Dia Ibu Hebat dan Abadi

100
R.A Kartini, wanita inspiratif

Alfred B. Jogo Ena, Editor sekaligus mengelola penerbit Bajawa Press

 

“Tahukah engkau semboyanku? ‘Aku mau!’ Dua patah kata yang ringkas itu sudah beberapa kali mendukung dan membawa aku melintasi gunung keberatan dan kesusahan. Kata ‘Aku tiada dapat!’ melenyapkan rasa berani. Kalimat ‘Aku mau!’ membuat kita mudah mendaki puncak gunung.”

Kutipan di atas merupakan semboyan yang inspiratif dari RA Kartini, pejuang kebebasan perempuan Indonesia yang hari rayanya kita kenang setiap 21 April. Ibu Kartini menekankan betapa pentingnya memilih kata-kata positif dan konstruktif.  Pilihan kata bisa menentukan arah dan tujuan pencapaian kita. “Aku tidak dapat, melenyapkan rasa berani. Aku mau, membuat kita mudah  mendaki gunung.”

Kedua frasa ini – “aku tidak dapat” dan “aku mau” – seakan mewakili kita yang sering bersikap ambigu dengan diri sendiri. Di satu sisi kita suka katakan “tidak dapat”, tetapi di lain sisi kita menyatakan “aku mau”.

Dua sikap ini kadang menghambat kita untuk maju. Semboyan “aku mau” yang diwariskan Kartini sejatinya mengajak kita untuk selalu teguh dengan sikap diri untuk membiasakan dan menghidupi ungkapan “aku mau” dalam hidup kita.

R.A. Kartini yang lahir di Jepara 21 April 1879 dan meninggal dalam usia sangat muda pada 27 September 1904, adalah seorang putri pejuang emansipasi yang hebat. Meski dibesarkan dari keluarga ningrat Jawa, ia berjuang agar perempuan bisa menentukan hidupnya, termasuk pendidikannya. Perempuan bukan sekadar “konco wingking”, perempuan dianggap sebagai orang yang lemah sehingga harus selalu berlindung di balik atau di belakang suaminya.

Kartini, sebagai wanita cerdas dari keluarga terpandang. Ayahnya bernama Raden Mas Ario Adipati Sosroningrat, adalah Bupati Jepara masa Hindia Belanda. Karena kedudukan ayahnya, ia bisa menikmati pendidikan di Europeesche Lagere School (ELS), sekolah dasar berbahasa pengantar Bahasa Belanda. Suatu kesempatan yang sangat langka dimiliki dan dilewati oleh para perempuan seumuran dia di masa itu. Namun ketika ia sudah berusia dua belas tahun, dia tidak diperkenankan untuk sekolah lagi. Karena menurut tradisi pada masa itu, anak gadis yang sudah berusia 12 tahun sudah bisa dipingit atau dijodohkan. Kartini pun mengalami nasib yang sama.

BACA JUGA:  Euforia Masyarakat NTT: Terima Kasih, Bapa Presiden, Air Su Tambah Dekat

Sebagai gadis yang fasih berbahasa Belanda, Kartini rajin bersurat-suratan dengan teman-temannya di Belanda. Dan kumpulan surat-suratnya itu lalu diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang atau yang dalam Bahasa Belanda disebut Door Duisternis tot Licht. Buku ini amat fenomenal karena dari situ kita bisa mengetahui buah-buah pikiran Kartini tentang perjuangannya untuk memajukan perempuan sebangsanya.

Perjuangan Kartini begitu menginspirasi  banyak perempuan Indonesia, sehingga didirikan banyak sekolah Kartini di beberapa tempat seperti di Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun bahkan Cirebon.

Setiap orang memiliki jalan hidupnya sendiri. Dan di setiap perjalanan itu ia memiliki kisah dan pengalaman yang ditorehkan sebagai sebuah sejarah. Sejarah yang ditorehkan secara personal itu bisa dibagikan kepada orang lain berupa sebuah tulisan dalam rupa artikel atau buku. Kalaupun tidak dibagikan akan menjadi kisah kenangan pribadi yang dibawanya hingga akhir hidupnya di dunia. Kedua pilihan tetap sama-sama indah. Yang pertama keindahan dinikmati (dibaca) oleh orang lain. Yang kedua keindahan hanya dinikmati diri sendiri, bahkan tidak juga untuk orang-orang terdekat dan terkasihnya.

