Pensiunan Pastor Redemptoris yang Tuli dan Buta Ini Masih Lakukan Evangelisasi dan Melukis

Pastor Cyril Axelrod masih menyebarkan Firman Tuhan, terutama melalui internet. Dia pun mengatakan bahwa disabilitasnya adalah sebuah anugerah.

Pastor Cyril Axelrod adalah seorang pensiunan pastor tunarungu dan buta yang masih menyebarkan Sabda Tuhan terutama melalui internet. Anggota Serokat Redemptoris atau CSsR ini telah berusia 80 tahun. Dia tinggal di London, tempatnya melakukan pelayanan pastoral di antara orang-orang yang, seperti dia, tidak dapat mendengar atau melihat.

Disabilitas sebagai cara hidup

Tentang keadaan buta dan tuli yang ia alami, Pastor Cyril mengatakan, itu telah menjadi cara hidup baru. “Bagi saya ini telah menjadi cara hidup baru yang menawarkan arah baru. Tentu ada rasa frustrasi yang harus diatasi, tetapi juga mengalami banyak kegembiraan dan tantangan baru. Bisa dibilang, kondisi saya yang tuli dan buta telah menjadi guru terpenting dalam hidup saya.”

Pastor Cyril tidak buta sejak lahir. Ia terlahir tuli dan diketahui menderita Sindrom Usher, yang menyebabkan dia kehilangan penglihatannya secara bertahap saat dewasa.

“Malaikat diutus dari Tuhan”

Pastor Cyril berbicara tentang ketulian dan kebutaannya sebagai “hadiah dari Tuhan”. Ia mengatakan, penyandang disabilitas, terutama anak-anak, adalah “malaikat yang diutus oleh Tuhan” untuk mengajarkan “pelajaran tentang cinta tanpa syarat, kepercayaan, harapan, iman, dan kedamaian batin” kepada mereka yang berbadan sehat.

Dalam wawancara tahun 2012 dengan Mark Reidy dari The Record, outlet berita Keuskupan Agung Perth, Australia, dia mengatakan, “Karena pengalaman saya sendiri, saya dapat terhubung dengan orang-orang. Saya dapat menceritakan perjuangan saya dalam menghadapi kesepian dan keterasingan serta membantu orang lain untuk menerima diri mereka sendiri sebagai orang yang tuli dan buta serta memperbaiki sikap mereka terhadap diri sendiri. Saya juga dapat memberi tahu orang tua mereka bahwa mereka tidak perlu takut – bahwa mereka telah diberi hadiah. Semoga saya bisa menjadi jembatan yang mendekatkan dunia ini.”

Ketertarikannya dalam membantu anak-anak tunarungu terlihat sangat berani selama apartheid di negara asalnya, Afrika Selatan. The Record melaporkan bahwa  Pastor Cyril mengadvokasi hak-hak anak-anak kulit hitam yang tunarungu pada masa rasisme dan segregasi yang mengerikan itu.

Kemudian, ia juga bekerja untuk membantu anak-anak di Tiongkok yang mengalami ketulian dan kebutaan yang dianggap sebagai “beban dan sumber rasa malu bagi keluarga” sehingga dikucilkan dan disembunyikan.

Mungkin fakta bahwa Pastor Cyril Axelrod yang dilahirkan dalam keluarga Yahudi yang miskin membantunya untuk lebih sadar akan buruknya prasangka dan kekerasan terhadap mereka yang dianggap berbeda.

Reporter Mark Reidy menjelaskan bahwa sebelum menjadi Katolik, Cyril Axelrod yang berusia 15 tahun mencoba menjadi seorang rabi, namun ditolak karena ketuliannya. Dia bersekolah di sekolah Katolik dan akhirnya merasa terpanggil untuk menjadi seorang Katolik, dan menjadi pastor.

Bertemu dengan Paulus VI

Dalam perjalanan hidupnya, imam Redemptoris ini dilaporkan telah bertemu dengan tiga Paus, yang kepadanya ia telah menyampaikan “gaya” dan “konsepsi” tentang disabilitas.

Pertama kali terjadi pada tahun 1971, beberapa bulan setelah penahbisannya, ketika penyakitnya belum memengaruhi penglihatannya, jelas sebuah artikel di La Stampa. Dalam otobiografinya And the Journey Begins (Dan Perjalanan Dimulai), Pastor Cyril Axelrod mengenang pertemuannya dengan Paulus VI, mengatakan bahwa ketika Paus Paulus VI mendengar namanya, dia tersenyum dan wajahnya berseri-seri.

Air mata Paus

Paus mengatakan kepadanya bahwa dia telah diberitahu tentang penahbisannya oleh uskupnya, dan bahwa Pastor Cyril Axelrod adalah pastor tuna rungu pertama yang ia temui.

Paus memeluknya dan menyebutkan betapa besarnya anugerah yang diberikan ibu dari Pastor kepada Gereja. (Semula ibunya menolak pertobatan Pastor Cyril Axelrod, namun akhirnya bersedia dan hadir pada penahbisannya.)

Paus kemudian memberkatinya, dengan mengatakan, “Pergi dan beritakan kasih Tuhan kepada orang tuli.” Pastor Cyril Axelrod sangat tersentuh dengan pertemuan dengan Paus ini, yang ia lihat sebagai “tanda keajaiban yang Tuhan sediakan untuknya,” lapor La Stampa.

Tahun 2014, Pastor Cyril bertemu Paus Fransiskus saat audiensi kepausan dengan Gerakan Apostolik untuk Tunanetra dan Misi Kecil untuk Tunarungu.

Dia berbicara dengan Paus tentang disabilitas sebagai anugerah Tuhan kepada dunia, dan keduanya berpelukan. The Southern Cross, sebuah publikasi di Afrika Selatan, melaporkan bahwa pastor tersebut mengulangi tindakan tersebut ketika dia bertemu Paus Fransiskus untuk kedua kalinya, pada tahun 2016 selama Tahun Kerahiman.** (Aleteia)