Cinta Tuhan tanpa Batas dan Tak Bersyarat

80
Pater Remmy Sila, CSsR

TEMPUSDEI.ID (9 MEI 2021)

Oleh Pater Remmy Sila, CSsR, Superior Misi Redemptoris di Samoa, Provinsi Oceania

Pada hari Minggu ini kita diundang untuk  merenungkan cinta Tuhan yang tak bersyarat dan bersifat universal. Kita diajak untuk merenungkan bahwa Tuhan yang tidak memiliki anak emas dan dengan bebas mengkomunikasikan semangat cinta-Nya kepada kita semua melalui Gereja dan orang tua kita. Kepenuhan cinta ini diungkapkan di dalam Yesus yang adalah cinta itu sendiri. Cinta tersebut juga diungkapkan melalui orangtua kita yang bekerjasama dengan Tuhan untuk memberi kehidupan kepada kita.

Satu tema utama yang ada dalam semua bacaan pada hari ini adalah Kasih. Tuhan mengasihi kita semua dan kita diundang untuk mengasihi sesama kita  sebagaimana dilakukan oleh Yesus bagi kita. Cinta Tuhan bagi kita hanya bisa dibandingkan dengan cinta seorang ibu untuk bayinya. “Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau” (Yes 49: 15). Kasih Tuhan bagi kita bagaikan sebuah rantai. Tuhan mengasihi Kristus dan Kristus mengasihi kita. Maka kita harus menjaga rantai cinta Tuhan ini dengan memperluasnya kepada orang lain.

Bacaan pertama dari Kisah Para Rasul 10: 25-26, 34-45, 44-48  adalah kisah bagaimana Kornelius dan keluarganya,  yang bukan orang Yahudi menerima Roh Kudus secara istimewa lewat. Tuhan tidak mengistimewakan orang, suku, atau bangsa tertentu. Itulah yang dijelaskan oleh Petrus kepada Kornelius dan anggota keluarganya. “Allah telah menunjukkan kepadaku, bahwa aku tidak boleh menyebut orang najis atau tidak tahir” (Kis 10: 28).

Cinta Tuhan itu bersifat universal. Semua yang Dia kehendaki untuk kita lakukan adalah menerima cinta ini dan datang kepada-Nya, menimba cinta dari-Nya dan menyebarkannya kepada orang lain.

Bacaan kedua dan Injil mengingatkan kita bahwa betapa Kristus sendiri sangat mencintai kita. Kedua bacaan ini mengingatkan kita  untuk tetap tinggal dalam cinta tersebut  dan harus siap berkorban untuk mencintai tanpa syarat.

Sebagai manusia yang diciptakan menurut gambar dan citra Tuhan yang adalah Cinta, kita pun harus menunjukkan cinta ini kepada orang lain dalam hidup kita setiap hari. Ini adalah satu-satunya cara kita dalam mengungkapkan gambaran/citra Tuhan secara penuh dalam diri kita karena Tuhan adalah Cinta. Ketika kita mencintai dengan sepenuh hati dan tanpa syarat, kita benar-benar adalah gambar/citra Tuhan.

Ketika kita saling mencintai, kita juga memperluas kerajaan Allah di dunia. Ketika kita mengungkapakan cinta Tuhan ini, kita bersaksi bahwa Roh Tuhan diam di dalam diri kita. Injil hari ini dari Yohanes 15: 9-17 mewartakan kepada kita perintah Yesus untuk saling mengasihi. “Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu.” (Yoh 10: 12). Sebagai sebuah perintah maka kita tidak memiliki pilihan selain untuk saling mengasihi. Alasannya sangat sederhana.

Kita sendiri adalah hasil dari cinta. Kasih ini mengalir dari Tuhan kepada Yesus Kristus dan dari Yesus Kristus kepada kita. Cinta  tersebut juga mengalir dari Tuhan kepada orangtua kita dan dari orangtua mengalir kepada kita. Inilah sebabnya Yesus memberitahu kita, “Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggalah di dalam kasih-Ku itu” (Yoh 10: 9). Kita yang telah mengalami kasih Tuhan memiliki alasan untuk tidak membiarkannya mengalir kepada orang lain. Kita tidak bisa memutuskan rantai cinta Tuhan ini.

Cinta Tuhan ini melampaui perasaan belaka yang disertai kemampuan untuk merangkainya dalam bentuk kata-kata yang indah dan mungkin romantis belaka. Kasih yang dirujuk Yesus di sini adalah kasih yang penuh pengorbanan. “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabat-Nya.” (Yoh 10: 26).

Unsur perasaan yang kuat mungkin menyertainya cinta jenis ini, tetapi komitmenlah yang membuatnya  tetap teguh dan tidak berubah. “Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing” (1 Kor 13: 1). Inilah ciri seorang Pengikut Yesus yang baik dan sejati. Kasih yang relah berkorban harus sabar, murah hati, tidak cemburu, tidak memegahkan diri dan tidak sombong.

Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita dalam ketidakadilan, tetapi ia bersukacita dalam kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu (1 Kor 13: 4).

Selamat hari Minggu. Tuhan memberkati.