Kita Terlalu Mencintai Diri Sendiri, Terjadi Resesi Cinta Kasih

692
Pendeta Gomar Gultom, M Th, Ketua Umum PGI

 

Oleh Pendeta Gomar Gultom, M. Th, Ketua Umum PGI

TEMPUSDEI.ID (27/12/21)-Saudara mungkin pernah mendengar kisah tentang Narsis dari mitologi Yunani Kuno. Sejak kelahirannya, dia diramalkan tak akan berumur panjang apabila dia sempat melihat bayangan dirinya. Maka kedua orang tuanya segera menjauhkan semua cermin dari negeri itu.

Suatu saat Narsis berburu. Tatkala kehausan oleh terik, dia menemukan telaga yang amat jernih. Ketika hendak mengambil air, dia melihat sebuah wajah di dasar air, yang tak lain adalah bayangannya sendiri. Dia begitu mengagumi ketampanan wajah itu. Dia berupaya meraupnya, namun tak kunjung berhasil. Begitu seterusnya hingga petang, dan menurut kisah itu, dia jadi gila dan tak lama meninggal.

Natal Nasional 21

Begitulah asal muasal istilah bagi orang yang terlalu mencintai dirinya dan tidak sedia berbagi cinta dengan orang lain, kita sebut sebagai penyakit narsis, yang dalam dunia psikologi dikenal sebagai narsistik.

Itulah sesungguhnya gambaran kita: terlalu mencintai diri sendiri. Lihat saja fenomena selfi: kita yang utama, dan yang lain jadi latar. Dan, untuk ini kita butuh tongsis: singkatan dari tongkat narsis.

Inilah yang merongrong kehidupan kita: terlalu mencintai diri sendiri. Kita, ingin diutamakan, tetapi engggan mengutamakan orang lain. Ingin diperhatikan, tapi sulit memperhatikan; butuh dicintai tapi enggan mencintai.

Akibatnya, terjadi resesi cinta kasih: terlalu banyak orang yang membutuhkan cinta kasih, tetapi sangat sedikit orang yang bersedia mencintai. demand dan supply tidak imbang.

Inilah yang menyebabkan makin surutnya persaudaraan otentik dalam kehidupan kita. Sebagian kita kini cenderung makin berupaya hanya hidup untuk diri dan kelompoknya, bahkan tak segan mengorbankan yang lain.

Sering persaudaraan terbangun atas perhitungan untung-rugi, selalu mengukur dari kepentingan diri. Sebagai demikian, persaudaraan kita menjadi sangat mekanik, tidak lagi atas dasar kepedulian yang eksistensial.

Di tengah realitas sedemikianlah kita kini mendengarkan seruan Natal: “Cinta Kasih Kristus yang Menggerakkan Persaudaraan.”

Cinta kasih Kristus sangat berbeda dengan cinta kasih yang dikenal oleh dunia ini. Yohanes 3:16 mengatakan, begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga ia “mengaruniakan anak-Nya yang tunggal.” Hal yang kurang lebih sama juga dapat kita baca dalam Efesus 5:25, yang mengatakan, Kristus mengasihi jemaat sehingga Ia “menyerahkan diri-Nya” bagi jemaat.

Artinya, cinta kasih Allah akan dunia ini, atau cinta kasih Kristus akan jemaat, diwujudkan melalui tindakan konkret, dan tindakan itu berupa pengorbanan.

Cinta-kasih sedemikianlah yang diharapkan menggerakkan kita dalam membangun persaudaraan: yakni cinta kasih yang tidak hanya tinggal dalam perasaan, tetapi lebih merupakan tindakan konkret. Dan, yang menjadi ukuran pertama bukannya memperoleh, tetapi adalah kerelaan memberi, bahkan keberanian berkorban.

Itu sebabnya, kita bisa katakan bahwa bentuk cinta-kasih paling besar yang pernah dicatat oleh sejarah dunia ini bukanlah cinta kasih Romeo dan Juliet.

Cinta kasih terbesar berlangsung justru di bukit Golgota. Di sana tidak ada romantisme: tidak ada kesyahduan rembulan, tidak juga rintik hujan yang menambah kemesraan. Yang ada adalah cinta dalam bentuk pengorbanan berdarah.

Cinta kasih dengan kerelaan memberi dan keberanian berkorban seperti itulah yang dikehendaki dari kehidupan kita melalui perayaan Natal ini. Hanya cinta kasih sedemikianlah yang dapat menggenggam hati yang terasing, yang bisa menjembatani keretakan dan mengutuhkan perpecahan, serta mengangkat derajat manusia yang selama ini terhina dan terjajah hak-haknya.

Hidup dalam cinta kasih sedemikian, yang mewujud dalam keinginan kuat untuk memberi dan berkorban, saat ini menjadi panggilan krusial di tengah kegersangan cinta kasih; terutama di tengah persoalan bangsa kita kini; ketika makin banyak orang yang cenderung hanya mengutamakan diri dan kelompoknya.

Panggilan mengasihi sedemikian makin perlu diwujudkan karena bangsa kita kini makin kehilangan sendi utama pengikatnya sebagai bangsa: nasionalisme yang menghargai kemajemukan.

