Cerpen Veronika Ivanalia Aninda Putri: Deritanya Tuntas di Ujung Jalan              

167
Veronika Ivanalia Aninda Putri

Veronika Ivanalia Aninda Putri, Mahasiswi Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

 

TEMPUSDEI.ID (8 JUNI 2021)

Malam sudah terlanjur larut. Meski jalanan masih ramai, namun toko kelontong itu sudah tidak beraktivitas. Sebelumnya, sepanjang hari, toko itu ramai sekali karena rupanya sang pemilik menjual barang-barang kebutuhan sehari-hari dengan harga yang lebih murah dari toko lain.

Seorang anak tampak tergeletak di halaman toko itu. Wajahnya lusuh, matanya sayu. Tampaknya, dia juga belum makan setelah seharian bertarung di jalanan, bekerja keras sebagai pemulung. Raganya yang kurus itu hanya beralas kardus dan berselimut kain tipis untuk mengurangi rasa dingin yang merayap pada kulitnya. Nyamuk-nyamuk pun menghinggapi tubuhnya yang kotor dan belum mandi. Ya, ia menyambut malam dengan rasa rapar, khawatir, gelisah, dan rasa takut. Matanya lalu perlahan-lahan terpejam karena keletihan. Berkali-kali dia membolak-balik badannya. Mungkin karena terganggu rasa lapar dan nyamuk dari selokan kotor dan bau di sampingnya.

Dalam setengah sadar, bising suara kendaraan mulai memekik di telinga. Matanya terbuka dan sorot sinar terang pun menyergap bumi. Anak itu beranjak pergi sebelum pemilik toko datang dan mengusirnya. Ia membereskan barang-barangnya kemudian memasukkannya ke dalam karung. Karung itu dipikul pada bahu kanannya dan mulai berjalan menyusuri jalanan yang ramai dengan aktivitas manusia. Lalu langkahnya terhenti di depan sebuah warung makan. Lidahnya terasa kelu. Ia menelan ludah dengan susah payah. Perutnya berbunyi seakan meminta pertolongan.

“Heh, sana pergi. Bau, ngganggu makan aja,” bentak seorang anak muda yang sedang menyantap sarapan pagi.

“Sana pergi,” ujar seorang bapak yang baru saja datang sambil  mendorong anak itu.

Anak itu tersungkur di jalan. “Sini nak, bangun,” seorang wanita membantunya sambil menutup hidungnya. Anak itu langsung pergi dari tempat itu dan kembali berjalan menyusuri jalanan.

Sebuah kotak nasi yang tergeletak di dekat sampah diraihnya dengan cepat. Dibukanya dengan rasa lapar yang sudah memuncak. Sisa nasi yang masih banyak itu dihabiskannya dengan cepat tanpa sisa. Setelahnya, ia buru-buru mencari keran. Perlahan-lahan ia meminum air itu. Ah….!

Anak itu harus mengais sampah untuk mengumpulkan barang-barang bekas. Ia mengumpulkan botol, kain, dan barang-barang bekas lainnya. Dimasukkannya barang-barang itu ke dalam karung yang dibawanya.

Hari semakin petang, anak itu menjual barang-barangnya dan mendapatkan uang hasil pencariannya sehari ini. Hasilnya memang tidak banyak, tetapi ia sangat bahagia mendapatkannya. Di tengah perjalanan, datanglah dua orang laki-laki dengan badan tegap dan rambut acak-acakkan. Celananya tidak terjahit dengan sempurna dan wajahnya seram. Dua laki-laki itu menghampirinya dan merampas uang yang sudah dikumpulkannya. Marahlah anak itu, tetapi apa daya badannya terlalu kecil untuk melawan. Sudah hampir tengah malam, tetapi perutnya masih kosong. Hanya secuil roti yang ia sempat simpan kala mendapatinya di tempat sampah.

Ia menangis di ujung jalan, orang tuanya tak peduli padanya. Ia memilih pergi untuk mempertahankan kehidupannya. Harapannya di masa depan masih sangat besar. Namun, keadaan belum sepenuhnya memantaskan dirinya untuk berjalan ke depan.

“Apa Tuhan tidak menyayangiku hingga membuatku hampir mati kelaparan?” rintihnya.

Anak itu memutuskan untuk terus berjalan menyusuri malam dengan keadaan yang tidak memungkinkan. Tubuhnya terasa lemah dan pandangannya kabur. Dirinya tak sanggup lagi kemudian ia terkapar di pinggir jalan.

