
Suasana khidmat mulai terasa ketika perarakan patung Bunda Maria memasuki arena. Para frater berjalan mendahului patung dengan lentera di tangan, diiringi lantunan lagu Ave Maria. Cahaya lentera dan alunan lagu menciptakan suasana hening di tengah arena yang dipenuhi umat.
Di bawah langit sore Jakarta, perhatian ribuan umat tertuju pada perarakan tersebut. Langkah demi langkah mengawali sebuah perjalanan doa yang mempertemukan umat dari berbagai latar belakang dalam satu devosi kepada Bunda Maria.
Doa Rosario dipimpin oleh Romo Koko Joni SCJ. Secara bersama-sama, umat mendaraskan doa demi doa dengan penuh kekhusyukan. Suara mereka berpadu, memenuhi ruang Indonesia Arena, menghadirkan suasana doa yang terasa kuat di tengah kerumunan besar.
Salah satu kekhasan dalam Rosario kali ini adalah penggunaan berbagai bahasa daerah. Doa-doa dipanjatkan dalam Bahasa Jawa, Bahasa Ende, Bahasa Papua, dan Bahasa Ambon.
Keberagaman bahasa tersebut menghadirkan warna tersendiri dalam perayaan, sekaligus memperlihatkan bagaimana doa yang sama diungkapkan melalui kekayaan budaya yang berbeda.
Meski berasal dari berbagai daerah, umat mengikuti setiap rangkaian doa dengan khidmat.
Perbedaan bahasa tidak menjadi penghalang untuk berdoa bersama. Sebaliknya, setiap bahasa menjadi bagian dari ungkapan iman yang berpadu dalam satu peristiwa.
Suasana semakin terasa ketika umat diajak menyalakan lampu ponsel masing-masing. Perlahan, cahaya-cahaya kecil bermunculan dari berbagai sudut arena. Ribuan titik cahaya menerangi ruang, menghadirkan pemandangan yang indah dan menyentuh di tengah lantunan doa.
Cahaya dari ponsel-ponsel itu menjadi bagian dari suasana kebersamaan sore tersebut. Di tengah arena yang luas, umat tidak hanya hadir sebagai individu yang berdoa, tetapi juga sebagai bagian dari komunitas yang mengangkat doa secara bersama-sama.
Rangkaian Rosario kemudian ditutup dengan nyanyian Maria Regina. Lagu itu mengiringi akhir perayaan doa bersama yang berlangsung di Indonesia Arena Senayan.
Pada Sabtu sore itu, panas Jakarta menjadi latar bagi perjumpaan ribuan umat dalam doa. Dari perarakan patung Bunda Maria dengan lentera, lantunan Salam Maria dalam berbagai bahasa daerah, hingga cahaya ponsel yang menerangi arena, Rosario menjadi momen kebersamaan yang merangkul keberagaman dalam satu doa. (tD/EDL)