Dewasa ini kita makin risau dengan makin menipisnya toleransi, yang selama ini mengikat kita dalam kepelbagaian. Konflik dan pertentangan di tengah kita, makin riuh karena masing-masing hanya melihat dan memperjuangkan diri dan kelompoknya, sehingga masyarakat kita cenderung terkotak-kotak, entah oleh agama, suku, pilihan politik atau kepentingan lainnya.

Kita juga risau dengan perlakuan manusia yang begitu eksploitatif terhadap alam. Pandemi yang kita alami saat ini adalah katup dari krisis ekologis sebagai buah dari kebanalan kita memperlakukan alam. Pemanasan global dan perubahan iklim adalah akibat langsungnya, yang memicu mutasi genetika. Maka bermunculanlah virus baru yang memporak-porandakan kehidupan kita sendiri.

Natal kali ini mengajak kita untuk sedia digerakkan oleh Cinta Kasih Kristus dalam membangun persaudaraan sejati, yakni persaudaraan yang dilandasi oleh cinta kasih Kristus, persaudaraan yang dibangun oleh kesediaan mengosongkan diri, yaitu gerak ke luar dari kecintaan atas diri sendiri. Persaudaraan yang memperlakukan sesama, dan alam sekitar, dengan perilaku yang jauh dari sikap manipulative dan eksploitatif, sebaliknya membangun persaudaraan kepada sesama dan alam sekitar dengan niat tulus atas dasar cinta kasih Kristus yang sudah lebih dahulu mengasihi kita.

Saudara-saudara yang saya kasihi. Peristiwa Natal yang pertama, sebagai wujud Cinta-Kasih Allah akan dunia ini, tidak serta-merta mengundang kesukacitaan bagi dunia ini. Sebagai reaksi atas berita kelahiran-Nya, Herodes menghabisi anak-anak umur dua tahun ke bawah di Betlehem dan sekitarnya. Kisah sangat kelam, akibat ketamakan dan rasa takut akan direnggut kekuasaannya oleh kehadiran “Sang Raja Damai.”

Dari peristiwa tersebut menunjukkan pula bahwa dalam perwujudan cinta-kasih di dunia ini tidak jarang ada penentangan, arus balik, dari pribadi-pribadi yang hidup dalam egoisme dan kecintaan atas diri sendiri. Ini bak pertempuran, antagonis menggerogoti sang protagonis. Niatan serta perbuatan-perbuatan baik dan benar, sebagai wujud cinta kasih itu sendiri, bukan tidak mungkin mendapat perlawanan dari pribadi-pribadi egois dan yang hanya cinta pada diri sendiri.

Hal seperti ini kita juga saksikan dalam perjalanan bangsa kita. Sejarah sudah menunjukkan, negeri yang kaya ini meninggalkan kepiluan bagi sebagian masyarakat yang dilindas oleh pembangunan, karena digadaikan untuk didikte oleh bangsa-bangsa lain. Dan, ketika kini arah pembangunan makin diutamakan untuk menyejahterakan masyarakat, ketika gini ratio makin membaik, kemandirian bangsa semakin berdiri teguh dan diakui oleh bangsa-bangsa lain, ada saja arus balik berupa sikap menentang dan menjatuhkan oleh elit-elit tertentu dan orang-orang yang telah dipengaruhinya. Penentangan ini juga bisa berwujud perilaku koruptif dan manipulatif, yang menghambat kesejahteraan bersama. Semua ini, lagi-lagi karena kecintaan atas diri sendiri, Narsistik.

Saudara, Peristiwa natal menunjukkan bahwa demi cinta-kasihNya, Allah sedia mengaruniakan anak-Nya untuk menyelamatkan dunia. Ia mengosongkan diri dan mengambil rupa manusia, demi Saudara dan saya.

Dan, cinta-kasih sedemikian mengundang kita untuk juga mau berkorban; keluar dari kecintaan atas diri sendiri sehingga pada gilirannya mau dan mampu menggerakan persaudaraan demi kehidupan yang adil dan damai sejahtera.

Di masa pandemi ini, ada banyak orang yang tak bisa merayakan natal sebagaimana kita kini. Pandemi ini menyebabkan banyak orangtua yang kehilangan pekerjaan tak mampu membawa makanan pulang ke rumah untuk anak-anaknya, banyak keluarga yang menderita karena masalah finansial, sebagian lainnya kini terpaksa isolasi, banyak yang kesepian dan tertekan.

Kita menghadapi suasana natal kali ini dalam situasi yang berbeda dengan orang-orang yang seberuntung kita. Kita menghadapi badai yang sama, namun kita tidak berada dalam kapal yang sama.

Lewat ibadah kita hari ini, Kasih Kristus menawarkan undangan bagi saudara. Maukah saudara membuka diri, agar Cinta KasihNya menggerakkan kita untuk persaudaraan: untuk mencintai, memberi dan berbagi?

 

Tawaran pengasihan Tuhan itu bukanlah tawaran sepihak. Tawaran itu harus kita respons, agar demikian ia mempunyai makna. Anugerah bukanlah anugerah yang murahan. Tawaran pengasihan-Nya merupakan anugerah yang ditandai dengan pengorbanan, dan itu yang kini harus kita respons: mengasihi, yakni mengasihi semua orang, bahkan semua makhluk ciptaan-Nya.

Tuhan memberkati kita semua dan bangsa Indonesia tercinta! Amin.

Khotbah ini disampaikan dalam Perayaan Natal Nasional, 27 Desember 2021 di GPIB Immanuel, Jakarta