Roti Kehidupan Surga

61
Pater Remmy Sila, CSsR

“Tuhan itu baik setiap waktu, setiap waktu Tuhan itu baik.” Itulah sebuah ungkapan iman yang sangat terkenal. Hari ini kita semua diundang untuk bergembira karena santapan istimewa yang Tuhan berikan kepada kita setiap hari melalui Kristus, Sang Roti Hidup yang turun dari surga. Sebagai orang Kristen, dengan menerima dan meyakini Yesus sebagai Roti Hidup, kita mengalami suatu revolusi rohani dalam hidup beriman kita.
Kita senantiasa diingatkan bahwa hidup dan kepuasan kita tidak hanya semata bergantung pada makanan jasmani, tetapi lebih pada makanan rohani. Kita membutuhkan makanan rohani itu, yaitu Roti Kehidupan yang datang dari surga. Dan Kristus memberi kita makanan rohani untuk perjalanan iman kita melalui dan dalam Ekaristi kudus.

Bacaan pertama kita pada hari ini dari Keluaran 16: 2-4 mengingatkan kita pada pepatah yang mengatakan bahwa: “Orang yang sedang lapar akan cepat marah.” Dan itulah yang terjadi dengan orang-orang Israel. Karena kelaparan, mereka menggerutu dan memberontak melawan Musa, dan dengan demikian juga melawan Allah. Mereka meragukan dan melupakan segala kebaikan Tuhan. Mereka tidak ingat lagi bahwa Tuhan begitu baik dan penuh belas kasihan kepada mereka dan bagaimana Dia membelah Laut Merah dan mengalahkan musuh-musuh mereka demi menyelamatkan mereka.

Tuhan membuktikan bahwa Dia adalah Penyelenggara kehidupan yang hebat. Dia memberi mereka makan untuk memuaskan rasa lapar mereka. Ketika mereka mengeluh, “Kami tidak punya roti!” Tuhan mengirimkan manna dari surga. Ketika mereka bersungut-sungut: “Sekarang kami hanya makan roti setiap hari dan tidak makan daging!” Tuhan menghujani mereka dengan daging seperti debu. Ketika mereka mengeluh: “Kami sekarat karena kehausan!” Dan Tuhan mengeluarkan air segar dari batu karang (Kel 17: 6).

Dalam Injil, Yesus membaca pikiran orang-orang yang mengikuti-Nya. Dia melakukan mukjizat penggandaan roti dan ikan karena kebutuhan yang mendesak dan menggerakkan hati oleh belas kasihan. Namun, sebagaimana orang-orang Israel, para pengikut Yesus hanya terobsesi dengan makanan jasmani. Mereka terbawa oleh kelaparan jasmani. Mereka hanya datang untuk mencari makanan jasmani tetapi gagal untuk mengenali Yesus sebagai makanan rohani, “roti kehidupan”, bagi kelaparan jiwa mereka.

Satu pelajaran penting bagi kita pada hari ini adalah ketika kita terlalu memperhatikan hal-hal jasmani, kita akan melupakan hal-hal rohani. Bahkan kita cenderung melupakan kebaikan-kebaikan Tuhan dalam hidup kita di masa lalu. Daripada mengingat segala berkat dan kebaikan Tuhan, kita lebih menghitung kesulitan dan penderitaan kita dan berakhir dengan menyalahkan Tuhan atas kesulitan dan penderitaan kita. Hubungan kita dengan Tuhan cenderung diukur dari seberapa banyak hal-hal jasmani yang Tuhan anugerahkan kepada kita.

