Puisi Simply da Flores: Perawan Terluka Bermandi Darah

377
Bundaku Maria

PERAWAN TERLUKA BERMANDI DARAH
(Maria, Mater Dolorosa)

Petir guntur misteri ilahi
menyambar anak dara di siang bolong
tanpa mendung angin dan hujan
merobek jiwanya
luka,hancur dan berdarah
menikam jantungnya
membuka lubang menganga
sebuah mata air darah

Dan…..
Perawan sahaja anak dusun
gadis lugu Nazareth itu
mulai berlari bermandi darah
berbalut sehelai kain
putih polos kepasrahan diri
“Aku ini hamba-Mu ya Allah, terjadilah padaku menurut kehendak-Mu”

Luka dan darah itu dasyat
menggentarkan dan
menghentak jiwa raga belia
mengagumkan tak mampu dijelaskan tuntas kata bahasa
hanya sekali di bumi dan dalam sejarah insani

Gadis dusun terluka parah
tidak mengabari orangtua
ada dilema mencekam
di dalam pikiran dan rasa
antara gentar, malu bingung
tak mampu dipikul sendirian

Perawan sahaja berdarah
memilih pergi menjumpai
saudara perempuannya
terluka mengandung tanpa suami
gentar berdarah pada tunangan
tak cukup kata menjelaskan guntur Sabda dan petir Amanat yang merobek jiwa raganya

Doakanlah kami, ya Bunda

Gadis bermandi darah
didampingi lelaki tua tukang kayu, tunangannya yang juga terluka pasrah diam
menyusuri dusun menuju kota
menyibak misteri tak terselami
cambuk penolakan menambah luka
kepolosan nalar dalam gelap gulita di kandang hewan
menanti misteri Sang Sabda menjelma dan terlahir ke dunia
hanya seorang diri
dirangkul rahasia ilahi
Yang Maha Sempurna
menjadi bayi mungil di palungan kandang binatang
darah Maha Misteri Ilahi kembali membasuh jiwa raga
“Sabda sudah menjadi daging. Dan tinggal di antara kita manusia.
Sabda itu Allah”

Ibu muda yang berdarah
Yosef sang tukang kayu
hanya takjub tanpa kata
sorak-sorai para gembala
nyanyian agung para malaikat
pujian merdu alam semesta
kunjungan istimewa tiga raja
hanya sepintas terasa menghibur
karena pedang penguasa yang mengalirkan banjir darah anak-anak tak berdosa segera mengadang

Perempuan lugu yang berdarah
ditemani lelaki tua sederhana
berlari membawa luka jiwa, mengungsi jauh ke Mesir, agar Sang Putra Sorga diselamatkan dan luput dari pedang berdarah
kehidupan keluarga kecil sahaja
berlari membawa luka darah
berkelana mengikuti arah amanah
sampai saat pulang ke kampung
menjalani hidup di Nazareth
sehelai kain putih kepolosan
tetap membalut luka dan darah jiwa raganya, karena Misteri Ilahi menjelma dan terus terjadi

Perempuan belia dan lelaki tua tukang kayu
satukan luka dan darahnya berdua, sujud pasrah di hadapan Sabda Agung, Dia yang Maha Sempurba menjadi bagian sejarah insani demi membuktikan kemuliaan Cinta Abadi
Cinta lestari tak bertepi kepada manusia Citra Ilahi
Sang Putra Sorga membasuh jiwa raga manusia, dengan Samudera Kerahiman dan Darah Surga Maha Suci-Nya

Ibu muda lelah berdarah
bersama lelaki tua terluka
bernapas tersengal dalam cemas
mencari anak lelaki yang hilang
saat bertemu di Bait Allah
jawabannya jadi tamparan keras
teguran tak terduga menambah luka dan darah
“Tidak tahukah kalian, bahwa saya harus berada di rumah Bapa-Ku?”
Fakta menyakitkan diterima diam
pulang bersama tanpa kata
cinta tulus ibu sahaja membentang sepanjang jalan misteri

Ibu sahabat luka dan darah
menggendong serpihan jiwanya
dan memeluk banjir darah mengalir
Putra semata wayang
Sang Sabda menghilang
Tanpa kabar berita sejak umur 12 tahun hingga 30 tahun
Ibu ayah manakah yang mampu diam dan memikul tanya luka darah, ditinggal Sang Putra Surga
Apalagi jika ditanya oleh Sang Maha Agung pemberi amanat ?
“Semua hal itu disimpan perempuan Nazareth dalam serpihan jiwanya, sebilah pedang telah menikam dan tertancap di jantungnya”

Rindu hati yang terluka
Sejenak diobati saat bertemu kembali di sungai Jordan, dan dibaptis saudaraNya Yohanes dan Roh Maha Suci, dan dimeteraikan Sang Maha Sabda Agung
“Inilah Putra-Ku yang terkasih. Kepada-Nya Aku berkenan. Dengarkanlah Dia”

