Puisi-puisi Yogen Sogen:  Refleksi Trihari Suci Paskah

67
Yogen

TEMPUSDEI.ID (2 APRIL 2021)

KAMIS PUTIH

Inilah Tubuh-Ku, inilah Darah-Ku

Sebab anak manusia akan menjadi gandum
dalam ingauan panjang ilalang dikebas angin jumawa
Sebab hari nan panjang
memiliki rahim waktu
Ia akan mengiris desing detik
kemudian menggelepar di tanganmu
Waktu kian mencekam
Mata-mata menjadi pisau
Menyibak setiap pertanyaan yang mendekam dalam pusaran sabda-Nya
pada pukul yang semestinya
Kehidupan adalah serupa roti yang terbelah
Ia akan menjadi sejarah dalam setiap perjamuan
Kepingan kenangan yang begitu puitik adalah
pemberian, penyerahan dan keikhlasan atas nama cinta

JUMAT AGUNG

Kata-kata adalah pembunuh paling berbisa
Kata-kata ada dalam setiap ruang penyangkalan manusia
Kadang kebaikan yang dipentaskan pada setiap persinggahan serupa bukit tengkorak
Ia menggerogoti setiap kedewasaan ruang pikir manusia kemudian berubah menjadi dialog hitam dalam kerajaan kebencian
Kota dan manusia terlanjur berdebat dalam babak kecurigaan
Menelanjangi ruang moralitas
kemudian waktu menjelma menjadi tiang penyaliban
Kebaikan sejenak menjadi sejarah basi, terbakar pada tungku kematian
Kita kadang seperti Golgota yang mencekam dan pembunuh paling belati
Melanggengkan kekuasaan
Membelenggu sistem dan norma
Menjual manusia tanpa sedikitpun berdialog dengan rasa kemanusiaan
Kemudian dalam sebuah laku perjalanan
Kita sama menikam,
Dan ruang kecemburuan atas nama kekuasaan yang kian merengek
Sebuah nada tanpa rasa dosa terucap
Salibkanlah Dia

SABTU SUCI

Tak ada kepergian yang menelanjangi puisi kepulangan
dan tak ada manusia yang terkubur dalam sejarah kekalahan
Jalan manusia selalu ada untuk kembali
Tapak hidup tak pernah membiarkan tangan-tangan kesedihan mencakar tanpa mata
Seperti kerinduan anak manusia memeluk kasih ibunya
Seperti lilin malam paskah yang menyublim senyummu di antara kegelapan
Yesus Kristus adalah guru kemenangan paling bermakna
Jika jalan terjal acap menyalib puisi hidupmu
berhentilah sejenak untuk membasuh tapak jalanmu
karena setiap tatapan selalu menyediakan cermin nasib
hingga ruang sadarmu berakhir dalam sengketa kecemburuan hidup menggelamkan dendam dari segala yang fana
Kemenangan itu mahal harganya
jika kesetiaan memanggul salib hidup
terus benderang dalam hatimu

BACA JUGA:  Puisi-puisi Pendeta Weinata Sairin tentang Hujan, Korupsi dan Korona

Bogor, 2018

Yogen Sogen adalah penulis Buku Nyanyian Savana & Di Jakarta Tuhan Diburu dan Dibunuh, Jaringan Milenial Nusantara

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here