Puisi-puisi Asti Nurrahmatuti dengan Latar Belakang Thionghoa

72

 

CHEONGSAM

Amei kepada Laushan
Cheongsam itu untuk siapa, Tuan?
Warnanya indah penuh suka cita
Guratan polanya menghadirkan lambang cinta
Cheongsam ini istimewa, ya?

Tuan, cheongsam ini terbuat dari sutra
Halus, sehalus budi bahasa Tuan
Ibu suri atau permaisuri yang akan mengenakannya?

Laushan kepada Amei
Dianugerahkan kepada seorang wanita paling setia
Kesetiaannya mengalahkan merpati
Tulus hatinya mengalahkan putihnya mega
Ia tidak sebanding dengan seluruh harga emas
Aku menemukannya bagaikan mencari jarum dalam jerami
Tidak hanya teliti atau jeli namun perlu hati-hati
Hati-hati menaruhkan hatiku kepadanya
Aku ingin segera mendapatkan jiwanya
Menaruhkan rohku dalam setiap keturunannya

Wanita itu pasti sangat istimewa

Lantas mengapa engkau hanya diam membisu
Kenakanlah
Wajahmu yang seputih susu
Kulitmu yang sehalus kapuk randu
Dan binar-binar matamu
Kenakanlah, ini sebuah perintah
Sangat memesona

Minggu depan kita pakai Cheongsam ini bersama-sama
Aku dan kamu berdiri dalam satu altar disaksikan kongco
Diberkati oleh yang mulia Huang Tian
Dikelilingi oleh wanginya hio

Tuhanku Tian,
Aku memilih wanita ciptaanmu ini
Berkatilah kami, satukanlah jiwa kami
Huang I Shan Ti
Wei Tian You De
Shancai

Klenteng Poncowinatan,
21 September 2021

 

GADIS CINA MISTERIUS

Selamat pagi, kongco
Selamat pagi, anakku

Pagi yang kelabu dirunutnya segala sembilu
Gadis Cina sederhana yang sedang menangis pilu
Terhunus hati oleh belati, siapa pula yang tidak akan haru?

Kedua tangannya bergetar memegang hio
Diletakkannya satu persatu dalam hio lo
Komat-kamit bibir indahnya mengucapkan doa
Saat hatinya hampir mati dan hidupnya di ujung duri

Gadis cina bermata sayu itu merintih
Dipandanginya wajah kongco yang welas asih
Saat ini hanya dia, kongco, dan tuhan yang tahu
Disaksikan oleh tiga batang hio
Ada apa dengan gadis itu?

Bulir airmata jatuh di pelupuk mata
Ketika ia mencoba untuk percaya
Ketika ia mencoba untuk senyum di atas luka
Ketika ia berdiri dan mencoba berkata
“Aku tidak apa-apa”

Gadis misterius itu keluar dari litang
Dengan segenap sisa rasa hancurnya
Dengan senyum yang belum sepenuhnya terkembang
Gadis itu pulang dengan sedikit lega

Klenteng Poncowinatan,
21 September 2021
HIO DAN TANGANKU

Kupegang hio di tanganku
Kutengadahkan tanganku di altar
Kulayangkan doa-doa untuk kita
Untuk kita yang sedang tidak baik-baik saja
Untuk kita yang sedang dirundung murka
Untuk kita yang sudah tidak mengenal kata percaya

Kupegang hio di tanganku
Kumohonkan kepada Tian atas penobatan dosa-dosa
Apabila rongga diantara kita terbentuk karena dosa
Kupegang hio di tanganku
Kubakar kertas itu untuk membuang kesialan ini
Barangkali renggangnya kita karena sial semata

Kupegang hio di tanganku
Kubersihkan sisa-sisa abunya
Barangkali kita saling tak percaya karena kotornya hati kita
Kupegang hio di tanganku
Barangkali warna merahnya memberuntungi kita
Menyatukan kita kembali seperti sediakala

Kupegang hio di tanganku
Kuberdoa atas luka dan derita
Sekiranya aku, kamu baik-baik saja

Klenteng Poncowinatan,
21 September 2021

MEMORI SEBUTIR BAKPIA

Apakah Nona masih ingat bakpia seperti ini?
Kulitnya putih, seputih wajah Nona yang ayu
Isinya lembut, selembut Nona yang anggun
Aku merindukan bakpia ini
Aku merindukan Nona
Kala terakhir aku menemui Nona kita berdua di sini
Menikmati seporsi bakpia kacang yang manis
Semanis senyuman Nona yang tulus

Ke mana kau pergi, Nona manis?
Kini aku menikmati sepotong bakpia ini sendiri
Bukan bersamamu lagi

Di mana kau sembunyikan batang hidungmu yang mancung itu?
Aku rindu menatap bola matamu
Nona, mengapa kau tinggalkan daku?
Ada apakah gerangan yang menghantuimu?
Nona, kau seperti hantu saja
Tiba-tiba menghilang tiada bekasnya

Nona, kutitipkan rinduku pada uap-uap hangat bakpia
Yang kutiup dan terbawa oleh angin menuju seluruh semesta
Semoga buah kerinduanku sampai pada tanganmu
Semoga engkau kembali lagi ke kedai bakpia ini
Sehingga kita bisa bertemu kembali

Toko Bakpia Tanpa Nama di Yogyakarta,
24 November 2021

Asti Nurrahmatuti, lahir pada tahun 2003 dengan nama mandarin Li Huang Mei. Dia adalah mahasiswi program studi Sastra Indonesia di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Tradisi keluarganya yang kental membuat Asti menempatkan budaya Tionghoa sebagai kiblat inspirasi sajak-sajaknya.