Ini Pemicu Sederhana Mudji Sutrisno Kecil Mau jadi Pastor

178
Romo Mudji Sutrisno SJ
Romo Mudji dengan buku antologi puisi “Bunda Semua Cinta.

TEMPUSDEI.ID (30 APRIL 2021)

Saat ini orang mengenal sosok Mudji Sutrisno sebagai rohaniwan dari ordo Yesuit, budayawan, filsuf, penulis buku dan berbagai predikat lain. Romo Mudji juga pernah menjadi anggota KPU.

Lantas, bagaimana ceritanya pria kelahiran Surakarta, 12 Agustus 1954 ini memilih “jalan kehidupan” sebagai seorang imam atau pastor? Pemicunya terasa begitu sederhana, namun sangat menentukan.

Ketika usianya menjelang remaja, Mudji sudah sangat rajin menjadi Putra Altar atau Misdinar di Gereja Santo Petrus, Solo. Saat itu, remaja-remaja seusianya memang berlomba-lomba menjadi Misdinar.

Dengan menjadi Misdinar aku Mudji, dia semakin dekat dengan para Romo. Dia pun melihat, walaupun para Romo itu sangat dihormati, namun mereka tidak sungkan-sungkan bersalaman dan ngobrol dengan siapa pun. “Romonya sering berbaur dengan orang-orang sederhana di halaman gereja, kadang-kadang malah merangkul mereka dengan tulus. Suasana ini berkesan dan terrekam dengan amat baik dalam memori saya. Romo itu tidak kenal dekat dengan orang, tapi bisa bersama-salaman, dekat, ngobrol dan lain-lain,” batin Mudji penuh kagum. Pelan-pelan, dia ingin seperti Romo-Romo itu; bisa dekat dengan banyak orang, terutama orang-orang sederhana. Dengan demikian dia bisa punya banyak kawan.

Dari situ remaja bernama lengkap Fransiskus Xaverius Mudji Sutrisno itu bertanya kepada beberapa orang, termasuk ke orang tuanya tentang cara yang harus ditempuh untuk menjadi Romo. “Singkat cerita, saya masuk seminar dengan segala tahapnya, lalu studi lanjut dan seterusnya berkarya. Saya kemudian merasakan betul, bahwa Tuhan yang memanggil itu, Dia juga bertanggungjawab menemani. Perasaan dicintai Tuhan, saya rangkum dalam sebuah retret dalam ungkapan Sumeleng abdi ingkang tresno Dalem Gusti atau mengalami perasaan dicintai Tuhan,” ungkap Romo Mudji saat dijumpai di College Canisius Jakarta pada 29 April 2021.

BACA JUGA:  Usai Badai Siklon Seroja, Raja Dasion, Putra Lembata Raih Doktor di UGM

Dengan perasaan dicintai Tuhan, Romo Mudji menjalani panggilannya dengan gembira dan berusaha sedapat mungkin menjadi berkat bagi sesama.

Sketsa Romo Mudji untuk membangkitkan harapan.

Menurutnya, semua panggilan adalah jalan untuk menjadi berkat. “Jadi apa pun Anda, bagikanlah hidupmu menjadi berkat bagi sesama. Tingkat pendidikan dan daya intelektualitas setinggi apa pun, justru merupakan sarana untuk menjadi berkat,” kata Mudji mengingatkan.

Dalam upaya menjalani kehidupan, selain melalui karya pelayanannya sebagai seorang imam, Mudji juga merenungi dan menghayati kehidupannya dalam “kata-kata”. Menurutnya, kata-kata yang terolah dengan baik memiliki daya luar biasa untuk mengisi dan menghayati kehidupan. Kata-kata itu ia tuangkan dalam berbagai bentuk tulisan yang tersua dalam rupa buku, artikel, diktat ajar dan sebagainya. Tulisannya juga muncul dalam prosa dan puisi. Ketika ia merasa, pikiran dan perasaannya belum terwakili sepenuhnya, Mudji membuat sketsa.

“Dari pengalaman saya, banyak yang tidak tuntas dalam prosa dan essei, lalu saya buat puisi. Dalam masa pandemi ini, saya risau sekali. Banyak yang hanya tahunya mengeritik, maka saya terpanggil membuat doa dan sketsa yang saya sebarkan. Saya juga masuk dalam sebuah gerakan untuk meyakinkan orang bahwa kita tetap punya asa dan harapan ke depan”.

Kata Mudji lagi, di ujung lorong Covid-19 tetap ada sinar, dan kalau manusia menganggap matahari sebagai sumber kehidupan, yakinlah bahwa matahari itu pasti ada walau kadang tertutup awan atau mendung.  (EDL/tD)

 

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here