Romo Benny Susetyo:  Buktikan Pancasila Bukan Lips Service dan Verbatim

122
Romo Benny Susetyo
Pancasila sangat efektif mengatasi konflik

JAKARTA, TEMPUSDEI.ID (30 JUNI 2021)

Bicara dalam seri diskusi kebangsaan bertema Pancasila dalam Tindakan: Membangun Ekosistem Keamanan Nasional Mewujudkan Indonesia Tangguh pada 30 Juni 2021, Romo Benny Susetyo menegaskan bahwa pembatinan dan pembumian Pancasila merupakan kunci ekosistem subur bagi tumbuhnya keamanan nasional yang tangguh.

Kata Benny, jika kita sepakat bahwa Pancasila adalah kesepakatan dan konsensus final milik bangsa Indonesia, maka sudah waktunya  Ideologi milik kita ini diaktualisasikan  dalam tindakan dan ditampilkan dalam setiap kebijakan negara. “Sudah saatnya negara ini membuktikan bahwa Pancasila bukan sekadar  lips service dan verbatim yang berhenti dalam jargon tanpa pembatinan dan pembumian,” kata staf BPIP ini.

Lebih lanjut kata Benny, sistem ekonomi Pancasila dan ketahanan Pancasila  paling efektif untuk menjaga keamanan Indonesia. Alasannya, dengan bahu-membahu, gotong-royong dan sinergitas dari semua kelompok masyarakat diharapkan lahir stabilitas dan keamanan negara yang baik.

Namun lanjut Benny, selama mentalitas pemimpin adalah mentalitas ndoro, sinergitas bangsa Indonesia tidak akan terwujud. “Pada akhirnya kita masing-masing harus mampu dan mau menjadi negarawan yang tulus dan jujur menjaga bangsa tanpa pretense. Dengan demikian, kita bisa fokus menyelesaikan tantangan dan bisa membangun peradaban yang terus berkembang menuju arah yang lebih baik,“ pungkas Benny.

Diskusi yang dilaksanakan di Cafe Papa Bro ini menghhadirkan narasumber lain: Komisaris Jenderal Purnawirawan  Dr. Nurfaizi Suwandi MM mantan Kapolda Metro Jaya dan Kabareskrim Mabes Polri (Duta besar Republik Indonesia untuk Mesir), Profesor  Muradi Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran, Bony Hargens dan Adji Samekto (Deputi Bidang Pengkajian dan Materi), FX Adji Samekto.

Direktur Strategi Institute Antonius Danar dalam sambutan pembukaannya menyatakan bahwa diskusi ini dilakukan dalam rangka bulan Pancasila dan Hari Bhayangkara 1 Juli.

Komjen. PurnNurfaizi Suwandi mengatakan,  Pancasila merupakan jawaban, asset terbaik serta kebanggaan bangsa Indonesia. Beberapa memimpin negara Arab lanjutnya mengakui, konsep Pancasila adalah peredam gesekan  karena perbedaan multi dimensi di Indonesia. Berbeda dengan negara-negara Arab yang perbedaannya sedikit, tapi gagal meredam konflik.

Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran Muradi mengatakan, “Sistem integritas keamanan nasional Indonesia masih perlu diperjelas dan dipertegas mekanismenya seperti seperti perlindungan terhadap  data base kependudukan, sanksi terhadap pelaku dan mereka yang memperjual belikan data tersebut.”

Untuk itu, para  aktor penjaga keamanan harus aktif  membuat ekosistem yang terintegrasi baik  demi menjaga keamanan nasional. Tiga aktor yang dimaksud adalah Intelejen, Polisi dan Militer. Mereka harus dapat memperjelas sinergi dan tata kelola serta menjaga  sarana dan prasarana. “Jika ketiga komponen keamanan  tersebut sudah bersinergi baik, niscaya kita hanya tinggal merasakan manfaat dari Ekosistem tersebut,” katanya.

Sementara itu, Bonny Hargens menegaskan bahwa kepentingan politik yang beragam di Indonesia memunculkan narasi beragam dalam menyikapi suatu fenomena atau keadaan.  Hal ini muncul karena  ketidakadilan struktural yang lama terpelihara di negeri ini.

Untuk memperkuat sistem keamanan  jelas Bonny, perlu ada  rekonsiliasi dan penghentian ketidakadilan. Solusi selanjutnya tambah Bonny, adalah  bahu-membahu memperkuat ekonomi dengan  gotong-royong berdasarkan Pancasila. Dengan demikian diharapkan ekstremitas dan radikalisme yang berujung perpecahan dapat dikikis dan dihilangkan. (tD/*)