Cerita Zainuri, Mantan Tukang Nasi Goreng Waitabula, yang Kini jadi Tukang Ojol di Palmerah

325
Ahmad Zainuri, ketika jadi "Tukang Nasi Greng" di Waitabula, ingin adakan beasiswa untuk anak-anak.

Memenuhi undangan teman saya Mayong Suryolaksono, mantan anggota Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) untuk ketemuan sekaligus santap malam di Plaza Senayan, Jakarta bersama teman-teman wartawan, saya berusaha sok lincah memacu kendaraan dari Kranggan menuju Stasiun Bekasi.

Saya cepat-cepat memarkir kendaraan di stasiun lalu naik kereta menuju Stasiun Palmerah, untuk selanjutnya dengan Ojol menuju Plaza Senayan.

Saya harus berganti kendaraan sebab hari itu, Selasa, 4 April 2023 adalah tanggal genap, sementara kendaraan saya ganjil. Daripada berhadapan dengan masalah, ya saya naik kereta saja. Toh, kereta “peninggalan” Ignatius Jonan memberikan pelayanan yang baik, tepat waktu dan tidak kenal macet.

Mayong, mantan wartawan Majalah Intisari, dan kini menjadi wartawan Antara, mengabari agar saya tidak usah buru-buru sebab restoran-restoran masih terisi penuh oleh orang-orang yang berbuka puasa bersama atau Bukber. Info Mayong ini melegakan hati, sebab saya  selalu merasa tersiksa kalau tidak tepat hadir dalam sebuah acara.

Nah! Inti yang saya mau katakan, ada di paragraph ini dan selanjutnya. Turun dari kereta di Stasiun Palmerah. Saya mendekati seorang tukang ojek konvensional untuk minta diantar ke Plaza Senayan. Tahu-tahu, dia sebut ongkos yang “tidak masuk akal”.

Mungkin, dia kira saya orang baru di Jakarta. Dia sebut, tiga atau empat kali lebih dari ongkos Ojol. Serta merta saya katakan, “Nggak usah! Nggak jadi”. Sering sekali saya ketemu manusia seperti ini.

Dengan cepat saya pesan Ojol. Hanya dalam hitungan 5 atau 7 menit, Ojol sudah di depan saya. “Pak Emanuel, ya…?” tanya tukang Ojol itu. Iya, jawabku. Lalu saya naik. “Bapak dari NTT, ya?” tanya tukang Ojol itu lagi. Tentu saya jawab “Iya”. Dia lalu bertanya, “NTT mana? Sumba, ya?”

Saya makin penasaran, “Siapakah tukang Ojol ini? Kemudian giliran saya bertanya, “Mas pernah ke Sumba? Dan kerja apa di sana, atau hanya main saja?”

Dia menjawab bahwa di pernah jadi Tukang Nasi Goreng di sekitar rumah jabatan Bupati Sumba Barat Daya (SBD), NTT. Akunya, nasi goreng buatannya laris manis, bahkan Markus Dairo Talu atau MDT mantan Bupati SBD langganan makan nasi goreng racikannya.

Kornelis Kodi Mete, Bupati SBD juga kerap kali menikmati nasi goreng buatannya.

Suasana Kota Jakarta kala tidak macet. (EDL)

Inti Cerita

Nah! Hal paling inti yang hendak saya katakan, ada di paragraph ini. Sejak awal tukang nasi goreng itu berjualan di Waitabula, dia langsung mengerahkan kemampuannya untuk melakukan pengamatan dengan cermat agar bisa membantu masyarakat setempat. Hati nuraninya menggerakkan dia setelah melihat profil anak-anak sekolah di Waitabula.

O iya, nama Ojol itu Ahmad Zainuri. Masih tergolong muda. Kalau tidak salah dengar saat ngobrol di atas motor, Zainuri pernah berbincang dengan Bupati Kodi Mete seputar pengelolaan lokasi UMKM di lokasi dia berjualan.

Melihat jualannya laris, Zainuri lalu mengusulkan ke Kodi Mete agar di tempat itu dibuatkan sepuluh tempat  berjualan makanan. Dia usulkan pula, agar dari sepuluh “tukang makanan” yang menggunakan tempat itu ditarik uang kebersihan sebesar 150 ribu rupiah.

Bagi Zainuri, uang 1,5 juta yang terkumpul setiap bulan, pasti tidak habis untuk kebersihan. Sisanya menurut dia, ditabung dan dalam hitungan beberapa bulan berikutnya sudah bisa memberikan beasiswa untuk anak-anak sekolah yang sangat membutuhkan.

“Saya sudah rasakan hasil jualan di situ. Maka saya kira harus ada yang dibagikan kepada mereka yang membutuhkan. Saya langsung ingin berbuat sesuatu,” kata Zainuri.

Mendengar semangatnya, Bupati Kodi Mete sempat bertanya serius padanya, “Sebenarnya kamu ini siapa? Kok bisa mikir sampai ke sana?”

Zainuri hanya berkata, “Saya hanya mau membantu, Pak. Saya bukan siapa-siapa.”

Sebensarnya, Zainuri sudah mau mulai merealisasikan keinginannya tersebut. Namun, gagal terealisasi karena Ibunya sakit. Dia harus pulang kampung untuk menjenguk dan merawat ibunya. Dia tidak kembali lagi ke Sumba.

“Saya dengar, Bupati Kodi Mete mau jalankan ide kecil saya itu. Semoga sukses dan banyak anak sekolah terbantu dari niat kecil ini,” katanya dari balik helm.

Perjumpaan pun selesai. Saya pasti tidak menghafal muka Zainuri, tapi saya yakin hatinya tulus. Kami lalu bertukar nomor Ponsel.

Sukses Zainuri dengan pekerjaan barumu sebagai Ojol di Jakarta. Anda pasti bisa taklukkan kota Jakarta yang acap tidak ramah ini. (Emanuel Dapa Loka)