Pengusaha Jamu Nasional, Irwan Hidayat: Para Dokter Harus Belajar tentang Obat-obatan Alami

22
Irwan Hidayat

Perusahaan Jamu Sidomuncul dengan salah satu produknya Tolak Angin tidak pernah berhenti berinovasi agar jamu memberi manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat. Irwan Hidayat, pengusaha nasional, dengan Sidomunculnya mengadakan “roadshow” dalam bentuk seminar di fakultas-fakultas kedokteran di Indonesia.

Bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya (Unsri), pada 31 Agustus 2023 Sidomuncul  menggelar seminar yang ke-49 bertajuk Pemanfaatan Obat Herbal Menuju Indonesia Sehat. Kegiatan ini diikuti kurang lebih 300 mahasiswa dan digelar di gedung Azwar Agoes Fakultas Unsri, Palembang.

Dengan seminar ini, Sidomuncul mengajak semua elemen masyarakat, terutama para dokter untuk menjadikan jamu sebagai tuan rumah di negeri sendiri.

Menurutnya, produk jamu semestinya menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Namun, di pandangan Irwan, ada beberapa hal yang membuat tuan rumah itu tidak terlaksana.

Pertama, para dokter tidak paham mengenai jamu dan tidak mempelajari tentang kekhasiatan, kegunaan dan penggunaan bahan-bahan obat alami untuk pengobatan. Kedua, tentang bahan-bahan alam yang digunakan. Lalu ketiga, yang dibutuhkan adalah bahan yang sudah terstandardisasi.

“Kalau dokternya paham soal bahan alam, kemudian Sidomuncul sudah mengeluarkan obat-obat, misalnya kunyit, jahe, daun dewa, dan bahan-bahan lain yang standardisasi, dan ketiga ada uji toksisitas, jadi minimalnya pengujian toksisitas untuk menentukan dosis yang tepat bagi pasien. Saya rasa impian jamu obat herbal menjadi jamu tuan rumah di negeri sendiri akan terwujud,” ujarnya.

“Kalau ada tiga hal itu yakni dokternya harus belajar tentang obat-obat alam, kedua standardisasi dan ketiga uji toksisitas,” tegas Irwan.

Wakil Rektor Perencanaan dan Kerja Sama Unsri Profesor Dr. M Said mengatakan bahwa penggunaan obat herbal dalam dunia medis adalah sebagai salah bentuk menuju Indonesia sehat. Sebab obat medis yang selama ini digunakan oleh dokter hanya berasal dari bahan kimia, yang dalam waktu panjang bisa menimbulkan efek buruk terhadap manusia.

“Sebenarnya herbal ini yang paling diminati masyarakat dibandingkan obat kimia lainnya. Agak mengerikan memang kalau berbicara tentang kimia,”katanya saat membuka acara seminar Pemanfaatan Obat Herbal Menuju Indonesia Sehat.

Said mengaku bahwa Unsri pada tahun 2006 telah menyusun road map penelitian terkait tanaman herbal yang ada di Sumsel. Dari hasil penelitian di 10 Kabupaten/Kota, terdapat 150 jenis tanaman herbal yang sering digunakan masyarakat.

Namun, kata dia, tanaman herbal itu tidak dibudidayakan secara massal karena kurangnya pemahaman masyarakat terkait khasiat dari tanaman itu.

Dengan hasil penelitian tersebut, kata Said, Unsri akan bekerja sama dengan Sidomuncul untuk mendorong budidaya tanaman obat herbal di masyarakat sehingga tanaman itu dapat dibudidayakan.

Sementara itu, Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen, Kesehatan dan Kosmetik BPOM, Reni Indriani mengatakan, di Indonesia terdapat 3.000 spesies tumbuhan obat tradisional.

Obat tradisional selama ini hanya dikenal masyarakat sebagai jamu. Namun, seiring perkembangan teknologi, penggunaan jamu itu sebenarnya dapat dikemas menjadi lebih baik, karena sari tanaman diekstrak dalam bentuk saset sehingga bisa dinikmati semua kalangan.

“Jamu adalah identitas lokal Indonesia yang secara turun temurun punya manfaat. Setiap tahun, teknologi terus berkembang, sehingga penyajian jamu ini tidak lagi sulit,” katanya saat menyampaikan melalui daring. (*)