


Sebuah pohon cemara merah setinggi 25 meter kini berdiri di Lapangan Santo Petrus. Tahun ini, pohon tersebut berasal dari daerah Val d’Ultimo di provinsi Bolzano, dan dihibahkan oleh kotamadya Lagundo dan Val d’Ultimo, yang terletak di Italia utara.
Provinsi Bolzano terkenal akan keindahannya yang luar biasa, dipenuhi danau, hutan, pegunungan, dan padang rumput. Setelah pemeriksaan menyeluruh, petugas kehutanan memilih pohon tersebut.
Sesuai tradisi, selain pohon utama, 40 pohon yang lebih kecil juga akan dibawa ke Vatikan dan ditempatkan di berbagai kantor dan gedung Takhta Suci.
Uskup Ivo Muser dari Bolzano-Bressanone menjelaskan, “Penebangan pohon bukanlah tindakan tidak hormat, melainkan hasil dari pengelolaan hutan yang cermat, di mana penebangan pohon merupakan bagian dari strategi perawatan aktif yang menjamin kesehatan hutan dan mengendalikan pertumbuhannya.”
Di wilayah Tyrol Selatan—lokasi kedua kota tersebut—reboisasi dipandang lebih dari sekadar proyek sederhana. Sebagaimana dicatat oleh uskup, reboisasi merupakan praktik yang mapan dan landasan pengelolaan hutan lestari. Untuk setiap pohon yang ditebang, ditanam pohon baru, memastikan hutan yang sehat dan tangguh untuk generasi mendatang.
Salah satu perspektif ramah lingkungan ini adalah bahwa setelah Natal berakhir, minyak esensial akan diekstraksi dari cabang-cabang pohon oleh perusahaan Austria, Wilder Naturprodukte.
Kayu yang tersisa akan disumbangkan ke sebuah organisasi amal untuk dimanfaatkan kembali, sesuai dengan prinsip-prinsip pengelolaan lingkungan.
Tradisi pohon Natal Vatikan dimulai pada tahun 1982 oleh Paus Yohanes Paulus II ketika beliau menerima sebuah pohon Natal sebagai hadiah dari seorang petani Polandia, yang membawanya jauh-jauh ke Roma.
Sejak saat itu, persembahan Pohon Natal kepada Paus telah menjadi suatu kehormatan, dan setiap tahun Vatikan menerima sebuah pohon yang disumbangkan oleh negara atau wilayah Eropa yang berbeda. (Vatican News)


