Relevansi Pendidikan Etika Bisnis bagi Siswa dan Mahasiswa

173

Oleh Urbanus Ura Weruin, Staf pengajar pada fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tarumanegara, Jakarta.

Mengapa Etika Bisnis sebagai salah satu kajian filsafat ekonomi yang bersifat teoretis, preskriptif, dan ideal, perlu diperkenalkan kepada para siswa di tingkat sekolah menengah? Bukankah etika bisnis lebih penting dan relevan untuk diperkenalkan kepada para pebisnis, pelaku usaha, atau mereka yang sehari-hari bergelut dengan bisnis?

Mencegah kebakaran atau memadamkan api?

Pertanyaan di atas berangkat dari asumsi bahwa etika bisnis mestinya diperkenalkan kepada para pebisnis agar mereka selalu menyertakan pertimbangan moral dalam praktik bisnis yang mereka jalani. Setiap hari para pebisnis menyaksikan, bahkan melakukan, praktik bisnis curang. Dengan menstimulasi kesadaran moral dalam bisnis diharapkan mereka mengutuk praktik bisnis yang tidak etis, tidak melakukan praktik bisnis yang curang; atau kalau pernah melakukannya, para pebisnis ini bisa kembali mempraktikan bisnis yang etis.

Pendidikan etika bisnis, seolah-olah merupakan upaya “memadamkan api” dalam bentuk praktik bisnis yang tak etis. Padahal, praktik bisnis yang etis mesti dibangun pertama-tama melalui pengetahuan dan pemahaman  konseptual tentang etika dan penerapannya dalam bisnis agar siapa pun yang berkecimpung dalam bisnis, memasukan pertimbangan moral dalam keputusan dan praktik bisnis. Dan pengetahuan dan pemahaman seperti ini sepatutnya digalakkan pada setiap level pendidikan.

Jika asumsi bahwa etika bisnis lebih relevan diberikan kepada mereka yang sehari-hari terjun dalam bisnis, muncul pertanyaan, apakah kuliah etika bisnis bagi para mahasiswa di perguruan tinggi relevan? Toh para mahasiswa yang mengikuti kuliah etika bisnis bukan orang yang sehari-harinya secara langsung bergelut dengan bisnis.

Pendidikan, termasuk pendidikan etika bisnis, merupakan sebuah proses belajar; sebuah proses penyadaran diri. Proses ini bejalan sangat panjang. Proses bagaimana para perserta didik mengembangkan diri dengan memahami ilmu, pengetahuan, dan kebijaksanaan moral sebagai pribadi dan sebagai anggota masyarakat, serta lingkungan dimana ia hadir. Maka tidak keliru jika diberikan sejak dini.

Di AS beberapa sekolah melakukan program Junior Achievement’s Excellence through Ethics termasuk etika bisnis. Program ini tidak hanya memberikan kepada para siswa pengalaman pendidikan yang menarik melainkan juga offers students learning opportunities to share knowledge and information regarding ethics in business…. to show students how business works, and to better evaluate organizations that conduct their operations in the right way. …All these activities provide students with current and essential information about business ethics. These activities are designed to reinforce students’ knowledge and skills, teach them how to make ethical decisions, assist them in learning to think critically, and help them to be better problem-solvers.

Metode yang digunakan pun disesuaikan dengan kebutuhan kemampuan anak-anak. Yang pasti adalah program ini mestimulasi anak-anak melalui pertanyaan-pertanyaan tentang problem real yang sederhana untuk mengembangkan penalaran moral. Materi yang diberikan dalam program tersebut adalah: (a) an introductory discussion of business ethics, marketplace integrity, and the growing capacity of students for ethical decision-making; (b) activities and student materials that connect to and expand current classroom-based Junior Achievement programs; and (c) a functional glossary of terms relating to a wide spectrum of ethics, quality, service, and social responsibility considerations in business.

Tujuannya jelas. Para siswa sejak dini diperkenalkan dengan persoalan etika bisnis agar dapat melihat, mempertimbangkan, dan mengambil keputusan secara tepat berkaitan dengan persoalan-persoalan bisnis.

Philosophy for children

Sebagai bagian dari etika terapan, etika bisnis memang tak bisa dilepaskan dari filsafat. Etika bisnis menjawab pertanyaan mengapa bisnis mesti memperhatikan nilai-nilai moral? Yang dihasilkan dari etika bisnis tidak terutama tindakan bermoral melainkan memberikan alasan-alasan yang memadai, rasional, dan kritis mengapa bisnis mesti bermoral? Etika bisnis menjawab pertanyaan mengapa? Bukan apa dan bagaimana?

