Sembilan Juli di TPU Rorotan

342
Suasana TPU Rorotan (ist)

Oleh  Joanes Joko

Jam di hp menunjukkan pukul 11.15 WIB. Aplikasi temperatur udara memunculkan angka 34 derajat celcius. Matahari mengeluarkan sinar teriknya lengkap dengan sapuan udara panas, membuat siapapun tidak ingin berlama-ma merasakannya.

Dari kejauhan sebuah mobil ambulance putih melaju perlahan di atas tanah padatan yang mulai mengering. Bergerak menuju sisi lubang-lubang yang baru saja digali dengan ekskavator. Di belakangnya kembali menyusul beberapa ambulance jenazah yang kemudian menunggu antrian.

Sesaat kemudian lima orang sosok penggali makam yang menggunakan APD (Alat Perlindungan Diri) ketat berwarna putih mendekati pintu belakang ambulance tersebut. Tak terbayangkan hawa panas yang dirasakan para petugas pemakaman itu.

Sesaat kemudian, pintu belakang ambulance terbuka, tampak ada 4 peti berwarna putih yang ditumpuk dalam 2 lapis. Dalam setiap peti itu, ada sesosok raga yang beberapa jam lalu telah “mengalah”, melepaskan jiwanya menuju keabadian. Mereka harus dimakamkan dengan protokol pemakaman Covid-19.

Raga-raga yang tak berdaya itu pernah memiliki catatan sejarah melewati ziarah kehidupannya masing-masing. Mereka memiliki saudara dan sahabat dekat yang pernah menorehkan cerita cinta di kehidupannya.

Namun pandemi ini membuat mereka tidak bisa mengantarkan raga-raga tersebut hingga ke liang terakhir. Sekadar mengucap doa sederhana pun harus dilakukan dari jarak puluhan meter. Hanya boleh mendekat setelah tanah makam menutup sempurna peti putih itu.

Kehilangan orang tercinta adalah kesedihan yang luar biasa. Kesedihan dan kepiluan semakin terasa berat, sesaat membayangkan para keluarga itu hanya bisa melihat dari kejauhan, orang yang dikasihi benar-benar dalam kesendirian menuju rumah terakhirnya.

Setelah selesai, beberapa anggota keluarga berjalan lunglai menuju kendaraan masing-masing, membawa tas dan beberapa helai kain dan pakaian yang pernah dibawa oleh raga-raga tersebut saat diawal menjalani perawatan.

Hari-hari ini, upacara pemakaman yang diiringi para handai taulan dengan kekhidmatan prosesi doa di sekitar liang lahat terbuka menjadi suatu kemewahan.

 Para raga yang selayaknya mendapatkan penghormatan terbaik diakhir ziarah kehidupannya, harus benar-benar dalam kesendirian tanpa ada puja-puji pelepasan ataupun doa penyerahan pada Sang Pemilik Kehidupan.

Kita boleh saja jumawa menghadapi situasi pandemi. Tubuh kita ini mungkin memang kuat menghadapi virus. Tapi bagaimana dengan orang-orang yang kita cintai dan para sahabat yang kita kasihi? Mereka yang berusia rentan atau bahkan yang masih muda belia, namun memiliki penyakit bawaan? Kesombongan dan keacuhan kita hanyalah menjadi senjata pembunuh bagi mereka.

Memang benar hidup, jodoh dan mati sudah dituliskan takdirnya oleh Sang Maha Illahi. Tak bisa kita mengubahnya. Tapi bukankah kita punya kemampuan untuk menentukan bagaimana penghormatan untuk para raga tersebut menuju peristirahatan kekalnya?

Penghormatan ini hanya bisa diberikan kembali bila pandemi ini usai. Pandemi sejatinya telah meruntuhkan kesombongan kita sebagai manusia modern. Sudah seharusnya membuat kita sadar, betapa lemahnya peradaban ini di hadapan Sang Pencipta.

Segala ikhtiar harus dilakukan. Selemah-lemahnya, cukup dengan kita patuh dan disiplin menjalankan protokol kesehatan. Mematuhi anjuran pemerintah. Kita boleh berbeda apa pun; pandangan politik, etnis suku bahkan agama, namun untuk kali ini kita harus sama dan sepakat, atas nama kemanusiaan pandemi ini harus kita lawan dan akhiri.

Tulisan ini didedikasikan khusus untuk para sahabatku yang pernah dekat dan mewarnai kehidupanku. Tenang dan damailah kalian di Surga abadi, bersatu dengan Sang Maha. Doakanlah kami yang masih harus melangkah dalam ziarah kehidupan ini.

Selamat jalan, Dede Mangoting Hasnil Fajri Birgaldo Sinaga Juli Nugroho Mawardi Dedy V Surawan Dibyosudarmo Lanny Malyani Aldo Calvarie.