KAYA YANG SEJATI

105
Agar kaya sekaligus bahagia...!

Oleh Pater Kimy Ndelo, CSsR, Provinsial Redemptoris

Bagi Yesus kaya di hadapan Allah bukan tentang berapa banyak yang dikumpulkan untuk diri sendiri. Kaya di hadapan Allah dinilai dari berapa banyak yang diberikan kepada orang lain.

Carl Menninger, psikiater terkenal di dunia, pada suatu kesempatan berbicara dengan seorang pasien yang tidak bahagia tetapi kaya. Dia bertanya kepada pasien: apa yang akan dia lakukan dengan begitu banyak uang. Pasien itu menjawab, “Saya merasa khawatir saja.”

Menninger bertanya, “Nah, apakah Anda mendapatkan kesenangan sebanyak itu dengan mengkhawatirkannya?” “Tidak,” jawab pasien itu, “Tetapi saya merasa takut ketika saya berpikir untuk memberikan sebagian kepada orang lain.”

Kemudian Dr. Menninger melanjutkan dengan mengatakan sesuatu yang sangat mendalam. Dia berkata, “Orang yang murah hati jarang mengalami gangguan mental.”

Dalam Injil hari ini, Yesus menceritakan perumpamaan tentang orang kaya dan tamak yang khawatir akan hartanya. (Luk 12:13-21). Dia berusaha mengamankan harta kekayaannya untuk dirinya sendiri.

Orang kaya ini tidak peduli dengan orang lain yang hidupnya susah dan menderita. Dia tidak menunjukkan perhatian sedikitpun terhadap mereka yang lapar dan kesulitan makan minum. Yang dia pikirkan adalah kenyamanan dan kepuasan dirinya sendiri.

Dia bagaikan orang yang minum air laut, seperti kata pepatah Romawi: “Uang itu bagaikan air laut. Semakin anda meminumnya, semakin anda kehausan”. Semakin dia kaya, semakin dia ingin memilki lebih lagi, minimal mempertahankan miliknya sedemikian rupa.

Orang kaya ini disebut bodoh oleh Yesus karena dia tidak memiliki niat sedikitpun untuk berbagi. Baginya, orang lain tidak berhak atas apa yang dimilikinya.

Bagi Yesus kaya di hadapan Allah bukan tentang berapa banyak yang dikumpulkan untuk diri sendiri. Kaya di hadapan Allah dinilai dari berapa banyak yang diberikan kepada orang lain.

St. Gregorius Agung lebih tegas lagi mengajarkan bahwa ketika kita peduli pada kebutuhan orang miskin, kita memberi mereka apa yang menjadi hak mereka, bukan hak kita.

Dengan kata lain, kita tidak hanya mempraktikkan karya amal dan kemurahan hati, melainkan kita justru sedang membayar utang keadilan. Hidup bukan hanya soal memiliki tapi berbagi.

Kitab Amsal (30:8-9) mengajarkan sebuah doa yang sangat indah:  “Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku. Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkal-Mu dan berkata: Siapa Tuhan itu? Atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku.”

Salam dari Biara Novena “Maria Bunda-Nya yang Selalu Menolong” (MBSM), Kalembu Nga’a Bongga (KNB), Weetebula, Sumba “tanpa wa”.