Ketika Orang Sangat Takut Lihat Tulisan “Gereja” lalu Menyobek-nyobeknya

404

Oleh Emanuel Dapa Loka

Bencana akibat gempa bumi dengan 5,6 skala richter mengguncang Cianjur pada pada 21 November 2022.

Dibanding kekuatan gempa di beberapa tempat sebelumnya, kekuatan gempa di Cianjur lebih kecil, tetapi korbannya sangat banyak. Banyak anak-anak telah menjadi korban.

Menurut catatan  Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nasional (BNPT) seperti dilansir Antara pada Minggu, 27/11, gempa tersebut telah menyebabkan 321 orang meninggal dan memaksa 73.874 orang mengungsi.

Bencana yang sama telah menyebabkan kerusakan 62. 828 rumah, 398 sekolah, 164 rumah ibadah dan 16 gedung kantor mengalami kerusakan.

Atas bencana tersebut berikut akibatnya, simpati dari berbagai pihak secara lintas batas: suku, agama, ras dan sebagainya berdatangan.

Kita berkeyakinan bahwa rasa simpati itu digerakkan oleh Tuhan sendiri. Dan tentu saja, semua ini bisa meringankan beban para korban.

Yang mengecewakan, di tengah menggelombangnya simpati publik, ada perilaku tak terpuji di lokasi bencana. Ada yang menghadang bala bantuan. Ada juga yang menyobek-nyobek nama lembaga penyumbang yang dilekatkan pada tenda pengungsi.

Diberitakan, aksi premanisme penghadangan sudah ditangani kepolisian, dan para pelaku sudah meminta maaf secara terbuka. Apakah dengan meminta maaf, kasusnya sudah selesai? Entah!

Yang menjadi pertanyaan bagi (oknum) Ormas yang menyobek nama lembaga pemberi bantuan, dalam hal ini nama sebuah gereja, mereka ini sendiri telah lakukan untuk para korban?

Yang terjadi dengan aksi perobekan itu, selain mengganggu kenyamanan perasaan publik dan lembaga penyumbang, juga menyebabkan tenda-tenda tersebut menjadi bocor. Dan ini mengakibatkan para pengungsi yang tadinya relatif nyaman, menjadi basah-basah di bawah tenda.

Yang menjadi pertanyaan, mengapa mereka itu begitu anti atau takut ketika melihat nama lembaga yang “kebetulan” adalah gereja itu? Apa yang salah? Adakah nama itu telah mengakibatkan kerusuhan dan kerugian? Mengapa begitu takut?

Kalaulah. Ini sekali lagi kalau, ada kekhawatiran bahwa dengan membaca tulisan “Gereja” itu lalu menyebabkan orang-orang di bawah tenda itu langsung ramai-ramai mau menjadi warga gereja alias masuk Kristen, itu kekhawatiran yang sangat aneh, berlebihan dan tidak masuk akal.

Kata “Gereja” itu biasa saja, sama biasanya dengan nama lembaga-lembaga lain atau nama merk mie instan pada kardus atau label makanan siap saji yang dibawa Presiden ke lokasi dan sebagainya.

Mengapa sangat sensitif dengan kata “Gereja”? Tidak perlulah memelihara rasa sensitif yang tidak berguna atau unfaedah ini.

Terbiasa dengan Azan

Orang Kristen di Indonesia adalah “minoritas”. Mereka tinggal dan hidup di antara saudara-saudari mereka yang Muslim. Karenanya, setiap hari mereka sudah sangat terbiasa dengan tata cara ibadah umat Islam. Ini sama sekali bukan masalah untuk mereka. Berapa banyak, yang karena itu lalu berduyun-duyun masuk Islam?

Suara azan yang dipancarkan dari masjid-masjid dengan toa secara sangat reguler, mereka tidak persoalkan sama sekali.

Ini karena orang Kristen menyadari bahwa itulah tata cara dan kebutuhan kaum Muslim dalam memuji Tuhan.

Semuanya tidak dirasakan sebagai gangguan. Bahkan, suara azan sudah dirasakan sebagai hal yang akrab dan tidak perlu dipersoalkan. Malah kalau tidak mendengar suara azan, terasa ada yang aneh atau kurang!

Pertanyaannya? Kapan, ya sebagian umat Islam yang “alergi” dengan gereja atau salib itu juga merasa ”biasa-biasa” ketika melihat kedua benda tersebut?

Tidak usahlah mereka ini kepanasan atau kesilauan. Sebab semakin mereka merasa begitu terganggu, kepanasan atau kesilauan, ini hanya menunjukkan bahwa keyakinan yang bersemayam dalam diri mereka begitu lemah, ringkih dan rapuh.

Dari sananya Islam dan Kristen ini bersaudara, mengapa lalu ada yang ketakutan terhadap saudaranya sendiri?

Mari bangun kebersamaan dalam kepelbagaian. Kita adalah Indonesia yang lahir dan tumbuh dari dan dalam kepelbagaian. Sampai kapan pun kita akan tetap hidup dalam kepelbagaian. Ini keniscayaan yang justru harus disyukuri.*