Sebuah mobil berwarna hitam berhenti tepat di depan anak itu. Penumpang mobil itu terlihat panik dan menggotongnya masuk ke dalam mobil. Mobil itu melaju dengan kecepatan sedang. Laki-laki dan perempuan yang berada di dalam mobil itu memberikan minyak angin. Matanya mulai terbuka walaupun belum sadar sepenuhnya.

“Kak, saya di mana? Saya mau mencari barang bekas untuk makan. Tolong turunkan saya.”

Laki-laki dan perempuan itu menatap anak itu pilu. “Kamu belum makan ya, ini kakak ada banyak sekali makanan.”

Tanpa basa-basi anak itu langsung memakannya dengan lahap. Matanya berbinar. Ia juga menangis karena bertemu dengan orang baik. Ia merasa beruntung bertemu dengan mereka. Mereka sungguh melayaninya dengan sangat baik.

“Terima kasih, kakak baik,” ucapnya dengan memberi senyuman hangat.

“Kami bukan orang baik, Dek. Kami masih sangat kurang pantas disebut baik,” jawabnya. Perempuan itu adalah pelacur, sedangkan laki-laki itu adalah penikmatnya.

Anak itu memutuskan untuk turun di dekat pertigaan. Ia juga dibekali banyak makanan. Ia memasukkannya ke dalam karung. Wajahnya nampak sangat berseri. Padahal baru saja ia mengeluh kepada Tuhan, tetapi ternyata dugaannya memang salah, masa depan masih menantinya.

Ia berjalan menuju ke sebuah gubuk kayu yang berada di dekat tempat pembuangan sampah. Bau menyengat itu sudah biasa ia cium, sudah seperti mencium harum wewangian bunga.

Lantas, siapa yang harus disalahkan akan nasibnya? Ia merintih sepanjang waktu kala tak ada sesuap nasi masuk ke dalam mulutnya. Rintihan seorang anak yang malang itu. Sanggup menjalani kehidupan yang sangat jauh dari kata layak. Alangkah sedih hatinya ketika usahanya lenyap begitu saja oleh tangan-tangan para orang jahat.

Tubuhnya semakin kurus dan tak terurus. Gubuk kecil antara layak dan tak layak itu, kini ia singgahi kembali. Merintih tak selamanya menjadi jalan hidupnya, tetapi ia harus tegar menjalani kehidupan ini. Ia membuka pintunya kemudian meletakkan semua barang yang ada dalam karungnya termasuk makanan. Ia membagi-bagikan makanan kepada tetangga-tetangganya.

“Perutku sudah sangat kenyang. Apakah kalian lapar? Ini aku memiliki banyak makanan. Segera berhenti bekerja dan cepatlah makan.”

“Terima kasih banyak,” ujar mereka serentak.

Anak itu kembali ke gubuk dan memisah-misahkan barang bekas di samping gubuk. Padahal waktu sudah dini hari, tetapi ia tetap melakukan pekerjaan hingga matahari menampakkan dirinya. Ia membawa gerobak miliknya dan mendorong gerobak itu menuju tempat penjualan barang bekas. Di ujung jalan, tiba-tiba saja tubuhnya terasa lemah kemudian tersungkur di tanah. Tubuh itu benar-benar menuju “masa depannya”. Tuntas sudah sudah rintih deritanya.

1 COMMENT

  1. Cerpen Veronika Ivanalia Aninda Putri, “Deritanya Tuntas di Ujung Jalan” membawa kita menyaksikan “Sehari Bersama Seorang Pemulung”. Suka duka pemulung itu tidak hanya kita ‘saksikan’ tetapi juga kita ‘rasakan’. Pandangan dan perlakuan orang terhadap seorang pemulung ikut menyesakkan dada pembaca. Di antara ‘sesama’ manusianya, ada orang ‘baik’, yakni orang yang secara tulus dan ikhlas memberikan makanan kepadanya. Ada pula orang jahat yang tega merampas hasil kerja kerasnya seharian. Kita barangkali ikut bergembira ketika sang pemulung membagikan makanan kepada sahabat-sahabatnya.

    Kekuatan cerpen ini adalah memberikan sebuah gambaran yang mengingatkan kita pada nilai-nilai kemanusiaan yang mulai pudar dalam masyarakat kita. Kelemahan cerpen ini antara lain penggambaran karakter yang terlalu umum, tidak memiliki nama, dan hanya menjadi representasi pikiran-pikiran penulisnya. Kematian tokoh pemuung di akhir cerita tampak seperti dipaksakan, karena tidak ada indikasi sebeumnya. Bahkan tokoh itu sedang bergembira karena mampu berbagi makanan kepada sesama pemulung. Jika kemahan-kelemahan ini diperbaiki, Veronica bakal menjadi seorang penulis cerpen yang baik.