Imajinasi adalah Sayap, Koruptor Manusia tanpa Imajinasi

Oleh Emanuel Dapa Loka, Wartawan, tinggal di Bekasi

The man who has no imaginations, has no wings to fly, begitu adagium terkenal dari petinju legendaris Muhammad Ali.

Bagi Ali, imajinasi itu sangat penting, sebab dengan itu, siapa pun bisa terbang bebas ke mana saja. Pada gilirannya, dari imajinasi positif, akan lahir sesuatu yang luar biasa. Terbukti, aneka produk daya imajinasi positif telah mengguncang dunia.

Tanpa imajinasi Thomas Alva Edison, dunia yang kita diami hari ini masih gelap gulita. Imajinasinya akan hal-hal yang bisa terjadi kemudian membuat Thomas Alva Edison tidak berputus asa melakukan eksperimen demi eksperimen sampai akhirnya ia berhasil menemukan lampu pijar yang menerangi dunia.

Konon, baru pada percobaan ke-1.000, Thomas Alva Edison berhasil menciptakan lampu pijar yang benar-benar menyala dengan terang.

Ya, imajinasi Thomas Alva Edison telah menerangi seantero dunia ini. Atau tanpa imajinasi Leonard Kleinrock, sang penemu internet, kita masih terkungkung dalam batas-batas dunia yang mustahil kita tembus.

Atau satu lagi, tanpa komputer hasil cipta dan imajinasi Charles Babbage, kita masih berkutat dalam kerja-kerja manualistik.

Imajinasi akan membawamu ke mana-mana, juga ke antara mereka yang mesti ditolong.

Koruptor Tak Punya Imajinasi

Hari ini, banyak orang yang abai pada kekuatan imajinasi, karenanya perlu diingatkan kembali. Dengan kekuatan imajinasi, siapa pun bisa membayangkan akibat dari setiap tindakan yang ia lakukan. Andai seorang koruptor atau calon koruptor menghidupkan imajinasinya, niscaya di pelupuk matanya akan terbayang wajah mereka yang layu karena kurang gizi atau malah gizi buruk.

Akan terlihat dengan jelas pula anak-anak dengan tulang rebis yang menonjol ke luar tertidur tanpa atas di atas jalanan berdebu atau mereka yang stress karena tidak bisa melanjutkan sekolah karena tidak ada biaya, dan masih banyak lagi.

Sayangnya, koruptor di negeri ini masih saja mendapat kesempatan untuk menjadi makhluk istimewa, bahkan seakan-akan malaikat. Lihat saja berbagai pihak masih memerjuangkan agar mantan koruptor tetap ikut serta dalam pencalegan atau menempati jabatan-jabatan strategis lainnya.

Menjadi anggota legislatif merupakan kesempatan untuk memberikan perhatian atau membela nasib orang-orang yang diwakilinya. Pertanyaannya, bagaimana mungkin orang yang sudah terbukti berkelakuan busuk bisa dipercaya mewakili sedemikian banyak orang? Dia sendiri tidak bisa mengurus dirinya agar terbebas dari kejahatan luar biasa itu? Berimajinasilah sejenak!

Korupsi, seperti halnya tindakan memerkosa anak di bawah umur, dan tindak pidana penyalahgunaan narkotika dan psikotopika, tergolong extraordinary crime atau kejahatan luar biasa.

Karenanya, para pelaku harus dieliminasi dari aktifitas melayani publik, apalagi yang bersifat legislasi. Mengapa? Nanti, oleh karena statusnya sebagai wakil rakyat, dari tangan dan moralnya yang telah bangrut itu akan lahir UU yang mengatur kehidupan publik dalam hidup bernegara. Di mana atau seperti apa wibawa UU yang dihasilkannya?

Korupsi Mematikan

Sekarang adalah masa-masa seleksi Caleg. Jika ingin memberantas korupsi dan memperbaiki martabat politik di hadapan rakyat, maka Parpol tidak bolh mengakomodasi mantan koruptor untuk menjadi Caleg.

Korupsi di negeri ini sungguh telah merusak dan melemahkan semangat bersama sebagai bangsa. Telah merasuk ke mana-mana. Negara semacam Yunani bangkrut, terutama karena korupsi di kalangan pejabat negara telah menjadi wabah yang mematikan.

Menurut saya, memberi kesempatan kepada para koruptor untuk nyaleg adalah kejahatan luar biasa tersendiri.

Jika akhirnya upaya meloloskan nafsu para koruptor untuk menjadi pejabat publik, termasuk menjadi legislator berhasil, maka resmilah sudah bahwa bangsa ini telah gagal melawan korupsi.