Untuk itu, kita hendaknya membiarkan diri dipimpin oleh Roh dan membiarkan Roh membarui pikiran kita. Apabila hal ini kita lakukan, maka hubungan kita dengan Tuhan akan menjadi lebih baik. Sayangnya, terkadang kita bertindak seperti orang-orang Israel dengan menggerutu dan melawan Tuhan. Sulit untuk dimengerti bahwa orang-orang Israel menyesal telah dibebaskan dari perbudakan di Mesir hanya karena mereka lapar. Mereka lebih memilih makanan dan perbudakan daripada kebebasan. Seperti Esau, mereka siap menjual hak asasi mereka hanya demi semangkok bubur (Kej 23: 29-34). Hal yang sama sering terjadi pada kita, “Tuhan itu baik” hanya ketika semuanya baik-baik saja. Namun ketika kita dihadapkan pada kesulitan, kita melupakan semua kebaikan Tuhan yang telah diperbuat dan diberikan untuk kita.

Berkaitan dengan perilaku iman seperti ini, Santo Paulus menasihati kita dalam bacaan kedua: “Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi sama seperti orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia dan pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah, karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka.” (Efesus 4: 17-18). Pikiran sia-sia yang dimaksudkan oleh Santo Paulus mencakup semua keinginan jasmani yang tidak bertahan lama tetapi sangat menghambat kita untuk menyadari dan menghargai semua kebaikan Tuhan dalam hidup kita. Mengapa? Karena semua keinginan itu lebih berorientasi memuaskan secara jasmani daripada secara rohani. Untuk itu dibutuhkan suatu latihan rohani yang serius, tekun dan mendalam untuk bisa membedakan mana yang sekedar keinginan jasmani dan mana yang merupakan kebutuhan rohani yang nilainya lebih tinggi.

Injil hari ini juga mengajarkan kepada kita bahwa Yesus adalah Roti Hidup yang turun dari surga dan hadir dalam setiap perayaan Ekaristi Kudus. Maka setiap kali kita menerima Dia baik secara fisik maupun secara rohani, kita menerima kehidupan. Dialah yang memberi makan dan menguatkan kita dalam ziarah iman kita di dunia ini.

Hari ini juga kita merayakan seorang tokoh besar dalam Gereja yaitu Santo Alfonsus de Ligouri, pendiri kongreagasi Sang Penebus Mahakudus (CSsR) yang umumnya dikenal sebagai kongregasi Redemptoris. Alfonsus de Liguori lahir pada tahun 1696 di kota Napoli, Italia dari sebuah keluarga bangsawan yang saleh. Dalam usia 16 tahun, dia sudah meraih gelar doctor dalam bidang hukum sipil dan hukum Gereja. Alfonsus menjadi seorang pengacara di kotanya dan dengan cepat menjadi seorang pengacara terkemuka di kota Napoli ketika ia berusia 20 tahun. Namun, Alfonsus kemudian meninggalkan profesinya sebagai pengacara dan memutuskan untuk menjadi seorang imam. Dia ditahbiskan menjadi imam pada tahun 1726 dan enam tahun kemudian ia mendirikan kongregasi Sang Penebus Mahakudus (CSsR) terinspirasi oleh pengalaman pribadinya ketika tinggal diantara para gembala miskin dan terlantar di pegunungan Scala, Italia. Alfonsus mendirikan kongregasi baru ini dengan tujuan khusus untuk melayani orang-orang miskin dan terlantar di daerah-daerah miskin dan tidak terjangkau oleh pelayanan umum dari para gembala. Semua missionaris Redemptoris (CSsR) diutus untuk mewartakan Yesus sebagai Sang Penebus terutama kepada kaum miskin dan terlantar baik jasmani maupun rohani. Para Redemptoris dipanggil dan diutus untuk ikut menyembuhkan dunia yang terluka dan menawarkan pengharapan karena “Pada Tuhanlah Penebusan berlimpah-limpah.”
Santo Alfonsus de Ligouri: doakanlah kami. Amen.

Selamat Hari Raya St. Alfonsus de Ligouri untuk para konfraterku dan untuk para sahabat, bapak/ibu/saudara/i sekalian di mana pun berada. Tuhan memberkati.