Jauh Sebelum Kemerdekaan Pemuda Katolik sudah Berperan Penting Satukan Bangsa

165
Para narasumber dan peserta Webinar.

JAKARTA, TEMPUSDEI.ID (26/10/21)-Sumpah Pemuda menjadi pengingat bahwa sejak sebelum kemerdekaan, Pemuda Katolik sudah berperan penting dalam membangun persatuan dan kesatuan bangsa. Buktinya Kongres Pemuda II hari pertama dilaksanakan di Gedung Katholieke Jonglingen Bond (KJB) yang saat ini menjadi bagian dari Gereja Katedral Jakarta.

Hal tersebut dikatakan Yulius Wahyu Tri Utomo, Ketua Pemuda Katolik Komisariat Cabang Jakarta Pusat ketika berbicara Webinar bertajuk “Refleksi Sumpah Pemuda dan Menyambut Sinode Gereja Katolik”.

Webinar yang dilaksanakan pada 23 Oktober 2021 tersebut menghadirkan narasumber Yustinus Prastowo, Staf Khusus Menteri Keuangan Republik Indonesia; Romo Frans Kristi Adi, Pr Sekretaris Komisi Kepemudaan KWI; Agatha Lidya Nathania, Perwakilan Orang Muda Indonesia untuk Vatikan, dan Novita Sari, Wakil Komisariat Daerah Bidang Lingkungan Hidup Pemuda Katolik Komisariat Daerah DKI Jakarta.

Lebih lanjut kata Wahyu, bangsa Indonesia harus berbangga karena jauh sebelum pidato Marthin Luther King yang menghapuskan diskriminasi ras (gerakan Apartheid) di Amerika pada tahun 1963, ternyata kita sudah lebih dahulu mendeklarasikan sumpah pemuda yang mengutamakan kepentingan umum di atas kepentingan kelompok, dengan bersepakat akan bangsa yang satu, bahasa yang satu dan tanah air yang satu yaitu Indonesia.

Terkait dengan Sinode Gereja Katolik yang akan dilaksanakan hingga tahun 2023, Wahyu berharap, Pemuda Katolik dapat turut berperan dalam memberikan saran dan masukan bagi Sinode, sehingga Gereja Katolik akan tetap relevan dalam menghadapi kemajuan jaman.

Sementara itu, Romo Frans Kristi Adi, mengatakan dalam dokumen Christus Vivit no. 168 panggilan yang pertama dan terutama adalah perbuatan kasih, dalam keluarga, sosial, dan politik. Orang muda adalah anak-anak Allah yang unik, pemimpin bagi diri sendiri dan keluarga, dan dianugerahi dengan talenta dan banyak potensi untuk itu Romo Kristi mengajak orang muda untuk dapat menanggapi panggilan tidak hanya di altar tapi juga di pasar, sungguh-sungguh membangun persahabatan sosial, komitmen di bidang politik dan juga kegiatan sosial.

Yustinus Prastowo mengingatkan ajakan Paus Fransiskus agar kaum muda berkemampuan melihat penderitaan dan kematian, berbelarasa, mendekat dan menyentuh, berani terlibat dan bertindak. “Politik dan ranah publik adalah sarana keselamatan, karena memungkinkan rahmat Allah bekerja melalui kebijakan-kebijakan publik yang baik, yang mewujudkan kesejahteraan dan kebaikan bersama,” ujar Yustinus.

Di akhir pemaparannya, Yustinus menawarkan metode CARA yaitu Cognitive, Affective, Reflective, dan Action, untuk terlibat di ruang publik.

Agatha Lidya Nathania sebagai perwakilan Indonesia dalam pembukaan Sinode di Vatikan, menyampaikan bahwa hal yang spesial dari sinode ini adalah keterwakilan orang muda, kaum awam dan perempuan. Sinode tahun ini ingin mewujudkan Gereja yang inklusif, terbuka terhadap kaum marginal yang sering terpinggirkan dan mendengarkan mereka.

Agatha, panggilan akrabnya, mengajak orang muda untuk ikut aktif dan berinisiatif dalam mengawal Sinode sehingga partisipasi orang muda semakin besar dalam perjalanan bersama Gereja yang sinodal.

Novita Sari dalam pemaparannya memberikan semangat kepada orang muda agar melangkah untuk merawat rumah bersama. Dia memberikan penekanan untuk bertindak dengan berdasarkan head, heart dan hand agar lebih memiliki kesadaran dalam menjaga bumi kita.

Novita mengatakan, “sebagai orang beriman Kristiani kita harus menjaga relasi harmonis dengan Tuhan, sesama dan alam ciptaan Tuhan.” (Tim Media Komcab Jakpus)