“Rahmat Terselubung” di Balik “Pick Up Butut” Penjemput Atlet Peraih Medali Emas

8536
Kondisi rumah Susan Ndapataka, peraih Medali Emas PON. Di rumah ini ia rajut mimpi menjadi atlet profesional. (foto: kompas.com)

TEMPUSDEI.ID (9 OKTOBER 2021)-Ketika foto yang merekam penjemputan atlet NTT Susanti Ndapataka, peraih Medali Emas di PON Papua menggunakan mobil pick up butut beredar di Medsos dan berbagai media online, termasuk melalui media ini, tanggapan dari berbagai kalangan bagai banjir. Hampir semua menyayangkan penjemputan semacam itu. Tidak sedikit yang marah. Kebanyakan amarah mereka terarah ke Pemda NTT.

Pemda provinsi kepulauan ini dinilai tidak memiliki kepedulian dan apresiasi kepada “anak kandungnya” yang telah mengukir prestasi dan mengharumkan nama NTT di tingkat nasional. “Entah orang semacam atau atau seperti apa lagi yang patut mendapat apresiasi dari Pemda NTT ini,” begitu nada semua “kemarahan” masyarakat. Ada yang menulis komentar di Medsos: Dapat emas saja, dijemput begitu, kalau perak dan perunggu, pasti naik ojek. Yang tidak dapat apa-apa, siapa-siap jalan kaki.

Susan menerima bonus dari Anggota DPR RI Anita Gah. (Kabarindependen.com)

Simpati Berdatangan

Terlepas dari alasan sebenarnya sehingga “insiden” penjemputan menggunakan pick up itu terjadi, peristiwa itu telah mengundang sangat banyak perhatian khalayak ramai. Masyarakat yang tadinya tidak cukup peduli dengan perhelatan PON, mereka mengarahkan pandangan dan menyendengkan telinga untuk tahu aneka hal menyangkut PON Papua, khususnya tentang “apa dan siapa” Susan, si anak bungsu buah cinta Maskur Ndapataka dan Fatimah Kopong (mendiang) itu.

Individu atau kelompok masyarakat pun menunjukkan simpati kepada Susan dan keluarganya. Keadaan keluarga Susan yang sangat sederhana, namun melahirkan atlet berprestasi mendapat catatan tersendiri. Ada yang berharap, tumpukan batu di depan rumah Susan segera bersalin rupa menjadi rumah yang layak.

Rumah yang terletak di Desa Kuamasi, Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang, itu hanya beratap daun, berdinding pelepah pohon gewang, dan berlantai tanah.

Namun di rumah inilah, Susan menenun mimpi besar menjadi atlet professional. Di rumah ini pula tertenun cinta bersama ayah dan ketiga saudaranya.

Dengan penghasilan amat kecil sebagai gembala dan petani lahan kering, pendapatan Maskur sangat tidak memungkinkan untuk membangun rumah yang lebih layak.

Dampak dari ingar-bingar di media, tidak kurang dari Anggota DPR RI Anita Gah mengambil langkah cepat menyerahkan bonus sebesar 50 juta rupiah. Sejumlah pengusaha juga secara beragam memberi bonus. Uniknya, ada pengusaha yang memberi bonus “seumur hidup” kepada Susan untuk minum kopi di kedainya secara gratis. Selain itu, pengacara Rudy Kabunang telah menyatakan kesiapannya untuk membiayai kuliah Susan hingga menyelesaikan jenjang S1. Tidak ketinggalan Grup WA “Sumba Menuju Kota Kupang” juga telah mengumpulkan sejumlah uang untuk diberikan kepada Susan. Inisiator grup Umbu Wulang mengatakan, “Ini sebentuk rasa simpati dan dukungan kita untuk atlet berprestasi kita,” kata Umbu Wulang Paranggi.

Wakil Gubernur NTT Josef Nae Soi ketika menerima Susan dan kawan-kawan dalan jamuan sarapan pagi sudah mengatakan bahwa Pemda NTT akan memberi bonus. Menyangkut jumlahnya akan diumumkan pada 17 Oktober. Kita berhadap bonus yang para atlet berprestasi terima cukup untuk menganyam hidup dan prestasi untuk event-event yang lebih bergengsi ke depan.

Susan mengalungkan Medali Emas kepada ayahnya Maskur Ndapataka

Blessing In Disguise

Tanpa bermaksud “membenarkan” penjemputan dengan pick up butut itu, ternyata “insiden” memalukan itu telah menjadi blessing indisguise atau rahmat terselubung bagi Susan. Bisa jadi, jika insiden itu tidak terjadi, nama Susan tidak seberkibar sekarang, dan simpati yang datang tidak sebanyak sekarang ini.

Meski begitu, peristiwa tersebut harus menjadi catatan bahwa ada koordinasi yang macet dan berantakan dalam penjemputan itu. Penjemputan semacam ini seharusnya masuk dalam protokol Pemerintah sehingga siapa pun harus tunduk pada protokol yang diatur dengan tertib. Dengan demikian, tidak terdengar alasan pembenar: “Sudah ditawari mobil, tapi pelatih dan atlet pilih naik pick up!

Selamat untuk Susan, pelatih dan semua yang telah memberikan dukungan. Semoga ke depan Pemerintah dan masyarakat memberikan perhatian yang lebih baik lagi, dan NTT pun beranjak dari ketertinggalan.

Susan sudah memberikan kemampuan terbaiknya dan rasa hormatnya yang tinggi kepada ayahnya dengan langsung mengalungkan medali emas di leher ayahnya di depan rumah yang telah menjadi saksi cinta keluarga dan perjuangan Susan selama ini.* (Emanuel Dapa Loka)

2 COMMENTS

  1. Sayang sekali . Padahal kami di Papua khususnya Merauke sebagai salah satu kabupaten tempat dilaksanakan PON XX, sebagai perantau Yg tergabung dalam ikatan keluarga besar FLOBAMORA Merauke menerima dgn antusias kedatangan atlit asal NTT yang dijemput oleh sesepuh2 IKF Merauke dengan tari tarian, jamuan, dll.
    Hallo apa kabar PEMDA NTT?