Dari Ruang Isolasi Pendeta Yewangoe Berbagi Cerita tentang Covid yang Mendera

380
Pdt. Dr. Andreas Ananggruru Yewangoe

TEMPUSDEI.ID (25 SEPTEMBER 2021)

Mantan Ketua Umum PGI Pdt. Dr. AA Yewangoe terpapar Covid-19. Virus mematikan itu sudah sampai ke paru-parunya. Pendeta asal Sumba, NTT ini bersyukur lolos dari impitan virus yang telah menelan jutaan korban tersebut. Berikut renungan sekaligus testimoninya:

Kami, yaitu istri saya dan saya sama sekali tidak menyangkan bahwa akan terpapar Covid-19. Bagaimana tidak? Selama ini kami di rumah saja. Prokes kami taat. Segala sesuatu, kuliah, seminar, rapat, diskusi dilakukan secara virtual. Kami sudah menjalaninya selama Covid merebak. Hingga pada satu hari saya batuk-batuk. Saya anggap batuk biasa saja. Ternyata makin menjadi-jadi. Saturasi oksigen turun ke angka 94.

Saya belum terlalu kuatir juga. Masih minum obat batuk. Lalu saya tes antigen. Kendati kabur, tetapi dianggap reaktif. Lalu saya lapor ke dokter. Dokter menganjurkan bahkan mendesak malam itu juga ke RS, tetapi karena masih ada halangan teknis, baru pagi harinya kami ke RS. Di sana diadakan sejumlah tes untuk saya dan istri. Semuanya mengindikasikan kami terpapar Covid-19. Hasil thorax sungguh mencemaskan terutama saya. Paru-paru kanan sudah penuh dengan bintik-bintik putih dari atas ke bawah. Artinya virus sudah  masuk paru-paru. Paru-paru istri saya relatif masih baik. Dokter mengambil tindakan. Transfusi plasma. Tetapi harus hati-hati sebab kalau unsur-unsur itu saling berperang, akan terjadi badai covid seperti dialami Dedy Carbuzier. Ini bukan tidak mungkin fatal. Tetapi rupanya perhitungan dokter tepat. Sesudah 8 hari kami di thorax lagi. Ternyata paru-paru saya sudah bersih.

Karena paru-paru istri tidak terlalu bermasalah, tidak terlalu banyak persoalan. Karena paru-paru sudah bersih, kami diizinkan pulang. Tinggal isoman 10 hari ke depan. Sekarang kami sudah di rumah.

Apa yang boleh kita pelajari dari peristiwa ini? Pertama-tama pupuk rasa optimisme. Berharap pada Tuhan. Apa saja yang Tuhan putuskan, itu pasti baik. Namun kadang-kadang juga rasa cemas melanda. Tiba-tiba ada RIP Dr. Yewangoe. Pasti ini salah faham. Kebetulan pada saat bersamaan Prof. Sahetapy wafat. Jadi dikelirukan dengan  berita ini.

Hal kedua, selama kami di ruang isolasi, dua orang tetangga penderita wafat. Mencemaskan mendengar ketukan kamar di pagi buta mungkin untuk menutup peti?

Di ruang isolasi ancaman kematian cukup nyata. Batas antara hidup dan mati sungguh tipis. Tetapi Tuhan Kehidupan juga sungguh dekat. Seakan-akan Beliau secara langsung menyapa: “Akulah kebangkitan dan hidup. Lihatlah Aku memberi kehidupan kepada kalian.”

Itulah yang membuat kita optimis. Kita mempertaruhkan dan pasrahkan seluruh kehidupan kita kepada Tuhan yang bangki ini.

Satu hal lagi saya mau singgung. Seluruh dokter dan perawat di RSUD SK Lerrick sangat ramah kendati kami tahu mereka lelah sekali. Berkat Tuhan berlimpah atas mereka.

Anjuran kami, marilah kita taat Prokes. Pelihara imunitas. Tuhan beserta kita.*