Insan Keluarga Besar Sumba akan Gelar Natal Bersama dalam Adat Sumba

222
Orang Sumba di perantauan tidak melupakan budaya mereka. Foto dari acara Natal Bersama IKBS beberapa tahun lalu di Jakarta.

 

Orang-orang Sumba, NTT yang tersebar di Jabodetabek dan Bandung yang tergabung dalam Insan Keluarga Besar Sumba (IKBS) akan melaksanakan Natal Bersama selama dua hari di Gedung BHK Sport Hall, Kota Wisata, Cibubur pada 14 dan 15 Januari 2023. Pelaksanaan Natal Bersama kali ini ditangani DPC Bogor.

Uniknya, pesta tersebut dilaksanakan dalam budaya Sumba.

Pada hari pertama beberapa kelompok dan pribadi membawa hewan kurban berupa babi dan kerbau hidup.

Rombongan akan datang dalam jumlah yang banyak sambil membawa hewan yang telah dihiasi diiringi gempita nyanyian dan tarian.

Mereka yang membawa hewan dijemput dengan “oka” berupa pekik dan seruan pertanyaan atas maksud dan tujuan kedatangan. Semuanya dalam syair-syair adat.

Sejauh informasi yang media ini dapatkan, DPP IKBS dibawah koordinasi Hermanus Malo Dona dan Celestino Reda akan membawa seekor kerbau.

Kolonel Gerardus Maliti akan membawa seekor babi dalam kerangkeng (wawi koro dana) pada 14/1 sore. Masih ada beberapa pihak lain yang membawa babi.

Pada 14/1 sore, hewan-hewan tersebut akan disembelih dalam tata cara adat orang Sumba. Daging dari hasil penyembelihan ini akan disantap bersama pada 15 Januari 2023.

Saiso Kisah Kelahiran Yesus

Pada malam hari pertama akan diadakan saiso, yakni pagelaran nyanyian “semalam suntuk” dalam syair-syair adat Sumba diiringi bunyi gong yang ditabuh lamat-lamat.

Khusus dalam saiso pada Natal bersama tersebut, Agustinus Tamo Ama selalu Rato Saiso, akan menyanyikan kisah kelahiran Yesus Kristus dalam syair-syair adat Sumba, khususnya etnis Waijewa.

Dalam pelaksanaan saiso, akan ada  beberapa orang yang akan berdialog dengan Rato Saiso menggunakan syair-syair adat seputar kisah yang disampaikan dalam saiso.

Hermanus Malo Dona, Ketua Umum IKBS kepada tempusdei.id menjelaskan, tujuan dari perayaan Natal Bersama tersebut dimaksudkan agar orang-orang Sumba di perantauan tidak melupakan akar budayanya.

“Terutama agar anak-anak muda atau anak-anak yang lahir di kota mengenal budaya mereka. Ini kebudayaan kita, ini warisan nenek moyang yang harus kita jaga dan kembangkan,” kata Hermanus.

Celestino Reda, Sekum IKBS melihat semangat mempertahankan adat budaya Sumba di rantauan sebagai tanda bahwa orang Sumba tetap teguh dengan budayanya di tengah gempuran banyak budaya lain.

“Kita tentu saja terbuka dengan budaya lain karena memang kita berada dalam perlintasan banyak budaya, tapi kita juga harus pertahankan budaya Sumba sebagai identitas kita,” katanya bersemangat.

Untuk melaksanakan acara yang menyedot dana cukup besar ini, anggota IKBS sesuai dengan kerelaan dan kemampuannya masing-masing memberikan sumbangan.

Gerakan menyumbang semacam ini bagi IKBS sudah merupakan hal yang biasa.

Selain untuk mengadakan acara semacam ini, IKBS juga secara insidental mengumpulkan dana bila ada anggotanya yang membutuhkan bantuan akibat sakit atau meninggal.

Di bawah koordinasi pengurus, IKBS bahkan sering mengirim pulang jenazah warganya kembali ke Sumba.

“Kalau ada yang meninggal dan keluarga di Sumba minta supaya jenazah anak mereka dipulangkan, dengan segala keterbatasan, kita bantu memulangkan. Saya salut untuk warga IKBS, selalu siap bergotong-royong, membantu saudara mereka” kata Hermanus. (tD/EDL)