Presiden Jokowi, juga Presiden Kaum Pinggiran, Arti Penting Kunjungan Presiden Jokowi ke Serambi Soekarno di Ende

2164
Uskup Agung Ende, Mgr. Vincentius Sensi Potokota dan Pater Yosef Seran, SVD pengelola Serambi Soekarno.

Oleh Alfred B. Jogo Ena, Penulis dan editor, tinggal di Yogyakarta

Gegap gempita, antusiasme warga Ende dan Bajawa atas kunjungan Presiden (31/05-01/06/2022) sangat terasa baik di kedua lokasi itu maupun di Medsos. Aneka tanggapan dari warga NTT diaspora melihat kenyataan langka itu. Tampak rakyat begitu mencintai pemimpinnya yang sangat rendah hati. Mereka larut dalam sukacita. Mereka sungguh merasakan hadirnya seorang bapak bagi anak-anaknya yang ada di pinggiran.Ya, mereka selama ini berada di pinggiran pembangunan, dikunjungi pejabat dan politisi menjelang pemilihan umum. Mereka yang selama ini seolah-olah hanya menikmati remah-remah pembangunan hampir dalam segala aspek.

Presiden dan Ibu Negara dalam balutan pakaian adat Ende dan Bajawa – Foto dari WAG Alsemat Nusantara

Betapa tidak! Jika tidak ada Gereja Katolik (yang memang sudah ada sejak sebelum merdeka), mungkin derap pembangunan baik fisik maupun sumber daya manusianya akan tertinggal jauh dari mereka yang ada di Pulau Jawa, mereka yang ada di seputar kekuasaan.

Saya menghitung selama masa kepemimpinannya, Presiden Jokowi paling banyak mengunjungi daerah-daerah pinggiran, terluar dan terdepan (perbatasan dengan negara tetangga). Ke Papua 13 kali dan ke NTT juga lebih dari 10 kali. Perhatiannya begitu besar ke daerah-daerah pinggiran (yang selama ini dipinggirkan dari pusat kekuasaan). Pembangunan juga digiatkan secara massif di daerah-daerah di luar Jawa.

Presiden Jokowi melalui aneka kunjungannya ke luar Jawa hendak menegaskan bahwa Indonesia itu bukan hanya di pulau Jawa dan Sumatera atau hanya di kota besar seperti Makassar dan Medan. Indonesia itu sungguh dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Rote. Dan ini bukan cuma slogan dan nyanyian yang terus diulang tanpa makna.

Antusiasme masyarakat pinggiran setiap kali menyambut kehadiran seorang Presiden Joko Widodo sungguh memperlihatkan suatu kerinduan, kehausan akan perlakuan yang sama sebagai bagian dari NKRI, bukan hanya menjadi bagian dari daerah yang diambil kekayaannya (untuk dikirim ke pusat kekuasaan).

Pengalaman dua hari Presiden berada di Ende dan Ngada memperlihatkan dengan jelas makna kehadiran seorang Presiden. Di Ende Presiden digelari Mosalaki Ulu Beu Eko Bewa (pemimpin seluruh wilayah Indonesia). Lalu di Bajawa saat di Bandara Soa, Presiden disambut dengan Jai Bajawa yang diawali dengan sapaan: “Mosa Meku Laki Wiu, Bae Lega Jara Kago Kili Wana” yang bisa diartikan: “Presiden Joko Widodo, seorang pemimpin yang lembut dan rendah hati, pemakai Lega Jara/ tas ransel, rangkul dari arah kanan”.

Jokowi disebut seorang pemimpin yang mengayomi dan merangkul seluruh masyarakatnya. Seorang pengayom tidak akan lupa akan rakyatnya, juga akan sejarah pendahulunya.

Pater Yosep Seran, SVD sedang bersalaman dengan Presiden dan Ibu Negara saat berkunjung ke Serambi Soekarno- Foto kiriman Pater Yosep.

Serambi Soekarno

Rangkulan itu bermakna juga ketika di Ende, yang konon menurut rundown acara dari panitia tidak ada jadwal kunjungan ke Serambi Soekarno, justru Jokowi datang.

Jokowi sungguh seorang pemimpin yang tidak lupa akan sejarah. Ia pemimpin yang selalu membawa dan memakai “Jasmerah” milik Bung Karno (jangan melupakan sejarah).

Ia bukan pemimpin yang bertipe kacang lupa kulit, yang sibuk mencari rakyat ketika sedang membutuhkan dukungan lalu lupa ketika kepentingan sudah dalam genggaman.

Kunjungan Presiden secara “dadakan” ke Serambi Soekarno sungguh sebuah “kado terindah” dari negara terhdap peran Gereja Katolik.

Menurut Pater Yosef Seran, SVD, penanggung jawab Serambi Soekarno saat ini yang kami hubungi melalui WA demikian, “Kunjungan ini berarti pengakuan resmi terhadap peran Gereja Katolik yang diemban oleh SVD. Kunjungan ini menjadi tanda dukungan penuh negara terhadap perjuangan kemerdekaan, Pancasila, NKRI, Bhinneka tunggal Ika.”