Pilihan berbagi atau tidak hanyalah sebuah opsi dari seluruh perjalanan hidup seseorang. Pramoedya Ananta Toer pernah menulis, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. … “ Menuliskan kisah hidup, sekalipun kelam dan sakit agar bisa dibaca oleh orang lain merupakan bagian dari panggilan sejarah. Ya sejarah untuk mewariskan butir-butir kebajikan dan pesan-pesan kehi-dupan yang bisa berguna bagi orang lain, sekalipun menyakitkan hati.

Pilihan untuk berbagi membutuhkan keberanian yang luar biasa dari dalam diri sendiri. Ya keberanian untuk melawan ego dan rasa malu untuk berbagi tentang segala kelemahan diri. Lagi-lagi Pramoedya pernah menulis demikian, “Dalam hidup kita, cuma satu yang kita punya, yaitu keberanian. Kalau tidak punya itu, lantas apa harga hidup kita ini?” Keberanian, suatu sikap dan semangat yang tidak dimiliki oleh banyak orang untuk dengan jujur menorehkan sejarahnya (termasuk yang kelam) kepada orang lain.

BACA JUGA:  Negara Hadir di Antara Korban Bencana di NTT

Tanpa keberanian, seperti kata Pramoedya “lantas apa harga hidup kita ini?” Sebuah tanya yang hanya bisa dijawab dengan sebuah disposisi batin ya mantap, “ya saya berani untuk menorehkan sejarah hidupku.”

Keberanian inilah yang mendorong Kartini untuk mendobrak kungkungan feodalisme masa itu. Keberanian inilah yang semestinya memotivasi kita yang hidup 142 tahun setelah kelahirannya atau 117 tahun setelah kematiannya. Dewasa ini kita sering mendengar istilah emansipasi Kartini. Lalu emansipasi macam apa yang cocok di era milenial ini, era yang bisa dikatakan “Habis Terang Terbitlah Kemilau”. Ya, kita sudah hidup di zaman terang ketika hampir semua anak sudah boleh menikmati pendidikan sejak usia dini. Zaman ketika segala kemajuan dan kemudahan menyertai kita. Zaman ketika segala sesuatu ada dalam genggaman kita (lewat HP dan Android). Apa yang pantas kita wariskan kepada anak cucu kita 117 atau 142 tahun ke depan?

Kiranya hari peringatan kelahiran Ibu Kartini mendorong kita untuk berimbang dalam bersikap sebagaimana yang ditulis oleh Pramoedya. “Kehidupan ini seimbang, Tuan. Barangsiapa hanya memandang pada keceriaannya saja, dia orang gila. Barangsiapa memandang pada penderitaannya saja, dia sakit.” Begitu juga dengan semboyan Kartini di awal tulisan ini; “Aku Mau.” Dengan semangat dan kemauan yang besar dari Kartini untuk berkolaborasi dengan para sahabat di Belanda melalui surat-suratnya untuk memajukan perempuan Indonesia, kita semestinya terdorong untuk berkolaborasi di zaman terang benderang ini untuk semakin memajukan dan mencerdaskan kehidupan sesama.

Selamat memperingati 142 tahun kelahiran Kartini. Semoga bangsa ini semakin banyak melahirkan Kartini masa kini yang mampu ikut menerangi kegelapan-kegelapan yang masih ada di sekitar kita.

Biarlah kita terus mewarisi semangat Kartini sebagai ibu hebat yang tak lekang oleh waktu, yang tak hilang oleh kemajuan peradaban, tetapi makin terus dikenang hingga abadi.

BACA JUGA:  Pak Victor Laiskodat, Mana Sikap Tegasmu? Korban Covid Makin Banyak!

 

Facebook Comments

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here