Sungguh! Ekaristi Sumber Kekuatanku, Aku Alami Mukjizat Ekaristi

124

Oleh Eleine Magdalena, Penulis buku-buku renungan best seller

Kesempatan bersatu dengan Kristus dalam perayaan Ekaristi merupakan harta yang tak terbeli dengan apa pun.

Hampir setiap hari saya, suami, dan anak-anak mengusahakan menghadiri Misa. Saya rindu seluruh anggota keluarga menyadari pentingnya bersatu dengan Tuhan lewat Ekaristi.

Sebisanya saya mengawali hari dengan Misa dan menyambut Tubuh Kristus. Sayang rasanya melewatkan begitu saja kesempatan untuk bertemu secara istimewa dengan Tuhan Yesus dalam Hosti Kudus.

Setiap kali menerima Hosti, saya membuka diri untuk diubah menjadi lebih serupa dengan-Nya dalam segi apa pun yang Tuhan kehendaki.

Setiap kali menerima Hosti saya ingat apa yang dikatakan Yesus dalam Injil Yohanes 15 bahwa kita perlu bersatu dengan pokok anggur yang benar, yaitu Kristus.

Ekaristi menyatukan kita dengan Kristus. Penyatuan ini bukanlah sesuatu yang otomatis. Namun,  perlu dipererat dan diperdalam setiap hari hingga kita mencapai persatuan abadi kelak di Surga.

Doa setelah Komuni adalah saat intim bersama Yesus. Ada saat Yesus menghibur, meneguhkan atau membiarkan saya menangis dalam dekapan cinta-Nya. Ada juga saat saya merasa Tuhan sangat memahami dan menyayangi saya.

Saya tidak khawatir kata orang walaupun menangis dalam gereja. Tangisan meluapkan sebagian yang ada dalam jiwa saya. Ada waktunya juga kami saling berdiam dalam keheningan yang memesona seakan waktu terhenti.

Saat itu waktu hanya milik kami berdua tanpa dikejar-kejar apa pun karena sesungguhnya Dialah Sang Empunya waktu. Kasih-Nya dan cinta-Nya yang besar melampaui pikiran dan keberadaan saya, membuat selalu ingin tinggal di dalam-Nya.

Ketika kedua anak kami belum menerima Komuni pertama, ada kerinduan agar Winner dan Rayner, juga mengalami cinta Tuhan yang kurasakan secara istimewa dalam perayaan Ekaristi.

Setiap kali sampai di rumah setelah menyambut Komuni kudus di gereja, saya memeluk sambil menumpangkan tangan berdoa bagi anak-anak. Saya rindu Winner dan Rayner mengalami juga kasih dan kehadiran Kristus.

Saya mohon Tuhan mengalirkan juga kasih dan rahmat-Nya kepada anak-anak lewat doa ibunya. Saya membayangkan Yesus sendiri memeluk dan mengalirkan kasih-Nya kepada anak-anak saya. Kini setelah kedua anak kami menerima Komuni kami usahakan bisa menghadiri Misa harian bersama.

Kalimat yang diucapkan oleh seluruh Gereja sebelum menyambut Hosti suci, yang dikutip dari kata-kata perwira Romawi: “Tuhan, saya tidak pantas Tuhan datang pada saya, tetapi bersabdalah saja maka saya akan sembuh”, selalu menggetarkan saya.

Pengalaman Nyata

Saya ingin sharing pengalaman pribadi yang berhubungan dengan kata-kata itu. Ketika hamil anak kedua, saya merasakan nyeri pada punggung dan pinggang sejak usia kandungan dua bulan. Saya tidak mampu bertahan duduk lebih dari 15 menit.

Karena merasa sangat memerlukan, saat itu saya ingin sekali mengikuti retret di Pertapaan Karmel, Tumpang. Ketika itu usia kehamilan saya memasuki bulan keenam.

Retret yang berlangsung mulai hari Kamis sampai dengan Minggu ini diawali dengan Misa. Semua peserta duduk di bawah memakai bantal atau bangku doa.

Saat Misa berlangsung, rasa nyeri pada punggung mulai saya rasakan. Saya berkata dalam hati: “Tuhan, retret masih baru akan dimulai tetapi pinggang dan punggung saya sudah terasa sangat nyeri. Saya ingin sekali dapat mengikuti retret hingga selesai”.

Saya berharap sekali Tuhan menyembuhkan nyeri pada pinggang dan punggung saya. Dengan iman saya mengucapkan sungguh-sungguh: “Ya Tuhan, saya tidak pantas Tuhan datang pada saya tetapi bersabdalah saja maka saya akan sembuh”.

Saya mengucapkan kalimat ini dengan kesungguhan hati dan kesadaran bahwa Kristus yang mau datang padaku berkuasa menyembuhkan.

Saat menyambut Komuni, saya mengimani penuh bahwa Tuhan mengalirkan kasih-Nya dan menyembuhkan saya.

Setelah itu saya mengikuti acara demi acara dalam retret. Tanpa saya sadari saya dapat menyelesaikan hari pertama retret tanpa terganggu oleh rasa sakit lagi. Demikian pula hari berikutnya hingga hari terakhir retret rasa sakit itu tidak ada lagi.

Bahkan hingga saya melahirkan, rasa nyeri pada punggung dan pinggang tidak lagi saya alami. Saya bersyukur Sakramen Ekaristi menyembuhkan saya.*