Fri. Apr 3rd, 2026

Mencium Salib: Antara Luka Manusia dan Kasih Allah yang Tak Pernah Menyerah

Terima kasih Tuhan Yesusku!

Oleh Budiyanto Delima, Pelaku Bisnis, Pelayan Gereja dan Komunitas

Di hari Jumat Agung, kita datang satu per satu menghampiri salib. Kita menunduk. Kita menyentuh. Kita mencium.

Mencium Salib!
Sederhana di mata, penuh makna dalam hati.
Momen yang sangat pribadi.

Di mata dunia, “salib” adalah lambang kegagalan.
Kesepian Getsemani.
Pengkhianatan Yudas.
Penolakan Petrus.
Hasutan Imam Kepala.
Teriakan massa.
Pilatus yang memilih aman.
Namun justru dalam peristiwa paling pahit itulah, kasih Allah tidak pernah sirna.

Ketika kita mencium salib, kita seperti berkata:
“Tuhan, terkadang aku tidak setia. Tapi Engkau selalu setia.”

“Mencium” adalah tanda cinta.
Kita tidak mencium karena salib itu indah.
Kita mencium karena Dia yang tergantung di sana telah lebih dahulu mencintai kita sampai menyerahkan diri-Nya.

Mungkin kita datang membawa beban: kegagalan usaha, konflik keluarga, rasa lelah yang tak terlihat, dikejar pinjol dan luka pelayanan.
Saat bibir kita menyentuh salib, sebenarnya kita sedang meletakkan semua itu di sana.
Dan “salib” tidak menolak.

Di kayu salib itu, penderitaan tidak dihapus secara ajaib, tetapi diberi makna.
Air mata tidak dihilangkan, tetapi disertai dan dikuatkan.

Hari ini kita tidak merayakan kematian.
Kita merayakan kasih yang tidak menyerah.
Kasih yang tidak menyerah – bukan kasih yang mudah goyah oleh situasi.
Kasih yang tidak menyerah – kasih yang setia dalam pengorbanan.

Refleksi:
Mungkin saat ini kita juga sedang berada di ‘salib’ kecil kita masing-masing:
dalam keluarga, pekerjaan, pelayanan dan relasi.

Pertanyaannya bukan lagi: “Apakah aku masih sanggup berkorban?”
Melainkan: “Apakah aku mau tetap setia dalam pengorbanan ini?”

Di awal, memberi itu terasa mulia, niat masih lurus.
Seiring waktu berjalan, kenyataan berubah: tidak dihargai, tidak dipahami dan mungkin dilupakan.
Di titik itulah pengorbanan diuji.
Karena di sanalah kasih menjadi nyata – bukan saat mudah, tetapi kasih yang tetap memberi, walau bertepuk sebelah tangan.

Maka ketika kita mencium salib, biarlah itu bukan sekadar tradisi tahunan.
Namun, jadikan suatu keputusan: untuk tetap mengasihi, tetap setia, tetap percaya —
meski hidup belum sempurna.
Karena dari salib yang sunyi ini, Tuhan sedang berkata pelan kepada kita:
“Aku tidak turun dari salib, karena kasih-Ku kepadamu tidak pernah menyerah.”*

Related Post