Pernyataan soal bagaimana bisnis mesti dijalankan menurut prinsip-prinsip tertentu dapat dijawab secara lebih memadai dalam kode etik profesi. Tetapi wilayah etika bisnis bergelut dengan persoalan mengapa bisnis mesti mempertimbangkan nilai-nilai moral tertentu?

Belum lama ini, terutama di negara maju, sudah muncul upaya untuk memperkenalkan filsafat kepada anak-anak. Filsafat yang tekesan angker, abstrak, teoretis, dan sulit itu dapat diperkenalkan kepada anak-anak, tentu dengan metode yang sesuai dengan tingkat pemahaman anak-anak. Karakter filsafat yang skeptis, kegemaran bertanya dan mempersoalkan segala sesuatu secara mendasar, rasional, argumentatif, sistematis, dan koheren itu diyakini harus dibentuk sejak dini.

Keengganan memperkenalkan etika bisnis kepada anak-anak di tingkat sekolah menengah, sebagian (mungkin) karena orang menyamakan etika bisnis dengan kode etik bisnis atau kode etik profesi. Yang perlu diberikan kepada mereka yang sudah terjun dalam bisnis bukan hanya etika bisnis melainkan, terutama, kode etik bisnis atau kode etik profesi. Para siswa di level menengah pertama atau menengah atas, tidak memiliki kode etik profesi. Pelajar bukan profesi. Kode etik profesi menunjukkan prilaku yang dituntut dan prilaku mana yang dilarang dari profesi tertentu. Etika bisnis melampaui kode etik. Jika kode etik sebuah profesi menegaskan bahwa para anggota profesi tersebut harus jujur, taat, atau bertanggungjawab, etika profesi dan dengan demikian juga etika bisnis mempersoalkan mengapa sebuah profesi misalnya harus jujur, taat, atau bertanggungjawab? Apa dasar dari kejujuran, ketataan, dan tangungjawab tersebut? Mengapa nilai-nilai moral semacam ini perlu dituntut dari pada pebisnis?

Anak-Anak sebagai objek bisnis

Salah satu alasan lain yang perlu dikemukan di sini adalah karena praktik bisnis yang tak etis, baik secara langsung mau pun tak langsung, berkaitan dengan kepentingan anak-anak.

Anak-anak tak jarang menjadi objek eksploitasi dalam praktik bisnis. Dalam bisnis periklanan misalnya, anak-anak sering menjadi korban iklan yang tidak etis. Napoleon M. Mabaquiao Jr. dalam Ethics of Business Ads Directed at Children (2012) menulis, “children advertising or business ads directed at children cannot be justified on moral grounds. It is argued that while the persuasive intent of business ads in general does not always lead to the manipulation of consumers, children’s yet undeveloped or general lack of the capacity to make autonomous, rational, or free and informed buying decisions renders business ads directed at them necessarily manipulative”.

Pemahaman prinsip-prinsip moral melalui etika bisnis membentuk kesadaran dan otonomi moral sebagai kekuatan internal untuk secara bebas mempertimbangkan secara kritis dan menentukan konsumsi mereka dan tidak mudah diperdaya oleh iklan atau produk-produk yang setiap hari membanjiri kehidupan mereka.

Mulai dari yang sederhana

Carole Marsh, penulis buku Bussines Ethics & Etiquette for Students – You Must Know These! memberikan metode dan membahasakan secara sederhana bagaimana pendidikan etika bisnis dapat diberikan kepada para siswa di tingkat sekolah menengah (SMA, SMP). Pembahasan tentang etika bisnis dapat dimulai dari hal sederhana dan dikenal luas oleh siswa-siswi.  Misalnya, dalam kasus karyawan yang suka membawa pulang klip kertas, penghapus, karet gelang, atau pensil milik perusahaan, apa pandangan anda? Yang pasti anda akan bertemu dengan pandangan yang bebeda-beda soal ini, entah dari orang yang berbeda atau pada waktu yang berbeda. Ada yang mengatakan orang tersebut mencuri, dan ada yang mengatakan bahwa orang yang melakukannya hanya karena malas membelinya; lupa; atau mungkin sedang dibutuhkan. Tentu kasus ini berbeda dengan orang yang mencuri mobil atau mengalihkan asset perusahaan menjadi miliki pribadi atau kelompok lain.

