Puisi-puisi Pendeta Weinata Sairin tentang Hidup Tanpa Salib dan Sabtu Sunyi

43

TEMPUSDEI.ID (3 APRIL 2021)

TANPA SALIB ITU

Tanpa salib itu
tak bisa kubayangkan
bagaimana ku bisa hidup
merangkak
menapaki jalan setapak
menghadapi badai
mengguncang garang
melawan turbulensi memecah awan kelam

Tanpa salib itu
ku tak mungkin
bertahan didera derita
yang membawa tubuhku ke puskesmas, rumah sakit
ke IGD atau ICU
sesak nafas, pneumoni, asthma bronchiale yang kadang datang menyerang
melahirkan kecemasan dan anxietas tiada
berujung

Tanpa salib itu
mungkin aku tidak lagi ada
sebagaimana aku ada di kekinian

Tanpa salib itu
aku hanya sebuah nama tanpa makna

Dengan salib itu
kumampu bernafas lega
kumampu bersuara lantang
menggemakan suara suara-profetis

Dengan salib itu
kumampu menolak pelanggaran HAM, diskriminasi, sara, KDRT, kekerasan terhadap anak

Dengan salib itu
ku akan berjuang terus melawan korupsi
melawan pelanggaran kebebasan beragama
Dengan inspirasi dan kekuatan salib
ku ingin terus berkontribusi membangun bangsa
menuju Indonesia berkeadaban dan ber-habitus baru!

Jakarta, 2 April 2021/5.30

MERENUNGI SABTU SUNYI

Sabtu sunyi hadir
bersama hujan deras dan halilintar menggelegar
petir dan gelegak air membanjir
seakan merobek Sabtu sunyi

Di Sabtu sunyi
ada sepi mencekam
di Sabtu sunyi
ada kebuntuan harapan

Ku duduk bersimpuh di depan mimbar
ranting-ranting kering terlihat terserak menyekitari mimbar
suasana sepi
nir suara

Penyaliban Yesus
adalah episode tergelap dalam sejarah umat manusia
kematian Yesus adalah bagian terburuk dari peradaban manusia

Manusia fana
menorehkan dosa
yang merusak citra Imago Dei
kemuliaan manusia dibangun kembali melalui penderitaan, kematian dan kebangkitan yesus

Di Sabtu sunyi
manusia merenungi semua aib dan noda yang mewarnai kediriannya
di Sabtu sunyi
manusia
mengingat ulang karya Yesus yang membarui kemanusiaan manusia

BACA JUGA:  Puisi Weinata Sairin tentang Yesus dan Salib-Nya

Di Sabtu sunyi
ku duduk bersimpuh di depan mimbar
dalam lilitan sepi
kubayangkan Yesus dengan jubah putih penuh kemilau
memegang tanganku lembut
sambil berkata:
“Anakku, bangkitlah dengan tubuh dan roh yang baru,
taburkan cinta kasih di dunia yang terluka
wujudkan habitus baru
tanpa lelah dan jemu!”

Jakarta 3 April 2020/2.55

Weinata Sairin adalah Teolog dan pendeta

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here