Puisi Weinata Sairin tentang Kartini-Kartini di Masa Pandemi

67
Perawat itu adalah perempuan, menyembuhkan dengan senyumnya.
Natalie Margareth, sosok perempuan mandiri, saat di Pulau Padar, NTT

KARTINI-KARTINI DI MASA PANDEMI

Kartini
priyayi kelahiran Jepara
lebih seabad yang lewat
bukanlah perempuan biasa
ia adalah sosok perempuan mandiri, visioner
berfikir out of the box di zamannya
ia adalah perempuan tangguh yang tak betah tinggal di zona nyaman
ia berontak terhadap kekinian zaman yang merantai perempuan dalam mimpi-mimpi melankolis tiada bertepi

Kartini sebab itu tak pernah mati
ia hidup terus menghidupi perempuan-perempuan Indonesia di segala zaman
menorehkan pemikiran cerdas bernas
mengusung obor penerang
menerobos kekelaman sejarah bangsa

di zaman pandemi
tatkala gempa dan bencana mendera
ketika kdrt merobek-robek
tubuh perempuan
dan menginjak-injak hati nuraninya
Kartini tetap hidup
melawan harapan-harapan yang redup

Kartini ada di segala tempat di berbagai level
ia memberi spirit bagi para perempuan
di garda depan :
ia ada di rumah sakit
ia ada di ruang igd, ruang icu,ruang hcu,
ia ada di kamar isolasi,
ia menyiapkan infus, tabung oksigen,ventilator
ia lakukan tes antigen, tes swab, vaksinasi
ia menolong warga yang diterjang banjir
yang terperosok ke dalam lumpur kematian
ia hadir di tenda pengungsi, di dapur umum

Kartini
ada di kabinet, di parlemen, di bumn, di kampus, di kementerian, di lembaga keagamaan, di sekolah, di lembaga pengawasan obat dan makanan, di partai politik,

Kartini menjadi lurah,bupati, walikota, tni, polri
Kartini tetap hidup
memberi kontribusi
dalam hidup membangsa dan menegara

Di hari kartini tahun ini
Kartini ada dan hidup, ia menorehkan sejarah bermakna
demi hadirnya NKRI yang adil, bersatu, berkeadaban
dan menghargai perempuan!

Jakarta, 21 April 2021/ 2.11

Facebook Comments

BACA JUGA:  Puisi-puisi Agust G. Thuru untuk Para Buruh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here