Anak darah itu resah,
ibu muda itu gelisah
Sang Putra mulai berkarya
dipuji-puji dan membuat banyak mujizat,
disoraki sebagai pemimpin baru
“Hosana Putera Daud, terpujilah yang datang atas nama Allah”
rakyat miskin tertindas, orang sakit menderita dan mereka yang berbeban berat menjadi teman sahabatNya
Tetapi,
para penguasa yang membenci, pemuka ahli agama dan semua kaki tangan pengikutnya
Sangat marah dan terancam, dengan kehadiran Sang Putra Sorga serta semua ajaranNya, dan perbuatanNya yang ajaib penuh kuasa.

Ibu yang luka berdarah
dibenamkan dalam pusaran samudera darah misteri
ketika Sang Putra ditangkap, diadili, dijatuhi hukuman mati di salib, karena divonis sebagai penjahat melawan penguasa dan menghujat Allah

Perempuan terluka berdarah
jiwa raganya melebur hancur
menyatu dengan luka derita kucuran darah putra tunggalnya, dari Yerusalem sampai Golgota, memikul beban salib hina hitam dosa manusia, membersihkan dengan samudera Kudus kerahimanNya.
“Jangan tangisi Aku, tetapi tangisilah diri mu dan anak-anakmu”

Langkah Ibu berdarah
mengiringi jalan salib putranya sampai di Golgota, tak ada lagi lelaki tua si tukang kayu, sekarang hilang segala rasa, kosong segala pikiran, hanya luka darah terbungkus sehelai kain putih janji setia sahaja,
“Aku ini hamba-Mu ya Allah, terjadilah padaku menurut kehendak-Mu”

Gadis dusun luka berdarah
menyaksikan puncak misteri Revolusi Maha Cinta dalam jalan salib Putranya
amanah baru ditambahkan pada pundak-Nya yang terluka berlumuran darah
“Ibu, itulah anakmu. Anak, itulah ibumu”
Amanat Sang Putra dari atas salib, dihukum sebagai penjahat diapiti dua penjahat lain
dengan gelar ejekan dan pembelaan diri para penguasa keji
“INRI, Yesus dari Nazareth, Raja orang Jahudi”

Dan selesailah semuanya,
petir guntur Maha Misteri kembali menggelegar
jiwa ragamu lebur menyatu dengan semesta, darahmu berpadu dalam samudera Kerahiman Ilahi, jenazah Sang Sabda engkau pangku, rempahi dan semayamkan dalam makam
“Engkau mempelai Roh Maha Suci, Roh Kasih Allah dan Sabda-Nya meleburkan pribadimu sempurna”
Kemanusiaanmu memikul sejuta tanya
jiwamu dibalut energi Maha Misteri, kekuatan dasyat Maha Cinta, mantra paling sakti Maha Rahim
“Karena bagi Allah, tidak ada yang mustahil, semuanya akan indah pada waktunya”

Bunda berduka dan berdarah
jalan amanahmu belum usai
engkau terus berlari dalam luka dan darah
menemani ketakutan putus asa dan ketakberdayaan para rasul serta semua murid dan pengikut Putramu
seberkas cahaya menerangi dukalara
Misteri Ilahi digenapi
Sang Putra Surga
bangkit dari kematian
semua tanda dinyatakan dalam kehadiran nyata
untuk jawabi kegelapan jiwa, kebingungan pikiran, kehampaan rasa dan ketakberdayaan raga
“Thomas, karena engkau melihat maka percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat namun percaya”

Ibu berduka dan berdarah
luka dan darahmu abadi sepanjang zaman
hiburan cuma sejenak
Putra Surgamu segera kembali kepada Allah
Sang Maha Sabda
luka sekujur tubuh dan mata air darah dari jantung hati dan jiwamu yang tertusuk pedang
terus mengalir membasuh pribadimu dan seluruh jalan amanahmu
“Ibu, itulah anakmu. Anak, itulah ibumu”
Engkau harus dampingi para rasul dan para murid, menjalankan tugas mewartakan kabar keselamatan Allah, ke seluruh dunia kepada segala bangsa
Engkau ibu semua anak manusia di dunia, maka luka dan darahmu engkau bawa sepanjang zaman, sampai Putra Sorga datang kembali

O Bunda berduka,
perempuan sahaja memikul luka dan bermandi darah sepanjang zaman
hanya terima kasih yang mampu kami haturkan kepadamu
“Salam Maria, penuh Rahmat, Tuhan sertamu. Terpujilah engkau di antara wanita, dan terpujilah buah tubuhmu, Yesus. Santa Maria, Bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang sampai saat kami mati. Amin.