Teringat George Kardinal Pell

100

Ans Gregory da Iry, Kota Bogor

TEMPUSDEI.UD (10/11/21)-George Kardinal Pell, mantan pejabat keuangan Vatican dan sebelumnya adalah uskup agung Sydney dan uskup agung Brisbane, Australia.

Merayakan Natal di Katedral Sin’t Mary.

Pada awal Desember 2005, saya dan istri terbang ke Sydney. Seperti biasa hari Minggu siang itu kami mengikuti misa di katedral yang dipersembahkan Kardinal Pell. Hari itu umat yang hadir banyak, hampir semua bangku baik di barisan tengah maupun barisan samping kiri-kanan, terisi penuh. Karena kami datang lebih awal, kami menduduki bangku di barisan tengah, pada pada jarak yang dekat ke altar.

Misa mulia itu berlangsung khidmat dengan paduan suara dan iringan organ yang merdu dan syahdu. Kardinal Pell membawakan homili yang berisi pesan-pesan kepada umat agar memperiapkan diri sebaik-baiknya, terutama secara rohani untuk menyambut Sang Juruselamat. Yesus Kristus. Pada waktu komunio, kardinal membagikan komunio di depan altar kepada umat yang duduk di bangku-bangku jalur tengah dekat altar, sedang imam, diakon dan prodiakon membagikan komuni untuk umat lainnya. Misa berlangsung sekitar 90 menit dan diakhiri dengan berkat penutup dan setelah itu Kardinal dan misdinar meninggalkan altar dan berarak ke arah pintu utama katedral dan berdiri di situ untuk menyalami dan bertegur sapa sebentar dengan umat dan wisatawan yang akan keluar katedral.

Bersama istri di Australia.

Kami bertiga dan Heru, temannya Yosef, berjalan keluar melalui pintu utama, karena kami ingin bertemu dan bersalaman dengan Kardinal. Di depan dan belakang kami banyak orang yang antri mau bersalaman dan foto bersama kardinal. Seorang ibu wisatawan dari Philipina minta saya membantu mengambil foto dia dan teman-temannya bersama kardinal. Saya dengan senang hati membuat foto mereka dengan kamera si ibu. Tapi langsung saya minta dia untuk sekalian mengambil foto kami dengan kardinal, dan dia mengambil foto yang dapat Anda lihat di halaman ini.

Selesai foto, Kardinal Pell bertanya dari mana kami datang, dan saya jawab bahwa kami dari Irian Jaya (kini Papua), Indonesia. Kardinal diam sejenak sepertinya sedang terpikirkan olehnya akan sesuatu. “You, from Jayapura, Irian Jaya?” katanya. Saya jawab, “No, your Excellency, we are from Timika, but in the same diocese of Jayapura”. Lalu dia bercerita bahwa dia pernah mengunjungi Jayapura untuk suatu urusan dan bertemu dengan uskup Jayapura. Itu terjadi sudah beberapa tahun lalu, tetapi dia masih teringat akan kunjungannya ke Jayapura dan beberapa kota lainnya di Indonesia.

Sebenarnya saya masih ingin bertanya lebih lanjut tentang kunjungannya tersebut dan bagaimana kesan-kesannya. Tetapi istri saya mencolek pinggang saya sambil berbisik, “Sudah pak, kasihan itu banyak orang antri di belakang ingin bersalaman dengan kardinal”. Maka saya tidak jadi bertanya lagi kepada kardinal tetapi berpamitan dengan berjabatan tangan sambil berkata, “Thank you very much, Excellency. God bless you”. Kardinal berucap singkat, “Enjoy your visit here in Australia”.

Bertahun-tahun lalu.

Pendidikan dan Pembinaan Calon Imam

Beberapa hari terakhir ini saya teringat akan Kardinal Pell, setelah memeriksa foto-foto lama dan menemukan sebuah foto kami dengan dia. Pertemuan kami itu sudah terjadi 16 tahun lalu. Tetapi saya kok merasa penasaran dengan kunjungan Pell ke Jayapura: dalam rangka apa, bertemu siapa dan sebagainya. Maka saya menghubungi Edhardus Desa atau lebih dikenal dengan Hardus Desa, senior kami di Seminari Mataloko, Flores, angkatan 1960-1970, yang menjadi rasul awam dan tokoh Katolik dan Kristen di keusukupan Jayapura, yang sudah puluhan tahun berkarya di keuskupan ini. Lewat WA, saya mendapat jawaban Hardus berdasarkan pembicaraannya dengan Uskup Jayapura Mgr. Leo Laba Ladjar OFM.

Beberapa belas tahun lalu pada masa Santo Johanes Paulus II masih menjabat sebagai Paus dan kepala negara Vatican, pihak Komisi Pendidikan Imam Vatican/Roma ingin mendapat gambaran mengenai Pendidikan Imam di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Maka dibentuklah banyak tim yang akan bertugas untuk mengunjungi dan meninjau proses pendidikan Imam di seminari-seminari menengah dan tinggi. Uskup Agung Brisbane, Australia Mgr. George Pell (waktu itu belum diangkat jadi kardinal) dan Uskup Jayapura Mgr. Leo Laba Ladjar berada dalam satu tim. Dan tugas mereka adalah meninjau beberapa seminari di kawasan Indonesia Tengah dan Timur, yaitu Seminari Menengah di Makassar, Seminari Tinggi Pineleng di Sulawesi Utara dan Seminari Tinggi Fajar Timur di Abepura, Jayapura. Kunjungan ini berlangsung pada tahun 1998.

Menurut Hardus Desa, hasil dari kunjungan itu dikirim langsung ke Roma, tidak ada diskusi-diskusi khusus di Indonesia mengenai hasil kunjungan itu. “Apa yang dilaporkan itu, tidak menjadi konsumsi umum,” tulis Hardus dalam pesan WA. Lebih lanjut dia menegaskan bahwa ini juga bukan suatu studi komparasi pendidikan Imam di Indonesia dan Australia, dan juga bukan suatu kerja sama antara gereja Katolik Indonesia dan Australia. ‘Ini suatu kunjungan umum untuk mendapatkan informasi menyeluruh mengenai formatio para calon imam, yang menyangkut sarana, program, formator, dll’,” demikian pesan Hardus, yang waktu kunjungan tersebut pada 1998 adalah Sekretaris Keuskupan Jayapura.

Pagi ini, Selasa, 9 November 2021, saya menerima pesan lewat WA dari Uskup Jayapura Mgr. Leo Laba Ladjar OFM, yang juga menegas-ulang apa yang disampaikan Hardus Desa di atas. Visitasi atau kunjungan pada 1998 itu dibuat untuk semua seminari tinggi di Indonesia. Visitator terdiri dari beberapa grup dan tiap grup beranggota dua orang uskup. “Saya dan Uskup George Pell untuk Seminari Tinggi Yerusalem Baru, Jayapura (atau STF Fajar Timur?), Seminari Tinggi Pineleng dan Makassar (yang ada di Yogya). Acaranya adalah percakapan dengan para pendidik mengenai pembentukan rohani dan intelektual. Laporan dikirim ke Roma dan yang selanjutnya mungkin memberikan rekomendasi untuk masing-masing seminari, yang kami sendiri tidak ikuti lagi. Itu saja,” tulis Mgr. Leo menutup pesannya melalui WA.

Bogor, 9 November 2021