Danau Kelimutu, Destinasi Wisata Alam dan Spiritual yang Resah

136
Danau Kelimutu di Flores

Oleh Simply da Flores, Alumnus STF Driyarkara Jakarta

TEMPUSDEI.ID (18 JUNI 2021)

Danau Tri Warna Kelimutu, terletak di kawasan Taman Nasional Gunung Kelimutu, Kabupaten Ende, Flores, Propinsi NTT. Danau vulkanik yang memiliki warna berubah-ubah, dahulu berwarna merah, putih dan biru atau hijau toska.

Dalam masyarakat Adat Budaya Lio, disebut Kelimutu Tiwu Telu Tiga Danau Kelimutu. Masyarakat Adat Lio percaya bahwa arwah semua orang yang meninggal akan datang bersemayam di ketiga danau tersebut. Tiwu Ata Mbupu – danau orang tua, yang dulu berwarna putih adalah tempat bagi jiwa para orang tua. Tiwu Ata Nua Muri – danau orang muda, berwarna Biru – Hijau toska adalah tempat peristirahatan jiwa orang muda. Tiwu Ata Polo – danau orang jahat – Suanggi, berwarna merah adalah tempat bagi jiwa-jiwa orang yang jahat dan Suanggi pada masa hidupnya.

Ada ritual dan kepercayaan masyarakat Adat Lio yang mendiami keliling wilayah Danau Kelimutu. Sekarang ada event regular pada bulan Agustus dan masuk dalam kalender event pariwisata nasional.

Danau Kelimutu

Destinasi Wisata Alam

Pesona alam di area Danau Kelimutu sungguh istimewa. Cuaca dan alam yang sejuk dingin di atas pegunungan, flora fauna yang unik, serta keindahan pemandangan dan warna danau memiliki keistimewaan. Hanya satu-satunya di dunia, tidak ada duanya di tempat lainnya, meskipun ada juga danau vulkanik seperti danau Toba di Pulau Samosir, Sumatera.

Setiap pengunjung baru pasti terpesona sejak memasuki pelataran parkir, lalu berjalan sekitar satu kilometer menuju tugu puncak untuk menyaksikan keindahan ketiga danau. Apalagi sempat mengitari lebih dekat ke masing-masing kawah setiap danau.

Bukan saja pengunjung yang baru pertama datang, tetapi pengalaman saya pribadi lebih dari 20 kali datang, selalu terpesona keindahan istimewa alam lingkungan Danau Kelimutu. Maha Besar dan Maha Indah Sang Pencipta telah memberikan keindahan-Nya di alam lingkungan Danau Kelimutu bagi manusia.

BACA JUGA:  “Otak-otak Jumbo”, Blessing In Disguise di Balik Pandemi Korona

Inilah pesona keindahan alam lingkungan yang istimewa dan hanya satu di dunia, maka sangat layak menjadi destinasi wisata. Wisata alam yang unik, untuk memberikan kedamaian rasa dan nurani, sambil pikiran disegarkan untuk mencintai dan memeliharanya.

 Destinasi Wisata Spiritual

Mengakar pada kepercayaan adat budaya masyarakat adat keliling Danau Kelimutu, Lio, Ende; maka kiranya destinasi wisata Danau Kelimutu diutamakan sebagai obyek wisata spiritual.

Area Kelimutu memiliki aura sakral magis, dijaga dengan ritual budaya, dipercayai sebagai tempat bersemayam jiwa orang mati, setelah menyelesaikan kehidupan di dunia.

Di jalur masuk menuju lokasi danau, di tengah hutan Pinus, ada tempat ritual memberi sesaji bagi penjaga alam Kelimutu, Pere Konde.

Di pelataran dekat danau biru dan merah, ada lokasi ritual adat budaya bagi segenap arwah leluhur penghuni danau Kelimutu. Kegiatan ritualnya terjadi pada awal bulan Agustus, dan sudah dijadikan event dalam agenda pariwisata nasional.

Di tugu puncak area danau,  tertulis sebagai prasastinya bahwa di ketiga danau inilah para arwah bersemayam: arawah orang tua, orang muda, dan arwah orang jahat.

Selain fakta kepercayaan masyarakat adat Lio dan ritualnya, patut ditegaskan tentang keajaiban alam danau adalah misteri kebesaran Sang Pencipta, jika yang berkunjung melihat dengan totalitas jiwa raganya. Sebuah pengalaman spiritual yang begitu kental, sejak memasuki area parkir dan di masing-masing danau. Hal yang hanya bisa dialami ketika bisa datang ke danau Kelimutu, karena ini pengalaman personal.

