JALAN SALIB: JALAN MENUJU KEMULIAAN

67
Pater Remmy Sila, CSsR

Oleh Pater Remmy Sila, CSsR, Superior Samoa, Provinsi Redemptoris Oceania

 

TEMPUSDEI.ID (21 MARET 2021)

Kita semakin dekat dengan tujuan perjalanan iman kita dan saat-saat terpenting sepanjang masa Prapaskah. Kenyataan ini tercermin dalam semua bacaan pada hari ini. Kristus siap menawarkan segalanya untuk keselamatan kita. Karena itu kita pun harus rela mempersembahkan segalanya untuk Dia dan untuk orang lain.

Bacaan pertama dari Yeremia 31: 31-34, merupakan jaminan keselamatan dari Allah bagi bangsa Israel dan juga bagi kita melalui suatu perjanjian baru yang tidak ditulis dalah loh batu tetapi ditulis dalam hati manusia. kehadiran Allah yang terus menerus bersama kita. Hal ini juga mengingatkan kita tentang hal baru yang akan Tuhan lakukan di tengah-tengah kita: “Aku akan mengadakan perjanjian baru dengan kaum Israel dan kaum Yehuda, bukan seperti perjanjian yang telah Kuadakan dengan nenek moyang mereka pada waktu Aku memegang tangan mereka untuk membawa mereka keluar dari tanah Mesir… Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka; maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku.”

Dalam perjanjian baru ini Tuhan mengesampingkan hubungan yang dihancurkan oleh pengingkaran dan ketidaksetiaan pada perjanjian lama. Dia ingin memulihkan hubungan dengan umat-Nya lewat sebuah perjanjian baru.

Maka dari pihak kita sendiri, kita harus siap menerima perjanjian baru ini dengan hati terbuka. Perjanjian baru ini menawarkan kehidupan baru dan keselamatan kekal kepada kita di dalam Kristus Yesus, putera tunggal-Nya yang terkasih.

Oleh karena itu, dalam bacaan kedua hari ini dari Ibrani 5: 7-9, kita diingatkan peristiwa ketika Yesus berdoa di taman Getsemani menjelang sengsara dan kematian-Nya. Kisah ini mengingatkan kita pada kegelisahan dan ketakutan Yesus sebagai Anak Manusia dan kesetiaan dan ketaatan-Nya sebagai Anak Allah. Kristus memilih taat kepada kehendak Bapa-Nya dan bersedia menderita dan mati di kayu salib demi menyelamatkan umat manusia dari kematian kekal.

BACA JUGA:  Hidup kita adalah Pelangi

Dari pengalaman pergulatan Yesus dalam doa-Nya di Taman Getsemani, kita diharapkan menemukan keberanian baru untuk terus maju tanpa menyerah di tengah pencobaan, penganiayaan, dan bahkan keraguan iman kita. Juga, kita harus belajar dari pengalaman-Nya bahwa penderitaan itu perlu dan tak terhindarkan dalam hidup seorang beriman. Kita harus yakin bahwa iman  kita dimurnikan dan  disempurnakan melalui tantangan dan penderitaan hidup.

Sementara bacaan Injil Yohanes 12: 20-33 mendekatkan kita ke tujuan perjalanan rohani kita di masa Prapaskah ini. Kristus sendiri memberi tahu kita: “Telah tiba saatnya Anak Manusia dimuliakan.” Sesungguhnya Yesus akan ditangkap, disiksa, dihukum mati dengan cara disalibkan, namun Dia berbicara tentang kemuliaan-Nya. Melalui pernyataan ini Yesus ingin mengajak kita untuk tidak hanya berfokus pada tantangan, kesulitan dan penderitaan yang kita alami tetapi hendaknya kita juga mampu melihat jauh ke depan tentang harapan baru dan kemenangan yang selalu disediakan Allah bagi orang yang tabah dan setia.

Yesus menyadari dan mengetahui bahwa penderitaan dan kematian-Nya akan memulihkan kehidupan banyak orang. Maka, daripada hanya berputus asa oleh situasi penderitaan sementara, dia terdorong oleh pahala yang luar biasa dan agung berupa kehidupan kekal. Oleh karena itu, Kristus mempersembahkan penderitaan dan hidup-Nya untuk memulihkan perjanjian yang telah diingkari dan memenangkan kehidupan kekal bagi semua orang yang percaya kepada-Nya. Oleh karena itu, Ia berkata: “Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.”

Hanya sayangnya bahwa banyak dari kita yang tidak ingin mengikuti atau tidak menyukai jalan salib dan jalan penderitaan sebagai jalan menuju kehidupan dan kemuliaan kekal. Banyak orang yang lebih suka memilih jalan pintas dan mennyenangkan namun justru berakhir sedih dan memprihatinkan.

BACA JUGA:  Kardinal Suharyo pada Hari Pentakosta: Jangan jadi Gereja yang Mandeg

 Oleh karena itu, Yesus pada kesempatan ini sekali mengundang kita untuk memanggul salib kehidupan kita dan berjuang untuk setia dan tetap tetap kuat dalam menapaki jalan kehidupan kita yang terjal dan berliku, penuh tantangan, cobaan, ujian dan penderitaan. Dia ingin agar kekal kita bersama Dia dalam kemuliaan-Nya. Kita pun harus siap mati seperti biji gandum untuk bisa menghasilkan panenan yang melimpah. Kita harus siap menderita dan mati seperti Kristus agar bisa masuk dalam kemuliaan kekal. Tentu saja kita tidak harus mati dengan menumpahkan darah dan mengorbankan nyawa.

Secara sederhana kita bisa mati secara simbolik dengan penyangkalan diri dengan berani mengatakan tidak pada godaan setan, dengan berani berkorban untuk membela kebenaran dan keadilan, dengan berani hidup hidup sederhana demi menghindarkan diri dari godaan untuk korupsi atau menyalahgunakan keuangan komunitas atau paroki, dan sebagainya.

Kematian secara simbolik ini harus terjadi setiap hari dan setiap saat dalam hidup kita. Kematian-kematian secara sederhana namun tidak gampang dalam praktek ini dapat membantu kita memurnikan dan memperkuat iman kita dalam melanjutkan perjalanan rohani kita menuju kehidupan dan kemuliaan kekal. Penderitaan dan kematian Kristus sendiri adalah teladan sekaligus jaminan bagi kita dalam mengikuti Dia di jalan salib-Nya menuju kemuliaan-Nya.

Oleh karena itu, marilah kita setia mengikuti Yesus dan setia memanggul salib kehidupan kita sampai akhir kalau kita ingin memiliki kehidupan yang kekal dan ikut menikmati kemuliaan Kristus di rumah Bapa-Nya.

Tuhan memberkati.

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here