Mgr Dr Paul Budi Kleden SVD, Uskup Agung Ende , Sosok Cerdas dan Bersahaja

Simply da Flores, Alumnus STF Driyarkara, Jakarta

Paus Fransiskus telah memilih dan menetapkan Pater Dr Paulus Budi Kleden, SVD sebagai Uskup Agung Ende beberapa waktu lalu. Umat Keuskupan Agung Ende dan Flores menyambut gembira.  Dari sosial media, banjir ucapan selamat, doa dan harapan kepada Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD.

Kesahajaan dan Kecerdasan Pribadi

Pater Budi Kleden, SVD, putra Waibalun – Flores Timur adalah seorang yang sangat sederhana penampilannya. Santun dalam bertutur kata, ramah kepada semua orang, murah senyum dan bisa bersahabat dengan siapa saja.

Dalam keseharian dengan teman seminari saat di SMA San Dominggo Hokeng,  dia dikenal kecerdasan pikirannya dalam semua mata pelajaran, tetapi tidak sombong dalam pergaulan sehari-hari.

Hal yang sama terpatri dalam pribadinya ketika di seminari tinggi dan menjadi calon imam Serikat Sabda Allah. Semua rekan komunitas memberi kesaksian tentang kesahajaan pribadi Pater Budi.

Dalam tugas panggilannya sebagai imam, dosen dan terakhir sebagai Superior General SVD, Pater Budi Kleden tetap berpenampilan sederhana, melayani dengan penuh kasih, murah senyum kepada semua orang.

Menarik, ketika melihat video pengumuman tentang pemilihan dirinya sebagai Uskup Agung Ende, oleh rekan imam di biara induk SVD, dia melipat tangan dan senyum kecil sambil menunduk. Hemat saya, itu adalah ekspresi kerendahan hati akan kepercayaan dan tugas baru sebagai Uskup.

Karena kesahajaan dan kesederhanaan adalah bagian kepribadiannya, maka ada harapan besar bahwa umat Keuskupan Agung Ende akan dilayani dengan penuh kasih dan kesahajaan. Dia akan mendengar, mengenal dan memahami umat dengan hati dan kecerdasannya. Tidak berlebihan, jika mengatakan bahwa Pater Budi dianugerahi kecerdasan emosi, pikiran, nurani dan spiritual yang istimewa. Dia juga seorang pendoa dan kontemplatif aktif.

Harapan Pembebasan bagi Umat KAE

Latar belakang umat di Keuskupan Agung Ende, yang meliputi Keuskupan Larantuka, Maumere, Ruteng, Sumba dan Denpasar adalah kentalnya pengaruh adat budaya lokal. Iman umat tumbuh bersamaan dengan khasanah spiritual serta sosial budaya adat. Keadaan alam pun bervariatif, dari yang kering gersang hingga yang subur sejuk segar.

Umumnya umat bermata pencaharian petani dan sedikit nelayan serta peternak  Dari segi ekonomi, kebanyakan masih miskin dan sangat sederhana untuk memenuhi kebutuhan pokok. Salah satu solusinya adalah dengan merantau, tetapi dari solusi itu pun lahir banyak terjerat masalah seperti TPPO.

Sekarang, dengan kemajuan transportasi serta teknologi informasi, maka tantangan pun semakin berat. Khususnya soal pendidikan, kesehatan dan lapangan kerja.

Dengan konteks demikian, kegiatan pastoral bagi umat di wilayah Keuskupan Agung Ende diharapkan bisa memberikan pembebasan bagi multi aspek dalam kehidupan zaman now.

Pembebasan pertama adalah stigma kafir terhadap adat budaya lokal, yang pernah disematkan pada awal pewartaan Injil di wilayah Keuskupan Agung Ende. Disinyalir bahwa umat pada umumnya dalam diam  tetapi tetap menjalankan dua otoritas spiritual. Tetap menjalankan ajaran gereja tetapi sekaligus ritual adat budaya. Bahkan umumnya, dugaan saya, kegiatan ritual adat dan agama dilakukan karena takut. Salah satu alasannya adalah takut bertanya dan takut berdosa.

Pembebasan kedua adalah kondisi kemiskinan dan kebodohan. Keadaan sekarang banyak anak  generasi muda tidak dapat mengakses pendidikan secara maksimal, karena mahal biaya dan ekonomi keluarga lemah. Jika bisa menyelesaikan pendidikan tinggi, peluang kerja terbatas, sehingga banyak yang menganggur setelah mendapat ijasah. Rentetan lanjutnya adalah berbagai masalah sosial. Apalagi tagihan adat budaya masih kuat dalam kehidupan sehari-hari.

Pembebasan ketiga adalah belenggu modernisme dan digitalisasi yang mencengkeram totalitas diri umat. Perkembangan jumlah penduduk makin meledak, sumber daya alam yang terbatas dan kemampuan ekonomi yang lemah.

Dengan kondisi itu, umat pun tidak mampu menghadapi tantangan zaman untuk membangun kemandirian. Pesatnya kemajuan zaman tidak sebanding dengan kemampuan adaptasi dan kecerdasan umat untuk membangun kesejahteraan diri.

Dalam kondisi demikian, sungguh diharapkan kebijakan Pastoral kontekstual yang mumpuni serta kolaborasi dengan multi pihak. Kerjasama lintas organisasi sosial budaya serta khususnya kerjasama dengan pemerintah lokal. Dengan demikian, semboyan gereja Indonesia “100% warga gereja – 100% warga negara, semakin bisa diwujudkan.

Gembala yang Istimewa dan Andal

Tidak berlebihan jika menyebut Pater Budi Kleden adalah “Gembala yang istimewa dan andal”. Beliau istimewa karena sahaja dan sederhana, ramah dan humanis serta tekun dalam doa,. Saya menyebutnya, beliau sebagai seorang “kontemplatif aktif” – berkontemplasi dalam karya-karyanya di tengah dunia melalui tugasnya sebagai imam, dosen, pengamat sosial politik, teolog dan kritikus sastra.

Pater Budi juga istimewa karena berpengalaman belajar dan mengenal berbagai daerah, baik di Flores hingga mancanegara. Beliau studi di Eropa, pernah menjadi pimpinan tertinggi Serikat Sabda Allah, hingga saat terpilih menjadi Uskup Agung Ende.

Penulis produktif ini istimewa karena memiliki kecerdasan intelektual hampir semua bidang ilmu. Beliau tekun belajar dan memang mempunyai talenta kecerdasan sejak lahir . Sejauh saya ingat saat di SMA Seminari Hokeng, nilai seluruh mata pelajaran jarang di bawah angka delapan. Hampir semuanya angka 9 dan 10. Dan sekali lagi dicatat, bahwa Budi Kleden tetap sahaja dan rendah hati, murah senyum penuh keakraban dengan semua teman. Tidak pernah saya jumpai selama bersama di SMA, melihat dia marah.

Proficiat Pater Budi Kleden, SVD. Selamat menjalankan tugas panggilan yang baru sebagai Uskup Agung Ende. Doa dan kesahajaanmu pasti bisa menyatukan dirimu dengan Kuasa Kasih Allah untuk mewartakan Sabda-Nya kepada umat Keuskupan Agung Ende dan dunia.

Kami doakan agar dirimu menjadi gembala yang baik dalam persatuan dengan Sang Gembala Agung.