Pinggang Berikat dan Pelita Bernyala

43

Oleh Pater Kimy Ndelo, CSsR, Provinsial Redemptoris

Santo Fransiskus Asisi pernah ditanya seorang konfraternya; “Seandainya engkau tahu kapan saatnya akan mati, apa yang akan engkau buat mulai saat ini?” Jawabnya spontan: “Sekalipun aku tahu, aku akan tetap mencangkul kebunku”.

Para tokoh besar lain dalam kekristenan, seperti Martin Luther, pencetus gerakan reformasi dan John Wesley, pendiri Gereja Methodis, juga mengatakan hal yang serupa.

Dalam Injil Lukas 12:32-48, Yesus mengingatkan pentingnya kesadaran akan hukum ilahi tentang saat akhir dan bagaimana harus menghadapinya.

“Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap bernyala” (Luk 12:35).

Pernyataan Yesus ini bukan tentang masa lalu yang sudah lewat. Juga bukan tentang masa depan yang belum jelas. Ini tentang menghidupi masa sekarang. Juga bukan tentang karya-karya besar tetapi tentang hal-hal biasa dalam hidup harian seseorang.

Yesus mengumpamakan para murid-Nya sebagai hamba yang diberi kepercayaan oleh tuannya yang sedang pergi tapi tak pernah memberitahu kapan dia akan kembali.

Penggunaan istilah “hamba” mau menegaskan pekerjaan harian sederhana dalam semangat melayani. Segala sikap dan perilaku hamba selama dia pergi akan menjadi ukuran bagaimana nasibnya nanti pada saat tuannya kembali.

Hidup itu sementara. Sudah begitu, yang sementara itu pun tak diketahui rentang waktunya. Titik berangkat bisa diduga tapi titik sampai tak pernah bisa diprediksi. Kita tak pernah tahu hari atau jam kapan kita akan sampai pada batas.

Bagi mereka yang tingkat kesadaran rohani dan jasmaninya sudah mencapai titik keseimbangan, dengan kata lain hidup dalam kesadaran, apa pun yang terjadi dan kapan pun waktunya, tidak berpengaruh lagi bagi mereka.

Saat ini atau besok atau tahun depan akan dihadapi dengan cara yang sama, tanpa kekuatiran.

Hal lain yang perlu diingat adalah tentang karunia dan tanggungjawab. Semakin banyak seseorang diberi kepercayaan, semakin besar pertanggungjawabannya. Entah itu harta kekayaan, ilmu, jabatan, dan sebagainya.

Sifat “tak terduga” penting untuk membuat kita selalu siap sedia terutama secara rohani. Ini bukan untuk menakut-nakuti melainkan agar bijak menggunakan setiap karunia yang diberikan.

Kesiapan tidak menjadi jaminan bahwa kita akan masuk surga, tetapi memberi kita keyakinan bahwa kita tidak terkejut dan panik saat berjumpa dari wajah ke wajah dengan Sang Pencipta.

Kerinduan akan Allah dengan sendirinya sudah menjadi doa yang membawa kita semakin dekat dengan-Nya.

“Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat” (Ibr 11:1).

Orang beriman sejati tak perlu membuktikan sesuatu dengan kata-kata melainkan dengan perbuatan.

Salam dari Biara Novena “Maria Bunda-Nya yang Selalu Menolong’ (MBSM), Kalembu Nga’a Bongga (KNB), Weetebula, Sumba “tanpa wa”.