Mencari Uang di Gereja?

141

Oleh Eleine Magdalena, Penulis buku-buku renungan best seller

Pengajaran tentang Tuhan sering tidak seimbang. Yesus kerap hanya digambarkan sebagai pribadi yang lembut, penuh kasih, mengampuni, dan sabar.

Sebagai akibatnya, kita kadang-kadang bersikap kurang hormat dan “sembrono” terhadap Tuhan, baik dalam kegiatan di Gereja maupun dalam sikap sehari-hari sebagai pengikut Kristus.

Dalam Injil Lukas 19:45-48 kita membaca tentang Yesus yang marah terhadap para pedagang di Bait Allah. Mereka menjual binatang kurban dengan harga lebih mahal daripada di luar.

Orang-orang terpaksa membeli di kios bait Allah karena petugas pemeriksa binatang kurban bisa saja menolak jika binatang yang dibeli dari luar dianggap cacat. Hal ini menyusahkan khususnya mereka yang miskin karena binatang kurban di kios Bait Allah dijual dengan harga sepuluh kali lipat.

Demikian juga, para penukar uang di bait Allah mengambil keuntungan sangat besar. Para pedagang memanfaatkan upacara keagamaan untuk mendapatkan keuntungan pribadi secara berlebihan. Yesus menentang praktik ini.

Yesus mengingatkan agar kepentingan ekonomi tidak mengalahkan kepentingan ibadah. Hubungan kita dengan Tuhan berada di atas segalanya.

Janganlah kita datang ke Gereja atau ikut kegiatan rohani karena motif-motif ekonomi. Misalnya semata-mata mencari relasi bisnis atau memperluas jaringan multi level marketing. Jangan pula kita berusaha mendapatkan keuntungan besar dari pekerjaan di Gereja. Janganlah kita memperkaya diri dengan uang Gereja yang berasal dari umat. Hendaklah kepentingan ibadah, memuliakan Tuhan dan melayani sesama menjadi motivasi dasar kita mengikuti segala kegiatan rohani.

Tuhan Yesus sangat tegas mengingatkan agar kita tidak “menjual” nama Tuhan untuk keuntungan pribadi. Tuhan Yesus sangat mencintai Bapa-Nya dan mengenal hati Bapa-Nya.

Demikianlah, kita sebagai pengikut Kristus perlu mengenal hati-Nya. Motif-motif bisnis dan uang janganlah sampai mengotori hati kita dalam beribadah dan berelasi dengan Tuhan.

Uang sering menjadi nomor satu. Motif untuk mendapatkan untung besar sering membuat orang menghalalkan segala cara. Banyak orang dibutakan oleh harta sehingga lebih hormat kepada orang kaya daripada orang benar.

Hendaklah kita berhati-hati dan selalu jujur terhadap diri sendiri agar motivasi kita melayani di gereja tetap murni, mengabdi Tuhan tanpa upah. *