 Fakta Perubahan dan Harapan ke Depan

Beberapa saat akhir ini, sekitar 5 tahun belakangan, ada perubahan yang mencemaskan dan menimbulkan tanda tanya. Permukaan danau Tiwu Ata Mbupu semakin berkurang debit airnya, juga ada runtuhan tebing yang terus terjadi. Warna danau yang dahulu putih, sekarang menjadi coklat kehitaman, meskipun airnya tetap bening.

BACA JUGA:  Makna Lawatan Paus Fransiskus ke Negeri Sadam Husein dan Tanah Abraham

Batas antara danau Tiwu Ata Polo dan Tiwu Ata Nua Muri juga semakin runtuh, dan menipis. Cerita masyarakat sekitar, dahulu masih bisa dilalui dengan berjalan dan berkuda area batas antara kedua danau. Warna danau Tiwu Ata Polo yang awalnya merah darah, berubah menjadi coklat kehitaman dan kini warnanya hampir sama dengan warna danau Tiwu Ata Nua Muri, yakni dominan warna biru atau hijau toska, tetapi terus berubah-ubah.

Ada beberapa penjelasan tentang perubahan warna tersebut. Dari Balai Taman Nasional Kelimutu tercatat  sebagai perubahan alam karena berbagai faktor: cuaca, aktivitas vulkanik dan berbagai unsur plankton di dalamnya.

Dari kepercayaan adat budaya, beberapa pihak menjelaskan bahwa perubahan tersebut sebagai tanda alam yang berhubungan dengan perilaku kehidupan manusia. Bisa terjadi juga sebagai peringatan bagi masyarakat adat sekeliling danau Kelimutu, juga bagi bangsa dan dunia.

Dari para pegiat wisata sekitar Kelimutu, justru melihat adanya kemungkinan aktivitas keliling danau yang berpengaruh kepada perubahan-perubahan yang terjadi. Mereka merasa resah dan melakukan advokasi ke DPRD Ende, meminta perhatian wakil rakyat dan pemerintah, juga Balai Taman Nasional Kelimutu untuk melakukan penelitian ilmiah tentang perubahan-perubahan yang mencemaskan tersebut.  Ada aktivitas eksploitasi sumber daya panas bumi di dekat danau Tiwu Ata Mbupu. Semoga segera ada tindak lanjutnya.

Ketika berdiskusi dengan direktur Yayasan Nipa Mas sejahtera – SANNIMAS, Adolphus Reku, SH, ada beberapa pikiran dan harapan. Sebagai putra daerah Lio dan pewaris Danau Kelimutu, masyarakat adat budaya dan pemangku adat harus menjaga dengan ritual adat. Ini adalah bentuk syukur kepada Sang Pencipta atas misteri dan berkah keindahan alam ini. Juga ungkapan terimakasih kepada para leluhur.

BACA JUGA:  Pesta Perak Imamat Pastor Paul Wolor, Pr: Semula Hanya Karena Mau Makan Enak

Menurut direktur SANNIMAS ini, perlu ada sebuah komitmen masyarakat adat untuk bersama menjaga, merawat dan membangun relasi harmonis dengan kawasan danau Kelimutu. Alasannya karena nilai sakral adat budaya dan berkat istimewa Sang Pencipta bagi orang Lio dan manusia di dunia. Jika mau dijadikan destinasi wisata, maka masyarakat adat sekeliling danua Kelimutu dan pemerintah daerah penting bekerja sama membuat perencanaan serius sebagai obyek wisata alam dan spiritual. “Kita lebih dahulu menjaga dan menghidupi serta mensyukuri keistimewaan dan kesakralan danau Kelimutu, baru dideklarasikan bagi semua manusia di dunia untuk datang ikut mengagumi dan mensyukuri,” demikian pendapat dan harapan Dolphus Reku.

Menurut saya, berbagai pikiran dan pendapat perlu dimusyawarahkan yang terbaik. Komitmen yang didambakan adalah keindahan dan kesakralan Danau Kelimuti terjaga, masyarakat adat budaya dihormati dan didukung pemberdayaannya; baik soal khasanah luhur adat budaya maupun pemberdayaan sosial ekonomi dan konservasi alam lingkungan yang hanya satu di dunia.

Kiranya pemerintah daerah Kabupaten Ende dan jaringan multi pihak yang berkompeten, dapat melakukan kreasi, transformasi dan inovasi untuk menjadikan danau Kelimutu sebagai warisan alam dan bidaya satau-satunya di dunia; khusus untuk  laboratorium misteri alam, dan rumah spiritual penyembuhan luka peradaban manusia.

Kelimutu Volcano Lakes is the only one natural beauty heritage and one of the spiritual destinations for human existence spiritual powering.

Inilah bagian dari keajaiban dunia yang ada di bumi Nusa Nipa – Flobamora – NTT, New Tourism Territory.

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here