Apakah ini mencuri? Bagaimana menurutmu? Apakah tidak salah orang mencuri roti dari tetangga yang kaya untuk anaknya yang kelaparan?

Sebuah persoalan etis tidak bisa dilihat secara hitam putih saja. Diperlukan pertimbangan yang lebih luas, komprehensif, dan holistik. Dengan mencermati dan menganalisis secara etis kasus yang sederhana di atas, para siswa secara perlahan tetapi pasti dibimbing masuk ke persoalan etis yang lebih luas.

Di sini tujuan pendidikan etika bisnis agar para siswa memiliki pemahaman, petimbangan, dan sensibilitas etis tercapai.

Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan di atas, saya berkeyakinan bahwa etika bisnis seharusnya mulai diperkenalkan sejak dini dalam lembaga pendidikan di tingkat menengah dan tinggi. Karena pendidikan etika bisnis,  terbukti mestimulasi moral reasoning dan sensibilitas kesadaan etis para siswa dan mahasiswa.

Pendidikan etika, termasuk etika bisnis diharapkan mampu mengantar orang sampai pada tahap perkembangan moral yang otonom. Dalam Bahasa Kholberg disebut post-konvensional. Yakni tahap di mana orang memiliki kesadaran dan penalaran moral yang otonom. Orang yang memutuskan tindakan moral berdasarkan  prinsip-prinsip dan cita-cita moral absolut-universal yang diyakini kebenarannya dari pada sekadar memperhitungkan keuntungan, kepentingan-diri sendiri, atau ketentuan hukum yang berlaku (Fang, 2017).

Penelitian yang pernah dilakukan oleh Abrar Alzankawi (2017) di Dublin Business School menunjukkan bahwa pendidikan etika bisnis mampu meningkatkan 69.05% pemahaman dan sensivitas etis peserta didik. Tentu yang diharapkan agar di kemudian hari sensivitas etis menentukan prilaku mereka dalam bisnis untuk selalu bertindak menurut kaidah-kaidah etis.

Etika bisnis bagi mahasiswa

Harus diakui bahwa banyak studi telah dilakukan untuk mengukur pengaruh pendidikan etika bisnis bagi persepsi, pemahaman, dan sensiblitias etis mahasiswa.

Penelitian dan publikasi yang dilakukan Nugraha, Herawati, dan Julianto (2019) pada mahasiswa akuntansi Undiksha, membuktikan bahwa  pendidikan etika bisnis dan profesi, serta perkembangan moral, berpengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku etis.

Penelitian yang dilakukan oleh Wati dan Bambang (2016), meskipun tidak signifikian, masih terdapat pengaruh pendidikan etika bisnis terhadap perspesi etis mahasiswa.

Julie A. B. Cagle dan M. Baucus (2006) dalam Case Studies of Ethics Scandals: Effects on Ethical Perceptions of Finance Students, menyatakan bahwa kasus-kasus malpraktik dalam bisnis dapat dipakai sebagai media pembelajaran etika bisnis bagi siswa atau mahasiswa agar kelak dapat mengambil keputusan etis secara tepat. Studi yang dilakukan oleh Cagle dan Baucus (2006) menunjukkan bahwa studying ethics scandals positively impacts students’ ethical decision making and their perceptions of the ethics of business people.

Studi yang dilakukan oleh Mahfud Sholihin dkk di Jogyakarta (2020)  menunjukkan hasil yang sama. Bahwa pendidikan etika bisnis mampu meningkatkan self-efficacy peserta didik (Sholihin, 2020). Ketika berhadapan dengan persoalan etis, orang dengan self-efficacy tiggi akan memilih untuk selalu mengedepankan pertimbangan etis (Schwarzer & Jerusalem, 2010). Huang dan Lin (2019), sebagaimana dikutip Sholihin (2020) menyatakan bahwa kesadaran dan prilaku etis merupakan bagian pokok dari pendidikan dan training etika bisnis.

Berdasarkan studi-studi ini, tidak ada alasan untuk tidak memperkenalkan etika bisnis kepada siswa dan mahasiwa. Kesadaran dan penalaran moral tidak tumbuh dalam semalam atau semudah membalikan telapak tangan. Butuh proses. Dengan memperkenalkan etika bisnis kepada para siswa dan mahasiswa, dunia bisnis di masa depan diharapkan lebih bermoral. Lebih baik mencegah dari pada mengobati.*