Nasib Akibat Politik Uang: “Kamu Nanya? Kamu Bertanya-tanya?”

Emanuel Dapa Loka, Pengamat sosial, Warga Desa Piero, Wewewa Barat, SBD

Demokrasi dengan segala kelemahan dan kekuatannya (secara teoritis dan mestinya juga praktik) telah menempatkan rakyat pada posisi terhormat. Kita mengenal adagium atau ungkapan klasik Vox Populi Vox Dei, suara rakyat adalah suara Tuhan. Dan prinsip ini semestinya sangat connect dengan rakyat yang mengaku ber-Tuhan.

Pemilu di negara yang menjunjung demokrasi selalu mementingkan partisipasi masyarakat. Makanya sering dikatakan, tingkat partisipasi rakyat menentukan tinggi rendahnya legitimasi sebuah keputusan, termasuk tingkat legitimasi seseorang yang terpilih.

Lantas, apa sesungguhnya yang rakyat dapatkan dari posisi terhormat tersebut? Melalui mekanisme demokrasi, justru dengan memberikan suaranya secara benar dan cermat, dia mendapatkan kehormatan itu. Semestinya, seseorang memberikan suaranya karena dia tahu dan yakin bahwa orang yang dipilihnya bisa menjaga kehormatan suaranya yang oleh ahli demokrasi “disejajarkan” dengan suara Tuhan itu.

Jangan korbankan anak-anak ini, Kawan. Mereka ingin maju!

Jaga Kehormatan

Bagaimana pemilih bisa tahu bahwa orang pilihannya mampu menjaga “kehormatannya” sebagai sebagai pemilik suara? Tidak ada cara lain, selain berusaha mengenal sang calon. Cari tahu siapa dia.

Kalau dia sudah pernah menduduki posisi tertentu, misalnya kursi anggota DPRD, cari tahu, apa yang sudah dia lakukan dengan posisi yang amat strategis itu untuk rakyat yang telah memberikan suaranya (yang juga suara Tuhan itu) kepadanya?

Lalu kalau dia belum pernah duduk di kursi anggota DPRD, telusuri bagaimana kelakuannya kepada keluarga, tempatnya bekerja, keterlibatannya dalam masyarakat atau komunitas. Orang ini membawa dampak positif atau tidak? Jangan sampai dia justru menjadi sumber masalah oleh karena karakternya yang tidak mau tahu dengan orang lain.

Mau tahu dengan orang lain merupakan poin penting yang harus dimiliki seorang wakil rakyat.

Seorang anggota legislatif harus mau dan mampu terlibat dalam kehidupan masyarakat. Bagaimana mau menuntut kepeduliannya kalau dia tidak mau tahu atau “malas tahu”?

Hal lain yang tidak boleh dilewatkan adalah tingkat pendidikan, wawasan dan buah-buah dari penerapan atas ilmu dan wawasannya. Bisa saja seseorang adalah sarjana ilmu pertanian, namun oleh karena minatnya pada bidang politik, dia justru berkembang di politik. Nah! Apa buah-buah yang telah ia hasilkan dan berdampak baik secara sempit maupun luas?

Masyarakat Kampung Kalelekedu yang masih dalam kegelapan.

Tanggung Jawab

Dengan ajakan mengenal calon tersebut, bisa saja ada yang katakan, lebih baik kerja di kebun daripada menghabiskan waktu untuk menelusuri calon. Tapi, itulah cara paling terhormat mempertahankan posisi sebagai rakyat (yang suaranya “sejajar” dengan suara Tuhan itu. Ini sebentuk tanggung jawab juga!

Cara yang paling mudah untuk mengetahui, apakah seseorang benar-benar menghargai rakyat (sekali lagi yang suaranya “sejajar” dengan suara Tuhan), ketika dia tidak berusaha membayar rakyat untuk memilihnya. Tindakan membayar atau menyogok rakyat agar memilihnya adalah tindakan melecehkan dan merendahkan martabat rakyat.

Yakinlah, integritas orang semacam ini, setelah mendapatkan kursi atau posisi, sangat diragukan. Rakyat yang memilih dengan alasan mendapat bayaran, juga sudah kehilangan alasan etis untuk menagih janji.

Dengan kata lain, “sang terpilih” tidak punya waktu dan hati lagi untuk kembali ke masyarakat atau ke kampung-kampung sebab pikiran, energi dan hatinya sudah tersita memikirkan hal lain untuk mengembalikan biaya atau energi untuk “membeli” suara rakyat itu.  Sementara itu, rakyat secara spontan “tahu diri” dan tidak punya nyali lagi untuk meminta pelayanan, walau tanpa diminta, pelayanan itu bersifat wajib.

Nah! Pengalaman semacam ini, diakui atau tidak sudah terjadi berkali-kali, dan berkali-kali pula disesali.

Apakah masih akan dilanjutkan dengan akibat atau hasil yang sama dari masa ke masa?

Mari Mulai Baru

Sudah saatnya kita tinggalkan cara-cara tidak etis dan sekaligus tidak bermoral tersebut. Tidak ada orang lain yang bisa mengubah. Dua aktor utama, yakni Caleg dan rakyat harus bertobat dan mulai baru.

Terutama rakyat, Pemilu adalah saat amat bernilai untuk rakyat menunjukkan nilai dan martabat sebagai manusia yang hidup di alam demokrasi. Dan untuk seorang Caleg, Anda diandaikan memiliki wawasan dan nalar yang baik. Berpikir dan mulailah belajar merasa.

Tindakan membayar atau money poltics atau politik uang itu adalah tindakan sadar untuk menjerembabkan rakyat sekaligus diri Anda ke jurang. Lalu siapa yang Anda berdua minta keluarkan dari jurang? Kata anak gaul, “Kamu nanya? Kamu bertanya-tanya?”