Masih menurut Pater Yosef, kunjungan ke Serambi Soekarno kiranya bisa meyakinkan Presiden Jokowi tentang peran Gereja Katolik dalam diri kedua misionaris SVD. Mereka telah menyumbangkan pikiran berharga buat Indonesia merdeka.

Juga, peran tersebut sehubungan dengan pemikiran Bung Karno yang sedang menggali butir-butir dasar negara RI yang biss disetujui oleh semua pejuang, pendiri negara merdeka sebagai dasar, ideologi bangsa yang beragam suku, agama, budaya, bahasa.  Dan Soekarno rumuskan sebagai Pancasila.

Kunjungan ini hendak menegaskan bahwa negara tidak hanya hadir saat ada butuhnya saja, saat ada kepentingan saja. Negara justru hadir untuk meramu dan menemukan pemahaman yang baru (dari nostalgia yang ada) untuk kemajuan bersama.

Enam Arti Kunjungan

Sedangkan menurut Romo Edi Dopo, Vikep Ende, ada enam arti penting kunjungan Presiden Jokowi ke Serambi Soekarno bagi Gereja Katolik Keuskupan Agung Ende (KAE). Pertama, bukti pemerintah mengakui peran Gereja Katolik KAE dalam mendukung Soekarno merumuskan satu pilar kebangsa, yaitu Pancasila. Kedua, mempertegas peran Gereja Katolik dalam kehidupan bangsa dan negara. Ketiga, meluruskan sejarah kepada seluruh bangsa bahwa Gereja Katolik KAE turut memberi sumbangsi bagi lahirnya Pancasila. Keempat, mempertegas komitmen dan kesetiaan  umat masyarakat Katolik dan Klerus (para Imam) KAE terhadap nilai luhur Pancasila. Kelima, kebangkitan semangat literasi untuk menggali sejarah  melalui buku-buku bacaan. Karena saat Soekarno berada di serambi Soekarno (di perpustakaan SVD kala itu, red), ia mendapat buku- buku bacaan dari para pastor Belanda di Biara St. Yosep Ende. (Jangan melupakan sejarah).  Keenam, Serambi Soekarno adalah saksi sejarah pengamalan toleransi kehidupan beragama orang Flores.

Kita patut berterima kasih bahwa jauh sebelum Indonesia merdeka, Gereja Katolik melalui para imam SVD asal Belanda, antara lain Pater Geradus Huijtink, SVD dan Pater Dr. Johannes Bouma, SVD telah ikut berperan dalam memberi kesempatan kepada Seokarno muda untuk “mencicipi” aneka literasi yang ada di perpustakaan biara.

Para pastor asal Belanda ini, sudah menyediakan sekaligus merelakan perpustakaan biara menjadi “serambi” atau pendopo atau bale-bale sebagai tempat “nongkrong”, tempat memperbincangkan aneka tema kehidupan, tempat para tetangga duduk makan sayur lawar bersama sambil “ngrumpi” aneka tema.

Pater Henri Daros, SVD sebagai penggagas berdirinya Serambi Soekarno ini sudah memainkan peran sebagai tuan rumah yang ramah yang menyediakan serambi rumahnya bagi sebanyak mungkin orang datang dan belajar tentang Bung Karno. Sebagaimana serambi atau pendopo yang berfungsi sebagai tempat obrolan ringan, tempat orang duduk secara egaliter (biasanya duduk bersila) untuk omong ngalor ngidul tentang kehidupan tanpa sekat agama dan suku.

Pater Henri sungguh mengangkat sebuah kearifan lokal tentang sebuah tempat perjumpaan antara tuan rumah dan para tamu maupun dengan tetangga.

Ada istilah di Bajawa dan Nagekeo yang sangat indah tentang serambi atau pendopo ini: “Nee ka, ka mona, kita pebajawa sama: ada makan atau tidak, kita duduk bersila bersama” sambil merajut silaturahmi. Hampir senada dengan istilah Jawa: “Mangan ora mangan, sing penting ngumpul: makan atau tidak, yang penting kumpul bersama.”

Bacaan penting untuk memahami Soekarno.

Di Serambi Soekarno ini, akan selalu ada perjumpaan, ada yang datang dan pergi. Di sini, siapa pun boleh belajar tentang nilai-nilai Pancasila, tentang toleransi dan tentang membangun Indonesia yang lebih pancasilais.

Seperti Bung Karno yang terbuka dan mau bersahabat dengan para pastor SVD dari Belanda, di Serambi ini kita sebagai bangsa Indonesia diajak untuk duduk sama rendah (rendah hati) membicarakan Indonesia yang tidak tersekat-sekat oleh ideologi apa pun selain bersatu di bawah tenunan ideologi Pancasila.

Dari Serambi Soekarno, dari Rumah SVD dan Gereja Katolik (Keuskupan Agung Ende) untuk Indonesia.*