
Oleh Benyamin Mali, Katekis dan Dosen Unika Atma Jaya Jakarta
“Dari iri hati lahirlah dengki, fitnah, ujaran penghinaan, kegirangan akan kesengsaraan sesama, dan menyesalkan keberuntungannya.” (Santo Gregorius Agung)
Ada kalanya kita merasa hati kita tidak benar-benar “jahat”, namun diam-diam keruh. Kita tidak melukai secara langsung, tetapi dalam batin muncul rasa tidak nyaman melihat orang lain berhasil.
Bahkan, tanpa disadari, ada semacam kelegaan kecil ketika orang lain jatuh. Di situlah kita mulai memahami betapa dalam dan halusnya akar iri hati dalam diri manusia.
Ungkapan Santo Gregorius Agung membuka mata kita: iri hati bukan sekadar perasaan ringan, melainkan benih yang dapat tumbuh menjadi berbagai sikap negatif—dengki, fitnah, hingga kegembiraan atas penderitaan sesama. Ini bukan hanya masalah moral, tetapi juga cermin dari hati yang belum berdamai dengan dirinya sendiri.
Jika kita jujur, iri hati sering lahir dari kebiasaan membandingkan diri. Kita melihat hidup orang lain yang tampak lebih baik, lebih berhasil, lebih bahagia, lalu diam-diam bertanya, “Mengapa bukan saya?”
Pertanyaan tersebut, jika dibiarkan, berubah menjadi luka. Luka itu semakin dalam ketika kita mulai menyesali diri, merasa kurang, merasa tidak cukup, bahkan menolak diri apa adanya.
Di balik itu semua, tersembunyi ketidakpuasan yang halus namun kuat. Kita terlalu fokus pada apa yang tidak kita miliki, hingga lupa melihat apa yang sudah ada dalam hidup kita.
Kita mengarahkan pandangan ke luar, bukan ke dalam. Akibatnya, hidup terasa seperti perlombaan yang tidak pernah selesai—selalu ada orang lain yang tampak lebih unggul.
Barangkali, cara kita dibentuk sejak kecil turut memengaruhi hal ini. Jika kita tidak dibiasakan untuk bersyukur, tidak diajak melihat nilai dalam hal-hal sederhana, maka kita tumbuh dengan ukuran hidup yang selalu “kurang”. Kita belajar mengukur diri dari luar, bukan dari dalam.
Namun refleksi ini tidak berhenti pada kesadaran akan masalah. Ia juga mengajak kita pulang—kembali kepada diri sendiri. Sebuah undangan sederhana namun mendalam: belajar menerima bahwa “Saya adalah saya.” Bahwa hidup ini bukan tentang menjadi seperti orang lain, melainkan menjadi diri sendiri secara utuh.
Bersyukur menjadi kunci yang sering terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya menuntut latihan yang panjang.
Bersyukur berarti mengubah cara pandang: dari kekurangan menuju kelimpahan, dari iri menjadi apresiasi.
Ketika kita mampu melihat hidup sebagai anugerah, maka keberhasilan orang lain tidak lagi mengancam, melainkan menginspirasi.
Demikian pula, melatih empati dan kasih sayang—baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain—membantu kita keluar dari lingkaran perbandingan.
Kita belajar memahami bahwa setiap orang memiliki perjuangan dan jalannya masing-masing. Tidak ada dua kehidupan yang benar-benar sama.
Pada akhirnya, refleksi ini mengajak kita untuk hening sejenak, masuk ke dalam diri, dan bertanya dengan jujur: “Apa yang sebenarnya membuat saya merasa kurang?”
Dari keheningan itu, kita belajar berharap. Bahwa dalam setiap kekurangan, selalu ada kemungkinan untuk bertumbuh. Bahwa hidup tidak harus sempurna untuk menjadi bermakna.
Dan mungkin, di sanalah damai itu mulai tumbuh—ketika kita berhenti membandingkan, mulai menerima, dan perlahan belajar mensyukuri hidup apa adanya.

