Puisi-puisi Simply da Flores: Biarlah Terjadi dan Menyulam Nasib

187
Simply da Flores
Perjalanan mencari diri

BIARLAH TERJADI

Segala yang ada
Semua yang terjadi…
Biar bulan bicara
Biar mentari cerita
Biar bintang katakan
Biar angin kabarkan
Biar bumi mencatat
Biar semesta merekamnya

Tentang hidup dan kehidupan
Tentang darah dan air mata
Tentang sukacita dan tawa ria
Tentang kesulitan dan tantangan
Tentang cinta, kasih sayang dan iri dengki permusuhan

Tentang kebaikan dan kejahatan
Tentang derita, duka lara dan kematian

Tentang yang terlihat dan tersembunyi
Tentang langit, bumi dan semua ciptaan
Tentang kemarin, hari ini dan esok

Biarlah….
Siapa yang peduli
Mencari, menemukan,
memberi makna dan menggapai arti kehidupan

Selama ada waktu
untuk dahaga hati
untuk hausnya jiwa
untuk rindunya rasa
untuk damba nalar
untuk butuhnya raga
Biarlah terjadi dan ada untuk kita semua

 

MENYULAM NASIB
untuk pujanggawati 99

Di atas sajadahnya harapan dibentang
Lalu jemarinya menari mengelilingi
99 nama terindah Sang Khaliknya,
sambil menyulam nasib dengan mantra suci
agar nasibnya menjadi warna-warni indah
bersemi mengisi hari-hari

Dari purnama ke purnama berikut,
seratus bintang dipetik jadi pernak pernik damba cita

Dari masa ke masa buih ombak gelombang dan wangi bunga,
dirajut dalam rasa dan disemat pada raganya

Antara malam dan siang umurnya,
sudah seribu duri menikam telapak jiwanya,
tubuh nuraninya penuh bilur dibalut dengan selimut tabah
dan sehelai baju senyuman menutupi padang gersang
duka lara yang tak bertepi

Dia terus berjalan mengejar rezeki bermandi keringat
Telapak imannya menyeka wajah,
agar bola mata tak asin dan buram melihat hitam putihnya
jalan serta onak duri berserakan

Ceria suka cita anak adalah matahari
dan bulan purnama menyinari siang malamnya
Air matanya telah kering untuk santapan bocah buah cintanya

Jemari kasih sayangnya terus menyulam nasib,
agar menjadi lembaran tenun makna kehidupan
bagi anak-anak titipan Sang Maha Misteri,
yang dia percaya mempunyai azimat sakti untuk
menghapus air mata menjadi senyum bahagia,
sesuai saat dan takdir IlahiNya Maha Bijaksana
dan Penuh Kasih Sayang,
karena bagi-Nya tidak ada yang mustahil
untuk hambanya yang percaya bersujud penuh taqwa sahaja

Pujanggawati itu terus menulis karya sastra nasib
dalam lembar waktu hingga 99 tahun,
sambil menanti saat ajal menjemput kembali ke Sang Ilahi