Senandung Sasando dan Lagu Jalan Sutra

84
Simply da Flores

SENANDUNG SASANDO
Simply da Flores

Denting dawai melodi
jemari daun-daun lontar
iringi jejak para pria perkasa naik turun di tangga langit
menadah rezeki dari rahim angkasa
Perempuan sahaja meneteskan peluh doa
di sawah ladang pantai dan surut laut
memohon nafkah hidup dari ibu bumi dan bunda samudera
Para gembala dipanggang terik menemani ternak
Anak-anak ceria menari berselendang debu dan pasir pantai

Angin selatan mengantar aroma lautan
membaur dengan wangi Cendana Bumi Lorosae
Berpacu dengan semangat kuda pasola di bumi Marapu
Menggeliat mengejar cita dengan komodo pulau Naga
Di seluruh rumah NTT
Nyanyian Terus Terdengar
Nusa Tanah Terjanji
Nelayan Tani Ternak
Negeri Termiskin Tertinggal
Nanti Tuhan Tolong

Lagu kehidupan didendangkan
di atas ladang gersang, gelombang samudera,
padang Savana dan kota batu karang
“Bae sonde Bae,
Flobamora Lebe Bae..”

Irama Sasando ikuti embusan angin yang semilir,
sepoi-sepoi sampai badai seroja
Senandung suka duka
anak-anak cahaya Sang Surya
di tanah ini terus bergema
sampai ke tanah rantau
di seluruh negeri dan dunia

Sekokoh pohon-pohon lontar di batu karang dan padang gersang
Senandung Sasando tak pernah lelah mengalun dipetik jemari putra-putri Fajar
Mengiringi nyanyian rindu jiwa “Flobamora Tanah Airku
yang Tercinta….”

Bentangan persawahan di Lio, Ende, Flores. (Foto: Simply)

LAGU JALAN SUTRA
Simply da Flores

Terus terdengar memesona
dentingan melodi dawai
mengalun bersama suara seruling
mendaki gunung tinggi
menuruni lembah kelam
lintas hamparan padang
menggulung benang waktu
menenun lembaran kain sutera
menulis lagu damba peradaban

Sebuah Jalan Sutra
terbentang di cakrawala
berjuta langkah telah melewatinya membawa rindu damba
lagu rindu peradaban masih mengalun di sepanjang jalan sutra
Denting melodi Sato Jepang
alunan seruling bambu China

Entah siapa yang mau melintasi sejarah makna jalan itu
Lagu jalan sutra
terus mengalun pesona