Masih Ada Novel di Kepala Remy Sylado

771
Sastrawan Remy Sylado sedang sakit, tergolek di tempat tidur. (foto: Benke Mashurie)
Sastrawan Remy Sylado beberapa tahun sebelum sakit. (Foto: EDL)

Oleh Benke Mashurie

TEMPUSDEI.ID (14/1/22)-Setahun tiga bulan, atau tepatnya mulai Oktober 2020, hingga Januari 2022 ini, Remy Sylado  (79) telah dan masih tergolek di tempat tidurnya. Bagian kiri tubuhnya, terutama tangan kiri dan kakinya memang belum berfungsi maksimal. Karenanya, semestinya munsyi dan harta karun dunia susastra dan budaya Indonesia terus mengikuti fisioterapi di RS Premier Jatinegara, Jakarta.

Tapi apa lacur, sudah beberapa waktu ini, fisioterapi terpaksa prei untuk sementara waktu. Karena mbak Emmy Louise Maria, istrinya yang supersetia dan telah menemaninya sejak tahun 1976—telah kehabisan rupiah. Ongkos fisioterapi “hanya” Rp250.000,- sekali kunjung. Biasanya Remy berkunjung sebanyak dua kali seminggu.

Akhirnya, untuk sementara, hanya bergantung kepada kelapangan hati dan rezeki sejumlah kawan baiknya, Remy menghadapi ketidakpastian kondisi kesehatannya. “Terutama untuk beli pempers dan obat herbal. Karena obat-obatan dari dokter udah ngga seperti dulu,” kata mbak Emmy (72) di kediamannya di kawasan Cipinang, Jakarta Timur, Senin (10/1/2022) siang.

Padahal buku Remy Sylado banyak bilangannya di sejumlah toko buku. Tapi royaltinya telah mandeg sejak lama pula. Bahkan saat mbak Emmy (Maria Louise Tambayong) ingin menerbitkan ulang buku suaminya, dia tidak tahu harus menghubungi siapa, “Harus ke penerbitnya langsung ya…harus ke Gramedia ya,” katanya separuh melempar pertanyaan retoris kepada saya dan Susi Ivvaty

Susi Ivvaty adalah Founder alif.id. Magister Kajian Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia. Pernah menjadi wartawan Harian Bernas dan Harian Kompas, dan kini lebih happy menjadi ronin. Susi dekat dengan Mas Remy dan Mbak Emmy. Tapi kalau mau nengok Mas Remy, mesti nggeret-nggeret saya, yang katanya paling dikangeni Mas Remy.

Hanya gara-gara sejak awal tahun 2000-an kadang kebagian tugas ambil naskah Cerbung Sam Po Kong yang ditulis (diketik tepatnya) Mas Remy, yang saat itu dimuat di harian Suara Merdeka.

Maka saat ketemu Mas Remy, yang paling pertama ditanyakan, demi memantik perbincangan adalah, memory masa kecil Mas Remy saat tinggal di Semarang.

Remy Sylado sudah merancang s (Foto: Benke Mashurie)ebuah novel di kepalanya.

Ingatan Masih Sangat Kuat

Jika Anda menanyakan salah satu dari sedikit persona yang nglotok tentang historiografi kota Semarang, maka tanyalah kepada Remy Sylado. Maka mengalir lancar tentang cerita kota itu, yang di mata Remy Sylado keindahannya bertahan hingga kini.

Di novel Namaku Mata Hari (2010) hampir setiap sudut kota Semarang, dinarasikan dengan tingkat presisi yang luar biasa oleh Remy Sylado pepak dengan trem dan jalur keretanya. Dari mana Remy Sylado mendapatkan data tentang kota Semarang di tahun 1800-an? “Saya mabur langsung ke Leiden,” katanya suatu waktu, saat berburu data ihwal kisah mata-mata legendaris dunia; Mata Hari yang ternyata banyak menghabiskan waktu di Semarang, juga Ambarawa.

Remy Sylado tercatat mendarat di Semarang sejak SD kelas 5, pindahan dari kota Makassar di tahun 60-an. Tanpa menguasai bahasa Jawa sama sekali, membuat Remy kecil sempat mogok sekolah. “Soalnya ngga bisa basa Jawa,” katanya terkekeh.

Tapi bakat pada akhirnya membuatnya hampir berkawan dengan semua bahasa besar dunia. Sebelum akhirnya dia dikenal sebagai poliglot yang ulung. Dengan  kemampuan menuturkan beberapa bahasa dengan sangat mahir.

“Saya bisa bahasa Ibrani juga Latin, tapi ngga bisa basa Aramaik, yang dipakai Yesus. Yang saat ini hanya dipakai oleh 7 prosen penduduk Syria di Timur Tengah. Kalau di Indonesia ada seorang kyai yang bisa bahasa Aramaik, Bambang Noorsena namanya. Bambang Noorsena jago karena dulu Kyai yang kini jadi Romo di Surabaya. Padahal bahasa tulis Aramaik lebih sederhana dari Ibrani. Tapi saya ngga bisa,” kata Remy Sylado, yang pada akhirnya menguasai bahasa Jawa halus sampai ngoko, hingga Semarangan.

