Mgr Glen Lewandowski: Semoga John Prior Istirahat dalam Kegirangan Abadi

174
Mgr Glen Lewandowski

Saya turut berduka mendengar berita wafatnya John Prior pada 2 Juli 2022 lalu. Mengenal John adalah sesuatu yang menyenangkan. Saya menjadi dosen di STFT Abepura ketika beliau dosen tamu di sana 1996. Lagi pula, saya sempat mengajar team-teaching bersama John di bidang antropologi budaya pada proyek pasca sarjana yang dikhususkan untuk bakal pelayan di medan misi Papua.  Menyenangkan!

Tentu saja juga saya menikmati selaku anggota Komisi Teologi Konferensi Waligereja Indonesia (KWI). Wawasannya luas dan tajam melihat kepentingan di Asia.

Pater John M. Prior, Requiescat in Pace.

Wawasannya memang lain, dari pada cuma menjiplak begitu saja dari dunia Barat. Apalagi dari materi karya kepausan, harus disaring secara kiritis dan ditimbang dengan jeli demi melihat mana yang cocok dan tidak cocok di Indonesia.

Saya selalu menghargai visinya yang cerdas dan gagasannya yang sungguh Katolik: merangkul dan menggenggam seluruh umat manusia di dalam kemanusiaannya yang tulus seperti Yesus.

Pernah ia ceritakan mengapa (menurut dia) tidak ada orang yang membencinya, biarpun ada yang tidak setuju dengannya. Kiatnya, dia terikat hati dan simpatik dengan keaneka-ragaman, lagi-lagi tidak konfrontatif.

Mgr Glen ketika di Papua. (dokpri)

Dia lebih besar hati dan rela sabar menunggu hingga sesama berpikir lebih jauh. Menuntut dia mengontrol pemikiran orang lain bukanlah kecenderungannya. Mungkin karena dia seorang misionaris dan peneliti, bukan birokrat resmi dari kantor pusat.

Semoga beliau beristirahat dalam damai abadi. Kita semua diperkaya berkat kehadirannya di Tanah Air tercinta.

Saya sampaikan pesan kepada para saudara SVD agar mereka bergembira dengan kepergiannya.

Memang semua merasa sedih. Namun kita bernyanyi “Betapa indah telapak kaki yang membawa kabar, yang sungguh-sungguh menggembirakan selama hampir 50-an tahun, sejak tibanya di Indonesia, malah semenjak kelahirannya di Inggris”.

Semoga beliau sekarang beristirahat dalam kegirangan abadi di surga sarat keramaian, dan bukan dalam keheningan yang membosankan secara tak henti-hentinya. Ini bukanlah kodratnya John.

Saya tidak menanggis. Saya senyum karena karunia pernah mengenalnya selaku sahabat.

Terima kasih