BERTANDANG DI TANAH HUMBA – BUMI MARAPU

213
Pantai Walakiri, Sumba pada suatu senja. (ist)

Puisi-puisi Simply da Flores, Harmoni Institut

MENERJANG TERIK DI PADANG

Kuda-kuda Sumba melintas padang gersang
lewati kemarau panjang
Awal Desember ini menyongsong musim hujan kembali
damba hijau rerumputan
segera tiba puaskan kerinduan

Petir menyalak dari arah timur
gelegar gemuruh dan kilat dari barat
puting beliung sekonyong halau angin selatan
kabut hitam dan hujan lebat dari utara
Ada apa gerangan,
musim alam tidak seperti biasanya?

Di pelataran rumah adat dan kuburan leluhur
kuda-kuda padang datang berlindung
kawanan kerbau sekonyong berbaris bisu merunduk

Dalam diam dan cemas ada suara lirih berbisik
masihkah ada Umbu dan Rambu di tanah Humba
masikah ada Nyale dan Pasola
di manakah ritual adat budaya Marapu
mengapa hawa panas saat musim hujan tiba

DI ATAS BATU KARANG

Padang Savana terbentang,
itu lembaran hidup kami
Batu karang terhampar,
itu tulang belulang kami
Alam Humba,
itu rahim dan ladang kehidupan kami
Bumi Marapu
itu nurani jiwa, pemilik, asal dan tujuan kami

Seribu kuda berlari,
gelora semangat perjuangan kami melumat hamparan batu karang jadi darah daging

Sejuta nyale
adalah belaian kasih semesta memelihara napas dan detak jantung kami

Kami tidak pernah meminta terlahir di atas hamparan batu karang ini,
kami hanya syukuri takdir Sang Marapu
kami hanya jalani kearifan yang diwariskan leluhur
kami tahu ini zaman Milenial
Putra-putri kami pun banyak ikut belajar ilmu dan teknologi
Tapi, jiwa raga kami tetap pewaris Humba
Putra-putri generasi Marapu

Maka….
Kami bukan seperti yang engkau katakan
Itu kata-katamu, milikmu, keinginanmu dan dirimu
Kami generasi Pewaris Humba
Kami putra-putri Marapu

Kami sudah dengar dan tahu
Siapa dirimu
Apa maumu
Apa katamu
Untuk siapa upayamu
Mengapa engkau datang ke tanah ini dengan seribu janji
dan nanti pergi lagi
setelah jabatanmu usai
atau bisnismu selesai

Kami sudah rasakan sekian pejabat sebelum engkau
Kami sudah memberi dan terus akan memberi
Termasuk jiwa raga kami
Jika katamu sama dengan isi hatimu dan perbuatanmu
Jika nasib kami, suka duka kami adalah nasibmu dan suka dukamu
Jika engkau dan rombonganmu mau menghargai dirimu dan tahu siapa dirimu

Bagi kami orang Humba,
apalagi pemangku adat warisan leluhur,
barang, jabatan, harta milik, adalah titipan
bukan milik siapa pun
Tapi jika kami dihina oleh penghinaan dirimu karena jabatanmu
Maka, kami hanya bisa memeluk hamparan batu karang dan bertanya
“Mengapa kami terlahir di sini?
Apakah kami, orang tua dan leluhur yang hadirkan kami,
sungguh bukan manusia di tanah Humba – Bumi Marapu” ?

Karena kami tidak punya jabatan dan senjata,
karena kami tidak punya uang dan harta,
karena kami tidak punya gelar akademik dan jaringan bisnis,
maka hanya kepada hamparan batu karang ini kami berpasrah,
hanya pada kuburan leluhur kami bertanya
hanya ke rumah adat dan tempat ritual kami mengadu

Mengapa kami terlahir di sini
untuk dipenjara dan dihukum?
Untuk dicap aneka binatang dan diancam?
Untuk jadi korban janji-janji
Atau …untuk apa…..?

 

Selamat datang di Sumba; junjung langitnya, pijak buminya. (Foto: Willy)

BUNYI GONG, GENDANG DAN TARIAN

Ada gema tabuh gendang bertalu-talu
Ada riuh berirama bunyi gong menggetarkan

Ada “kakalak” – pekikan heroik berirama
Ada yang menari dengan lincah
Para lelaki berpakaian adat penuh wibawa
Para perempuan dan gadis berbusana kain tenun aneka warna dan motif

Binatang korban disembelih dan dibagikan kepada anggota keluarga
Ada yang dimasak untuk makan bersama
Entah….!
harus bertanya ada hajatan apa

Kita pendatang
baru melihat yang terjadi
tapi tidak paham apa makna dan artinya
Nanti kita tanyakan pada pemandu dan mereka yang paham
Sepertinya ada pesta adat budaya Sumba

Dari pelataran rumah adat kampung tua
di deretan kubur batu
ada ritual dan para tetua daraskan mantra sambil persembahkan sajian bagi alam, leluhur dan Sang Pemilik Semesta
Semua gembir ceria,
tetapi terlihat khidmad dan sakral

Hadir di kesempatan istimewa ini
banyak rasanya yang sepertinya dipahami
Namun, ternyata belum mengerti makna dan tahu arti
sebuah kejadian adat budaya sakral
Bukan hanya di tanah Humba – Bumi Marapu

Bukan hanya di sini
Tetapi di Nusantara ini ada aneka komunitas adat budaya dan suku
yang perlu dikenal, dipahami dan dimengerti
sehingga bisa dihargai untuk saling melengkapi karena saling membutuhkan

Wow… Luar biasa
Tabuh gong gendang makin semarak
tarian heroik penuh semangat berlanjut
Kami pendatang larut dalam sukacita dan sakralnya hajatan adat budaya masyarakat adat di tanah Sumba, Bumi Marapu