Thu. Apr 16th, 2026

Hasil Pendidikan Bukan Sekadar Ijazah: Kritik Tajam dari Uskup Timika

Uskup Keuskupan Timika, Mgr. Bernardus

TIMIKA – Pendidikan sejatinya tidak sekadar soal bangku sekolah, ijazah, atau mencetak tenaga kerja. Lebih dari itu, pendidikan merupakan jalan pembebasan manusia—keluar dari “ruang gelap” menuju terang martabat dan kemanusiaan. Gagasan ini menjadi pesan utama yang disampaikan Bernardus Bofitwos Baru saat membuka Lokakarya Pendidikan di Timika.

Dalam pemaparannya, Uskup Bernardus menyoroti bahwa pendidikan harus dimaknai sebagai paideia, konsep yang diperkenalkan oleh Plato, yakni proses berkelanjutan untuk membentuk manusia secara utuh. Pendidikan juga dipahami sebagai peristrophe—upaya memalingkan kehidupan manusia menuju kebenaran sejati.

Secara etimologis, pendidikan berasal dari kata educare, yang berarti “memberi makan” sekaligus “menarik keluar.” Menurut Uskup, mendidik berarti memberi nutrisi bagi jiwa melalui ilmu, moral, dan spiritualitas, sembari menggali potensi terpendam setiap anak.

Namun demikian, ia mengkritik keras arah pendidikan saat ini yang dinilai terjebak dalam ideologi ekonomi. Pendidikan cenderung menitikberatkan aspek intelektual semata, sambil mengabaikan dimensi afektif dan keterampilan praktis. Metode hafalan pun masih mendominasi dibandingkan pemahaman kritis dan analitis.

Salah satu fenomena yang disorot adalah “penyakit kepegawaian”—mentalitas mengejar gelar akademik demi status sosial dan jabatan, bukan karena kecintaan pada ilmu. Dampaknya, muncul praktik jual-beli ijazah dan lahirnya pemimpin dengan daya kritis yang lemah.

Di lapangan, persoalan pendidikan di wilayah Keuskupan Timika juga tidak kalah serius. Uskup mengungkapkan rendahnya kualitas guru, keterbatasan sarana-prasarana, serta lemahnya manajemen lembaga pendidikan sebagai faktor utama kemerosotan mutu pendidikan.

Situasi semakin memprihatinkan di wilayah konflik seperti Intan Jaya, Dogiyai, dan Deiyai. Konflik bersenjata menyebabkan pengungsian dan terhambatnya proses belajar-mengajar. Ribuan anak, termasuk di wilayah pesisir seperti komunitas Kamoro, terancam kehilangan akses pendidikan yang layak.

“Kita sedang menghadapi ancaman loss generation. Apakah kita akan diam saja?” tegasnya.

Sebagai langkah konkret, lokakarya ini menetapkan lima agenda utama untuk merevitalisasi pendidikan di bawah Yayasan Pendidikan Persekolahan Katolik (YPPK).

Kelima agenda tersebut meliputi pembelajaran dari praktik baik, evaluasi menyeluruh, penataan ulang manajemen, penyusunan grand design pendidikan, serta penguatan kolaborasi dengan pemerintah daerah dan pihak swasta, termasuk PT Freeport Indonesia.

Mengutip pemikiran Y.B. Mangunwijaya, Uskup menegaskan bahwa guru bukanlah sosok yang paling tahu, melainkan fasilitator dan pembimbing. Peran utama guru adalah membantu peserta didik menemukan dan mengembangkan potensi unik mereka.

Ia menutup dengan penegasan bahwa pendidikan sejati berakar pada cinta kasih. “Menjadi pendidik adalah panggilan untuk mencintai, bukan sekadar mengajar,” ujarnya.

Lokakarya ini diharapkan menjadi titik balik bagi pendidikan di Papua Tengah, membuka jalan agar anak-anak di wilayah pegunungan dan pesisir tidak hanya memiliki mimpi, tetapi juga kemampuan untuk mewujudkannya. (tD/*)

Related Post