Toleransi dan Kesediaan Membuka Mata

125
Pater Kimy Ndelo, CSsR

P. Kimy Ndelo CSsR, Provinsial Redemptoris

Sebuah legenda mengatakan, Abraham, sang “Bapa orang beriman” itu memiliki kebiasaan unik saat sarapan. Dia tidak akan menyentuh makanannya sampai ada seseorang yang lapar datang menemuinya dan dengannya dia berbagi makanan itu.

Suatu ketika seorang pria tua datang dan seperti biasanya Abraham mengundang dia untuk sarapan bersama. Akan tetapi, ketika orang itu berdoa memberkati makanan dengan cara kafir, Abraham terkejut dan marah lalu mengusir orang itu pergi dari rumahnya. Seketika itu juga terdengar suara Yahwe: “Abraham, Abraham! Aku telah memberi makan orang kafir ini setiap hari selama 80 tahun. Tidak bisakah engkau toleran dengan dia sekali saja?”

Yosua ditegur oleh Musa karena tidak menerima kenyataan bahwa ada orang yang mendapat karunia dari Allah walau tak masuk dalam hitungan (Bilangan 11:25-29). Para murid juga diperingatkan oleh Yesus karena mereka mau melarang orang menggunakan nama Yesus untuk membuat mukjizat karena dia bukan murid Yesus (Mrk 9:38-43). Sikap-sikap macam ini sebetulnya dilandasi oleh kecemburuan; mengapa dia dan bukan saya?

Roh bertiup ke mana Ia mau pergi. Allah memilih memberi karunia kepada siapa yang diinginkan-Nya. Tak ada orang yang bisa membatasi kehendak dan kekuasaan Allah. Allah adalah sumber segala kebaikan dan kebaikan bisa ditemukan pada siapa saja dan di mana saja karena diciptakan oleh Allah yang Esa. Berkat Allah bukan monopoli sekelompok orang tertentu.

Karena itu toleransi merupakan keniscayaan dalam hidup bersama. Setiap pribadi mempunyai cara sendiri, keyakinan dan pilihan sendiri, keputusan dan juga iman sendiri. Orang hanya bisa hidup bersama jika ada semangat toleransi. Tanpa toleransi yang dilandasi kerendahan hati, maka yang ada hanya keangkuhan atau kesombongan. Dari sinilah lahir konflik dan permusuhan tiada henti, bahkan oleh orang yang mengakui Allah yang sama.

Toleransi bukan sekadar “membiarkan” orang melakukan apa yang dia mau. Toleransi berarti membuka mata terhadap karya Allah yang jauh lebih luas dari sebuah agama atau sebuah dogma.

Toleransi membuat kita terbuka terhadap kelebihan orang lain. Toleransi juga mengajar kita untuk mengenal keterbatasan kita. Toleransi pada akhirnya merupakan pengakuan akan kebesaran dan keagungan Allah.

Orang yang sungguh beriman akan bersukacita melihat karya Allah terlaksana, tak peduli melalui siapa dan dengan cara apa. Toleransi melahirkan sukacita persaudaraan melampaui batas dan sekat buatan manusia.

Yesus berkata, “Barangsiapa tidak melawan kita, Ia ada di pihak kita”. Sesederhana itu bagaimana memandang orang lain.

Salam toleransi dari Biara Santo Alfonsus-Konventu Redemptoris-Weetebula Sumba, NTT