Budi Kleden, Ende, dan “Kebun Vanila”

Pater Charles Beraf, SVD, Pastor Paroki Detukeli, Ende

Kabar tentang terpilihnya uskup baru Ende, Mgr Paul Budi Kleden, SVD sampai ke telingaku saat saya sedang membetulkan tajar vanilla di kebun Paroki Roh Kudus Detukeli. Mengejutkan? Sedikit saja reaksi itu. Budi, dari kaca mata saya sejak dulu, layak menjadi uskup. Seorang yang rendah hati, cerdas, juga seorang yang bisa diajak untuk masuk “ke kebun”.

Alasan lain, Budi memang dibesarkan dari rahim Keuskupan Agung Ende (KAE): mengenyam pendidikan di STF Ledalero dan kemudian menjadi dosen pada almamater itu (ketika STF Ledalero masih ada dalam wilayah KAE), pernah menjadi anggota dewan Provinsi SVD Ende sebelum terpilih sebagai Superior Jenderal SVD.

Minggu lalu ketika beliau mengirimkan kepada saya dan Pater Yohan Wadu (Zarathustra) dokumen tentang sepak terjang SVD dalam perfilman di Indonesia, saya memang dibayang-bayangi pikiran entahkah Budi yang nota bene imam kongregasi bisa menjadi uskup di Ende dihadapkan pada semacam pandangan di antara segelintir konfrater SVD untuk memprioritaskan “uskup dari imam diosesan”, ya gereja lokal KAE sudah sangat mampu untuk melahirkan seorang uskup. Tapi toh mendengar kabar sore ini, saya toh akhirnya sampai pada pandangan bahwa memang Budi sudah dibesarkan dari rahim gereja lokal KAE dan karena itu, “layak”.

Budi sekarang bukan hanya milik SVD, tapi lebih dari itu, dia adalah milik KAE. Pelampauan ini, hemat saya, amat missioner. Budi, mungkin di kalangan sebagian besar konfrater SVD, dipandang layak lagi untuk terpilih sebagai Superior Jenderal dalam Kapitel Jenderal SVD mendatang. Namun mau bagaimana? Roh menuntunnya ke Ende, kembali ke rahim, kembali di tengah umat KAE yang sebagian besar adalah para petani dan peternak yang sedang dihadapkan dengan aneka persoalan: kekacauan iklim, gagal panen/tanam, ASF dan lain lain.

Apakah Budi bisa diajak “ke kebun” para petani? Apakah Budi bisa membuang langkah ke kandang para peternak? Apakah Budi bisa berbau ala para domba di keuskupan ini?

Saya mengenal Budi cukup dekat. Dia ketika pertama kali menjadi dosen di STF Ledalero, mengasuh mata kuliah Teodice, perihal penderitaan dan angkatan kami mahasiswa pertamanya.

Dia mengajar tanpa buku, tetapi amat sistematis – hal yang cukup kuat memberi gambaran bahwa Budi memang menjiwai “dunia penderitaan” dengan kaca mata teologis-filosofis dan sastrawi yang tajam.

Ketika saya mendirikan KMK (Kelompok Menulis di Koran Ledalero), saya meminta beliau untuk menjadi moderator bagi para penulis pemula (Ve Nahak, Bill Halan, Willy Gaut, dll) yang masih tambal sulam dalam hal menulis dan Budi mengiyakan.

Hasilnya, “tahi kucing bisa terasa seperti coklat”. Ya, yang sederhana di mata kebanyakan orang, toh bagi Budi, bisa jadi sangat luar biasa.

Budi memang dikenal banyak orang lewat artikel-artikelnya, selain beberapa karya berupa buku. Di harian lokal Pos Kupang dulu, Budi, seingat saya, amat setia menulis. Banyak artikelnya (artikelnya pertama di harian itu “perihal hukuman mati”) –menggambarkan cukup jelas betapa Budi amat peduli dengan persoalan-persoalan sosial. Tapi tidak cuma artikel. Tidak cuma buku. Tidak cuma di ruang kelas. Budi juga seorang pegiat sosial.

Seingat saya, ketika RUU SISDIKNAS menjadi hal kontroversial dan diskriminatif (saat itu saya menjabat sebagai Wakil Ketua Senat mahasiswa STF), Budi mendorong kami para mahasiswa untuk bergerak, menggelar demonstrasi memperjuangkan hak pendidikan bagi kaum minoritas.

Budi dikenal. Ya. Tetapi beliau juga mudah sekali mengenal orang. Hemat saya, dia, di kalangan para formator dan dosen, paling banyak mengenal frater – mahasiswa. Sekali kenal, tetap terkenang (sulit lupa). Itu sebabnya dia selalu dikenang oleh para mahasiswa sebagai dosen yang rendah hati, yang kapan saja dan di mana saja bisa berbaur dengan siapa saja (tak peduli dari kalangan mana).

Dengan sejumput kualitas mengagumkan di atas, apakah Budi nanti bisa diajak “ke kebun” para petani atau “kandang” para peternak di KAE?

Sejumput harapan sedang ada di benak para awak dan umat KAE agar Budi memang benar-benar mengemban tugas kegembalaan yang berkonteks. Budi dibesarkan dari rahim KAE, dan tentu saja kita berdoa dan berharap agar gereja Keuskupan Agung Ende dengan visi “menjadi gereja yang injili, solider, missioner dan mandiri” sungguh nyata dalam derap kegembalaan sang Uskup Baru.

Selamat datang Uskup Baru, Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD. Kami semua menantimu dengan doa dan harapan yang penuh.

Salam dari Kebun Vanila Gereja Kajuoto, Detukeli!