Remy Sylado boleh tergolek di tempat tidurnya. Raganya boleh tidak berdaya, tapi pikiran dan memorinya masih kuat dan tajam. Dia ndongeng dengan runut tentang apa saja. Sambil sesekali nggaruk kepala, dan menggesek pergelangan tangan kanannya ke punggung pegangan tempat tidur. Sembari sesekali menyeru,” Em……”, yang tandanya kehausan, meminta minum air putih lewat sedotan kepada garwonya.

Ihwal bahasa Aramaik, sebagai bahasa utama yang dipakai dalam kitab Talmud, yang juga merupakan bahasa ibu Yesus Kristus, Remy pernah punya cerita lucu.

Dulu, ceritanya suatu waktu, saat dirinya berada di Belanda, dan naik taksi, bertemulah dengan seorang supir taksi asli Israel, atau Yahudi totok. Maka berbicaralah dia dengan bahasa Ibrani, yang membuat orang Yahudi itu melongo.

“Bangsa kalian kan yang membunuh Yesus,” kata Remy setelah basa-basi secukupnya. Supir taksi terkesiap. Diam saja. “Kalian ngga takut, nanti Yesus bangkit lagi di hari akhir, bangsa kalian akan dipersalahkan,” sambung Remy. Alih-alih ketakutan dan panik, supir taksi orang Yahudi itu, menjawab cepat. “Kenapa harus takut. Nanti kalau Yesus datang lagi ke bumi, kita salib lagi,” katanya cepat. Remy Sylado hanya terkekeh.

Kembali ke soal kota Semarang. Setelah setahun lebih berdiam diri di kamar, Remy ternyata telah mempunyai sebuah tabungan novel di kepalanya. Pepak dengan penokohan, jalan cerita, dan latar ceritanya tentu saja. Kali ini berlatar kota Semarang di tahun 1950-an, saat senjakala pendudukan Jepang.

“Tentang Londo edan, Belanda gila, namanya Brouwer. Yang kerjanya bengak-bengok (teriak-teriak) di jalan. Gemar jalan kaki dari pasar Peterongan sampai pasar Bulu. Kemudian teriak-teriak sepanjang jalan. Londo edan ini kasihan. Dia edan karena istrinya ditahan dan diperkosa tentara Jepang, yang menduduki kota Semarang.

Jadi gilanya makin menjadi, saat tiba di SR (Sekolah Rakyat) di Karangasem, gedung markas Kempeitai (unit militer yang menjadi polisi rahasia sekaligus polisi militer Jepang) di depan Lawang Sewu. Yang pada sebuah masa jadi kantor Djawatan Kereta Api,” kata Remy Sylado tenang.

Pokoe Brouwer yang tentara Belanda itu pengen ketemu istrinya. Oh Yo, di depan SR Karangasem, kalau jam 2 siang, ada yang jualan es Kombor, yang suka ngasih minum Brouwer karena kasian. Brouwer itu pangkatnya Letkol atau oversted mungkin Kapiten,” katanya lagi.

Setelah jadi gila, dia akhirnya mati. Kegilaan Brouwer itulah yang akan diceritakan Remy Sylado.

Bosan cerita tentang novel yang masih bersemayam dan terkubur di kepalanya, Remy Sylado lalu menggeser ceritanya. Tentang orang Belanda di kota Hauten provinsi Uthrech, yang ada perhimpunan masyarakat Semarang di sana. Atau lebih tepatnya orang Belanda yang mempunyai ikatan batin kuat dengan kota Semarang.

“Ada seorang Belanda bekas tentara. Di rumahnya di lantai 2, ada peta kota Semarang tahun 1920-an. Masih hidup orangnya, Anton namanya, usianya 90-an,” kata Remy Sylado

Orang-orang seperti Anton Van Hauten, menurut Remy Sylado sangat penting. Karena sangat tahu ihwal kota Semarang, lengkap dengan kondisi sosial budayanya. Seperti kondisi rumah di jalan Pandanaran sekarang, itu sejak zaman Belanda, memang menjadi pusat pertokoan. “Kalau Pandanaran, dari dulu memang wilayah took-toko sejak zaman Belanda. Bahkan ada toko namanya SBS, di Pandanaran, itu kata anak Semarang zaman dulu, artinya Silit Biso Singsot,” katanya terkekeh.

“Di Mugas di atasnya ada candi Cina Tahun 1812, ada konferensi pedagang Cina, pusatnya di Semarang. Salah satu kegiatannya, ngunjungi Candi Cina itu,” kata Remy Sylado.

Oh ya, tahukah Anda kota Semarang mempunyai lima Simpang Lima?  “Simpang 5 di Semarang ada lima, di Tugu Muda, Yaik/Pasar Johar, Simpang Lima sekarang, dan duanya lagi di….ah lali aku, engko tak eling eling sik,” katanya yang kembali menyeru nama istrinya. Saya harus pergi dulu, Mas Remy minta waktu berdua dengan Ebak Emmy. Sepertinya perutnya sakit.

Lekas afiat mas Remy Sylado. Ditunggu novel Londo Edan yang seneng bengak bengok-nya.*