Langkah Surya Paloh Bikin Kader Mati Langkah

430
Anies Baswedan dan Surya Paloh.

 Emanuel Dapa Loka, Wartawan

Dari namanya saja, orang langsung mengidentifikasi Partai Dasdem sebagai salah satu partai nasionalis. Para kader, pun konstituennya sangat bangga dengan predikat tersebut. Partai ini lalu terterima dengan baik di mana-mana.

Buktinya? Sejak kemunculan pada 2011, Nasdem mendapat sambutan meriah. Ketika pertama kali ikut serta dalam Pemilu, Nasdem langsung menggebrak dengan total suara nasional 8,42 juta atau 6,74 persen dari total suara nasional.  Dengan capaian tersebut, Nasdem menempatkan 35 orang kadernya di DPR RI.

Pada Pemilu 2019, suara Nasdem meningkat secara signifikan. Partai besutan Surya Paloh ini meraih 12, 66 juta suara atau 9, 05 persen suara nasional. Nasdem “serta-merta” masuk lima besar dan mendulang 59 kursi di DPR RI.

Langkah Blunder

Seperti halnya partai-partai lain, apa pun yang Nasdem lakukan senantiasa diikhtiarkan untuk meraih simpati publik. Dengan simpati yang ada, rakyat akan memilihnya dalam Pemilu.

Di saat partai-partai lain belum menentukan nama calon atau bakal calon Presiden, Nasdem sudah menentukan calon Presidennya. Tentu saja dengan ini, Paloh dengan Nasdem maksudkan untuk mendapatkan “Efek Ekor Jas” atau  coat-tail effect.

Namun, apa yang terjadi? Memang Nasdem dapat efek ekor jas, tapi ekor jas yang didapatkan getas dan compang-camping. Segera setelah mendeklarasikan Anies Baswedan menjadi calon Presidennya, justru terjadi pergolakan kadernya di berbagai tempat.

Sejumlah kader andalannya mengundurkan diri, tentu saja diikuti gerbong sang kader. Sebut saja Ni Luh Djelantik dari Bali, Andreas Acui Simanjaya kader Nasdem dari Kalimantan Barat  dan beberapa nama lain.

Alasan pengunduran diri para kader adalah menolak keputusan Ketum Surya Paloh yang mencapreskan Anies.

Kemudian setelah kader-kader di akar rumput ramai-ramai juga mengembalikan KTA, dikabarkan pentolannya seperti Siswono Yudohusodo dan Enggartiasto Lukito pun mengundurkan diri dengan alasan yang sama.

Siswono adalah Ketua Dewan Pertimbangan Partai, sedangkan Enggar Wakil Ketua 1 Pertimbangan Partai. Siswono juga seorang tokoh nasional yang pernah ikut kontes Pilpres sebagai calon wakil Presiden, sedangkan Enggar mantan menteri. Keduanya tokoh senior dan berpengaruh.

Suara Menukik

Bersamaan munculnya gonjang-ganjing, beberapa lembaga survei melakukan survei. Dari beberapa survei yang dilakukan oleh lembaga survei yang berbeda pada waktu yang berbeda pula, perolehan suara Nasdem  mengalami penurunan tajam atau “terjun bebas”.  Survei SMRC (5-13 November) misalnya menunjukkan suara Nasdem tinggal 4,8 persen.

Bahkan ada hasil survei memberi lampu merah. Nasdem terancam tidak masuk Senayan pada 2024 sebab suara Nasdem tinggal 2,1 persen menurut hasil survei Indekstat. Survei LSI Denny JA menunjukkan perolehan suara Nasdem tinggal 3,9 persen.

Yang lebih “menyakitkan”, mayoritas pemilih Nasdem justru memilih Ganjar Pranowo yang dipersepsikan nasionalis. Mereka mengabaikan Anies, Capres partai mereka sebab bagi mereka, Anies bukan sosok yang nasionalis dan sangat berkarib kental dengan kaum intoleran bahkan radikal. Hal ini sangat nyata sejak Pilgub DKI tahun 2017. “Ayat dan Mayat” adalah ungkapan legendaris – warisan Pilgub DKI itu.

Kondisi tersebut, pasti sangat merugikan bagi Nasdem sendiri dan nanti mitra koalisinya, selain PKS yang memang sudah segaris perjuangan dan ideologi  dengan Anies. Di banyak daerah, Anies tidak terterima, dan ini akan menjadi hambatan besar dan membuat para Caleg Nasdem (dan Caleg mitra koalisinya) mati langkah.

Paloh jelas berada pada dilemma berat. Melanjutkan Anies di posisi Capres, bisa menyebabkan semakin banyak kader dan konstituen yang pergi. Tetapi kalau membatalkan Anies, akan menjatuhkan kredibilitas Paloh sendiri sebagai sosok yang jitu dalam urusan “orang pertama yang menentukan Capres” seperti yang dia lakukan sebelumnya. Dengan demikian cap “sembrono” bisa dilekatkan padanya.

Harus diakui, kali ini Paloh salah langkah dan menyebabkan kadernya pun mati langkah—walau dia katakan, langkahnya atas dasar penilaian bahwa Anies adalah “best of the best”.

Kondisi ini tentu saja membuat Paloh tidak mudah membentuk “koalisi permanen”, apalagi terjadi tarik-menarik “hidup mati” untuk urusan Cawapres; AHY atau Aher. Kalau salah satu menolak koalisi, maka Nasdem tidak berdaya mengajukan Anies sebab suara tidak mencapai 20 persen.

Paloh memang terjepit dalam dilemma, tapi sebagai politikus kawakan, Paloh akan menemukan  startegi jitu untuk segera keluar dari jepitan lalu menutup pintu depan maupun belakang partainya agar kader dan konstituennya tidak melakukan “mbedol partai”.

Jika Paloh gagal memulihkan keadaan gonjang-ganjing sekarang, maka Paloh perlu siapkan bingkai emas untuk membingkai logo partainya sebab partai Nasdem akan tinggal nama. Mungkinkah? Mungkin saja.*