pukul 15.00. Bahkan ada yang baru datang pukul 17.00. Namun, mereka semua mendapat upah yang sama, satu dinar.
Menurut Mgr. Sunarko, yang penting dari kisah itu adalah sikap pemilik kebun anggur.
Ketika pekerja yang datang lebih awal memprotes, pemilik kebun anggur menjawab bahwa ia berhak memberikan upah sesuai kemurahan hatinya.
“‘Iri hatikah engkau? Karena aku murah hati.’ Pemilik kebun anggur ini rela memberi lebih dari yang seharusnya,” jelasnya.
Rela dan murah hati, kata dia, merupakan pesan penting dari bacaan tersebut.
Ada satu hal lain yang menarik. Pekerja yang baru datang pukul 17.00 masih diberi kesempatan bekerja.
“Untung juga, ya, jam 5 sore masih ada penganggur dan dia beri pekerjaan. ‘Pergilah kamu ke kebun anggurku,’” katanya.
Menurut Mgr. Sunarko, kondisi pengangguran juga berkaitan dengan kerentanan para migran.
“Mungkin kalau tidak dapat kerja bisa ditangkap para perekrut perdagangan orang karena mereka masuknya dari kemiskinan,” terangnya.
“Demi Kamu”
Pesan tentang kerelaan itu juga ditemukan Mgr. Sunarko dalam bacaan kedua.
Bacaan tersebut mengisahkan Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Filipi.
“Bagiku hidup adalah Kristus, mati adalah keuntungan. Aku didesak dari dua pihak. Aku ingin pergi dan diam bersama Kristus, tetapi demi kamu…” demikian kutipannya.
Menurut Mgr. Sunarko, Paulus sebenarnya sudah ingin bersama Kristus. Namun, ia memilih tetap tinggal karena merasa masih berguna bagi orang lain.
“Rasul Paulus sudah selesai tugas-tugas di dunia, tetapi dia masih rela demi kamu, demi migran dan perantau, demi siapa pun juga di dunia ini,” katanya.
Paulus, lanjutnya, memaknai hidup dengan semangat untuk tetap berguna bagi orang lain.
“Itu yang pantas kita syukuri dari refleksi hari ini,” ujarnya.
Menemukan Sukacita
Pada akhir khotbahnya, Mgr. Sunarko kembali mengajak umat bersyukur.
Di tengah dunia migran dan perantau yang keras, masih banyak orang yang bersedia memberikan diri.
Mereka memberikan waktu. Memberikan tenaga. Bahkan berani menghadapi berbagai risiko.
Semua itu dilakukan untuk membantu mereka yang menderita.
“Sukarelawan,” katanya.
“Mudah-mudahan kita diberi kesempatan dan pengalaman keberanian untuk menjadi relawan-relawan, mungkin dalam hidup sehari-hari yang sederhana. Karena di sanalah kita akan menemukan sukacita yang sejati,” pungkasnya. (*/tD)

